Arch Enemy

Menilik Perjalanan Arch Enemy Melalui Kisah di balik Rilisannya

  • By:
  • Minggu, 29 November 2020
  • 303 Views
  • 0 Likes
  • 0 Shares

Tanpa disangka, negara-negara Skandinavia yang terkenal memiliki citra kalem dan santai ternyata memiliki kumpulan musisi death metal yang sangar dan cenderung bertolak belakang dengan citra tersebut. Salah satunya adalah Arch Enemy dari Swedia. Terbentuk pada tahun 1995. Arch Enemy merupakan sebuah band yang masuk ke dalam kategori supergroup. Kategori ini merupakan sebuah istilah yang menjelaskan bahwa Arch Enemy dibangun atau didirikan oleh para anggota kelompok musik yang berbeda namun memiliki kualitas serta tingkat popularitas yang cukup tinggi. Arch Enemy didirikan oleh para anggota yang tergabung dari Carcass, Armageddon, Carnage, Mercyful Fate, Spiritual Beggars, The Agonist, Nevermore, dan Eucharist. Ide terbentuknya Arch Enemy hadir dari Michael Arnott yang lebih dulu bergabung di dalam Carcass serta Johan Liiva yang kala itu merupakan anggota dari Carnage.

Dari dua orang tersebut, formasi Arch Enemy pada awal kelahirannya dilengkapi oleh kehadiran Christopher Arnott yang pernah bergabung di Armageddon dan merupakan adik dari Michael Arnott beserta Daniel Erlandsson dari Eucharist. Formasi ini melahirkan sebuah album yang juga jadi kumpulan karya perdana bagi Arch Enemy berjudul Black Earth. Album perdana dari Arch Enemy ini lahir satu tahun setelah terbentuknya band death metal asal Swedia tersebut. Kehadiran albumnya tersebut cukup membawa dampak positif untuk nama Arch Enemy berkat berhasil menembus pasar musik di Jepang secara baik dan juga mendapatkan kesempatan diputarnya single Bury Me an Angel di MTV. Meskipun terbilang sukses, nama Arch Enemy masih dianggap sebagai sebuah band yang asing.

Berangkat dari motivasi Arch Enemy untuk dapat mencakup audiens yang lebih luas, terutama di Eropa dan Amerika Serikat, di tahun 1998 mereka kembali dengan album terbarunya berjudul Stigmata. Pada album ini, Arch Enemy pun kedatangan dua orang anggota baru, yakni Martin Bengtsson sebagai pemain bass Peter Wildoer sebagai penabuh drum. Dengan formasi yang lebih kuat, nyatanya album kedua tersebut mampu membuat nama Arch Enemy menembus pasar musik metal di Amerika Serikat serta Eropa. Menurut beberapa kritik musik metal mancanegara, album ini secara keseluruhan menawarkan kualitas yang lebih baik dibanding album sebelumnya. Permainan musik dari setiap anggota Arch Enemy juga terdengar cukup eksploratif namun masih memiliki kesan yang cukup familiar bagi telinga orang-orang kebanyakan. Komposisi yang rapi, matang, serta garang jadi pembuktian Arch Enemy bahwa mereka merupakan salah satu band metal yang berkualitas di dunia.

Kesuksesan yang didapat pada album kedua tersebut nyatanya tidak menyelamatkan formasi Arch Enemy kala itu. Sharlee D'Angelo hadir menggantikan posisi yang ditinggalkan Martin Bengtsson sebagai pemain bass dan Daniel Erlandsson kembali masuk sebagai pemain drum di dalam tubuh Arch Enemy. Perombakan anggota di dalam tubuh Arch Enemy tersebut juga menjadi penanda lahirnya album ketiga berjudul Burning Bridges di tahun 1999. Mengetahui para penikmat death metal di Jepang cukup menggemari keberadaan Arch Enemy, mereka memasukkan negara matahari terbit tersebut ke dalam rangkaian tur untuk promosi Burning Bridges. Sesaat melaksanakan tur di Jepang, Arch Enemy juga merekam permainan mereka selama di Jepang sehingga menghadirkan album live perdana berjudul Burning Japan Live 1999. Album Burning Bridges dari Arch Enemy juga jadi kenang-kenangan terakhir dari Johan Liiva yang memutuskan untuk keluar di tahun 2000. Posisi yang ditinggalkan oleh pendirinya tersebut segera diisi Angela Gossow, seorang vokalis death metal asal Jerman.

Bersama Angela Gossow, Arch Enemy menelurkan sebuah album berjudul Wages of Sin di tahun 2001. Dengan rilisnya album keempat tersebut, Arch Enemy juga kembali bertandang ke Jepang untuk tampil di atas panggung konser Japan's Beast Feast 2002. Selain Arch Enemy, nama-nama besar di dunia metal seperti Slayer dan Motorhead juga ikut memeriahkan gelaran tersebut. Selanjutnya di tahun 2003. Arch Enemy merilis Anthems of Emotions sebagai daftar album kelima yang telah dirilisnya. Hingga saat perilisannya, Arch Enemy juga dikenal sebagai salah satu band yang cukup aktif dalam merilis karya-karya. Pada album ini Arch Enemy melakukan eksperimen pada komposisi vokalnya dengan cara menambahkan efek harmoni pada vokal Angela Gossow. Efek tersebut menghadirkan suara vokal yang lebih tebal dan mengalun bersama musiknya dengan padat. Aplikasi efek harmoni tersebut bisa didengar secara optimal melalui lagu End of the Line dan Dehumanization

Di tahun yang sama, seakan tidak ada habisnya akal untuk tetap menjadi kreatif, Arch Enemy merilis sebuah mini album berjudul Dead Eyes See No Future. Pada album ini, Arch Enemy memberi kesempatan para penikmat musiknya untuk mendengarkan lagu-lagu andalan mereka yang direkam secara live serta hasil rekaman lagu cover dari berbagai band ternama, seperti Manowar, Megadeth and Carcass. Di tahun berikutnya, Arch Enemy kembali mampir ke Jepang untuk melaksanakan tur konsernya.


Di tahun 2005, setelah merilis album keenamnya, Doomsday Machine, Arch Enemy harus kembali rela kehilangan salah satu anggotanya yang telah bersama sejak kali pertama. Christopher Arnott harus mengundurkan diri sejenak dari Arch Enemy dengan alasan masalah pribadi dan baru kembali dua tahun setelahnya, yakni pada tahun 2007. Semasa perginya Christopher Arnott, Arch Enemy mengajak Gus G yang akhirnya digantikan oleh Fredrik Åkesson. Kembalinya Christopher Arnott ke dalam tubuh Arch Enemy ditandai dengan aktivitas band tersebut untuk kembali ke dapur rekaman. Hingga saat ini, Arch Enemy telah merilis 10 album termasuk album Will to Power yang mereka rilis di tahun 2017.

0 COMMENTS