Program Berita Musik

Menelisik Media dan Jurnalis Musik sebagai Aktor Utama dalam Berita Musik

  • By: NND
  • Senin, 1 April 2019
  • 347 Views
  • 0 Likes
  • 0 Shares

Musik, sebagai bagian dari kebudayaan manusia, tentu terasa wajar jika memang memiliki daya tarik. Bisa diinterpretasikan secara beragam dari tiap individu yang ada, musik tentu menjadi sebuah aspek yang memiliki nilai berharga—atau setidaknya begitulah jadinya untuk beberapa orang yang memang menikmatinya. Menelisik perihal “menikmatinya” tidak mungkin bisa dibahas dengan semudah itu, terdapat sejumlah jenis dan ragam musik yang entah berapa banyaknya, mulai dari jazz sampai metal dan semua yang ditengahnya—juga selebihnya. Percayalah, musik itu banyak, dan kita para pendengar, membutuhkan bantuan; bantuan untuk mengetahui rilisan baru, bantuan untuk mencari musik baru, bantuan untuk membangun pendapat kita terhadap karya musik, hingga bantuan untuk sekedar diberi asupan informasi yang penting dan tidak perihal musik. Intinya, musik itu luas dan kita butuh sebuah wadah yang menampung keluasan itu dan menyaringnya, sehingga masuknya mulus ke tiap-tiap kita.

Lalu apa wujudnya si wadah itu? Apa lagi, selain program berita musik. Ya, sudah seperti yang lain-lain, musik memang butuh diberitakan, butuh disokong dan diliput oleh media—baik cetak, digital, gelombang radio, televisi, yang dimotorkan oleh pegiat gerakan bawah tanah, ataupun yang berseluncur di alur utama. Berita musik itu signifikan dengan para penikmat musik, dan hampir bisa dipastikan bahwa berita musik itu pula dijalankan oleh lakon-lakon yang cinta mati dengan musik.

Media merupakan entitas yang paling mudah untuk dikaitkan dengan program berita musik. Fokus menyajikan berita yang memang selaras dengan bahasanya, media yang bergerak dalam ranah musik kerap mengupas, mengulas, menguak, dan memuji—bahkan tak jarang juga mencela musik-musik yang beredar serta para musisinya. Berikut kami sajikan beberapa contoh media musik yang berpengaruh dalam kancah permusikan global.

Rolling Stone Magazine

Saya rasa sample paling mudah untuk dipanggungkan sebagai contoh adalah Rolling Stone Magazine, untuk yang tidak menggiati musik saja nama Rolling Stone sudah tidak asing. Majalah musik yang didirikan oleh Jann Wenner dan Ralph J. Gleason di San Francisco pada tahun 1967 merupakan sebuah majalah kultur pop bulanan yang sudah cukup panjang usianya. Tiap bulannya, dan terkhususkan dalam kolom musiknya; majalah ini menyugguhkan berita musik, resensi album, kritik pedas, ataupun feature dari penulis-penulis kawakan yang apik. Hadir diantara para dedengkot-dedengkot peruntut kata tersebut, nama-nama seperti Lester Bangs, yang mulutnya enggan dirantai, atau Greil Marcus yang pintarnya bukan main. Awalnya terkenal melalui tulisan-tulisan musiknya—dan juga kolom politik oleh Sang pionir jurnalisme gonzo sendiri, Hunter S. Thompson, Rolling Stone terus konsisten dengan identitasnya sebagai pengumpan yang akurat dalam informasi kultur populer yang sedang deras arusnya dalam kehidupan manusia.

Dari Tahun berdirinya hingga sekarang, Rolling Stone masih aktif meluncurkan edisi demi edisi tiap bulannya. Bahkan, redaksinya sudah meluas hingga memiliki kantor dan tim sendiri untuk tiap-tiap negara. Indonesia sendiri sempat diberkati dengan pasangnya ombak majalah ini dalam membantu mendefinisikan kultur populer—terutama musik, di bawah kata-kata yang dinaungi oleh Adib Hidayat, Ricky Siahaan, Wendi Putranto, Soleh Solihun, ataupun Denny Sakrie.

Naasnya, bagi RSI (Rolling Stone Indonesia) perkembangan teknologi yang menggeser media cetak karena maraknya pengguna gadget menjadi tikaman yang berujung kepada matinya media tersebut. RSI resmi gulung tikar dan menyatakan tidak akan menerbitkan lagi edisinya terhitung mulai dari Januari 2018. Tidak jauh berbeda dengan nama-nama besar dalam media cetak musik lainnya, perputaran budaya menjadi yang lebih praktis via teknologi menjadi ahkir dari majalah ini.

CREEM

Portal berita musik yang satu ini juga merupakan sebuah majalah yang namanya sudah melegenda. Berasal dari Detroit, Barry Kramer—seorang promotor konser amatir—mendirikan majalah ini sebagai reaksi terhadap sulitnya mendapatkan review konser yang digarapnya. CREEM menjajal namanya dari permainan kata yang terinspirasi oleh band Cream. Majalah ini disandang sebagai sebuah majalah yang mempopulerkan instilah punk rock dan gerakan new wave, dimana perang Lester Bangs sangat besar dalam perihal tersebut. Ya, Bangs juga menulis untuk CREEM. Justru, hatinya bisa dikatakan lebih kuat mencintai CREEM dan Detroit ketimbang Rolling Stone, Bangs menyatakan dirinya jatuh cinta dengan kota Detroit dan berkata bahwa Detroit merupakan “harapan terakhir bagi musik rock.

Majalah ini memberikan eksposur yang besar kepada nama-nama seperti Lou Reed, Bowie, Blondie dan masih banyak lagi. Selain itu, sejarah mencatat bahwa majalah CREEM merupakan salah satu majalah awal yang memuji aksi-aksi musik metal seperti Motorhead, KISS, Judas Priest dan Van Halen.

Dapat dibayangkan melalui kasus ini, bagaimana sebuah program berita musik dapat membentuk cara pikir, sudut pandang, dan membangun opini yang kemudian berimbas kepada tumbuh kembangnya sebuah aliran musik. Cubit punk rock dalam mengupas perkara ini, bisa dibilang bahwa CREEM telah berhasil mendobrak laju musik punk rock melalui pengelompokan menggunakan “term” atau istilah untuk menciptakan nama yang kemudian dinobatkan kepada sekelompok musisi yang berujung pada sebuah subgenre baru. Bayangkan, seberapa tertolongnya para musisi yang mengusung musik tersebut ketika pengelompokan itu pertama kali diserap oleh masyarakat? Ketika struktur dan cara berpikir baru yang lebih lugas dalam menyikapi musik tersebut diterapkan oleh masyarakat melalui opini dan gagasan yang dimuat dalam sebuah program berita musik berjalan seperti ini, hal tersebut bisa saja menjadi sebuah titik penting dalam sejerah musik; sama halnya dengan CREEM dan kultur musik punk dan rock sekalipun.

Namun, umurnya tidak sekekal Rolling Stone. Pada tahun 1988, CREEM menyatakan bangkrut. Sempat diborong oleh pemodal lainnya pada tahun 1990, nafas CREEM tidak berhembus lama dan kemudian kembali bertemu dengan ajalnya.

New Musical Express (NME)

Besutan negara Inggris, pada awalnya NME merupakan sebuah koran, yang dengan seiring berjalannya waktu, berubah wujud menjadi majalah. NME juga kerap diasosiasikan dengan jurnalisme gonzo pada era awal hingga pertengahan 70-an, meliput gerakan-gerakan punk rock melalui hasil pena Julie Burchill, Paul Morley dan Tony Parsons.

Sebagai sebuah program berita musik, NME merupakan sebuah entitas yang tidak malu untuk beradaptasi. Hal ini dibuktikan dari perubahan-perubahan wujud mereka seiring berkembangnya zaman. Diawali sebagai sebuah koran dari awal terbentuknya pada tahun 1957 hingga perubahan formatnya ke arah tabloid pada tahun 80-an dan 90-an, perubahan resmi menjadi tabloid hadir pada tahun 1998. Menariknya, NME sudah mulai melepas publiksi digitalnya terhitung sejak tahun 1996, menjadikanya website khusus musik terbesar di Internet pada masanya. Akhirnya, pada bulan Maret tahun lalu, NME memberhentikan publikasi cetaknya dan fokus dengan wujud digitalnya.

Sebagai sebuah media besar yang kepak sayapnya itu menaungi Britania Raya, peran-peran NME dalam menyajikan berita seputar musik menjadi krusial. Meski tidak mudah, alias sempat juga dihadapkan dengan situasi buruk, NME tetap menjadi sebuah media yang relevan hingga dewasa ini. Eksistensi yang tetap kuat terjaga akibat perubahan format mereka kedalam bentuk digital memastikan pasar yang sudah kuat dari perjalanan waktu mereka yang panjang. Coba saja pantau berita-berita musik media internasional, yakin pasti akan muncul NME dalam daftar pencarian kalian.

Pergerakan fanzine sebagai saluran mikro yang “segmented” dan intim

Setelah membahas tiga contoh nama besar media musik yang sudah tidak asing, sekarang kita akan memasuki ranah media yang kerap tidak terdengar oleh orang luas. Mengapa? Karena memang penyajian dan target market yang diincar tidak disetir kearah pasaran yang luas. Fanzine, pada konteks paling mendasarnya, adalah sebuah media cetak yang diproduksi secara terbatas dan dijalankan oleh kelompok individu yang memiliki satu pandangan yang seirama. Biasanya bermunculan dalam skena-skena lokal yang kecil, fanzine digarap untuk meningkatkan penyebaran musisi-musisi lokal tempat mereka berdomisili. Meski tidak se-relevan dengan saingan arus utamanya, fanzine yang biasanya digilas habis-habisan dengan konsep DIY ini menyajikan kita informasi-informasi yang lebih mendalam seputar band-band yang masih memanjat.

Dalam musik, genre punk merupakan genre musik yang pengikutnya paling sering menelurkan fanzine. Subkultur punk di Britania Raya merupakan ujung tombak dalam mendongkrak antusiasme fanzine. Berbekal semangat kultur tandingan untuk melawan media arus utama, fanzine-fanzine seperti Sniffin’ Glue bangkit membuktikan eksistensinya di tengah kalangan mereka.

Di negara paman sam, terdapat sejumlah nama-nama fanzine yang merayap keluar pada pertengahan tahun 70an setelah kehadiran musik dengan istilah “punk rock” yang dimajukan CREEM beberapa tahun silam. Kelahiran musik tersebut—disokong dengan kebangkitan ulangnya pada era 80-an ahkir, memberikan nafas panjang bagi fanzine yang serius menggarap media mereka. Muncul tabloid macam Maximum RocknRoll yang pengaruhnya besar dalam perkembangan musik tersebut. Fenomena yang terjadi dengan musik punk rock itu juga menggiring salah satu pioner fanzine AS kala itu, Search and Destroy, menjadi sebuah media mapan dan resmi yang berganti nama menjadi Re/Search.

Membahas fanzine, informasi yang disaji itu intim—datang langsung kehalaman tabloid karena kedekatan sang penulis dengan subyeknya. Biasanya disematkan juga konten-konten eksperimental, pembagian playlist melalui fanzine, dan semacamnya. Pergerakan fanzine patut dinilai sebagai sebuah pergerakan yang mulai. Kalau-kalau memang tidak memuat konten yang se-mulia-itu, setidaknya fanzine disetir dengan kesadaran dan kecintaan terhadap musik dan budaya dari skena tiap-tiap pembesutnya. Itu, setidaknnya, merupakan sebuah poin plus dalam konteks pembahasan program berita musik.

Jurnalis musik, aktor yang berperang di garis depan

Jurnalis musik juga merupakan sebuah aktor yang menyandang peranan besar dalam keberlangsungan program berita musik. Mereka adalah orang dibalik kata-kata, suara, gambar bergerak, ataupun apapun medium berita itu disalurkan. Media memang wadah, kita paham itu. Namun, sebagai sebuah wadah yang menyalurkan berita langsung ke depan mata para pengikutnya, maka jurnalis merupakan prajurit garda depan yang turun langsung dan menyortir informasi-informasi itu. Jika berita musik itu adalah sebuah makanan, maka dengan aman dapat kita nyatakan bahwa jurnalis musik merupakan dapurnya. Mereka merupakan orang yang menyaring apa yang akan kita cerna nantinya; opini, selera, dan ketajaman merekalah yang menjadi alat utama bagi para media untuk melibas bahan-bahan berita menjadi sebuah produk siap saji yang nantinya dibagikan kepada masyarakat luas.

Lester Bangs

Contohkan lagi melalui Lester Bangs, perkataanya yang semena-mena dan kritik pedasnya itu sering membuat orang lain jengkel, namun tidak bisa dipungkiri seberapa besar pengaruhnya dalam mendongkrak media macam CREEM kala itu. Tulisan yang jujur, mendalam, dan dapat menangkap keseluruhan bahasannya menjadikannya sebuah tenaga yang langka dalam pergerakan jurnalisme musik secara keseluruhan. Tidak hanya Bangs, ada nama-nama lain yang berhasil mencetak namanya sebagai yang terbaik dalam kelasnya.

Menutup bahasan ini, media—dalam segala bentuknya—merupakan sumber dari program berita musik. Laju permusikan dan segala macam informasinya bisa kita peroleh dengan menyimak media-media yang ada. Perlu diingat, kehadiran media bukan saja membawa kebaikan yang terkhususkan untuk para penikmat musik, namun juga untuk para pelakunya juga. Baik itu musisi, promotor, owner lapak musik, ataupun apapun itu bidangnya dalam musik; media merupakan sebuah aset yang tidak bisa tergantikan. Makanya, ikuti terus SUPERMUSIC untuk dapatkan program berita musik yang terkini, serta informasi terkait lainnya yang berada di bawah bayang musik, budaya, dan lifestyle.

Foto: uDiscovermusic.

0 COMMENTS

Info Terkait

supernoize
3016 views
superbuzz
502 views