bapak.

‘Miasma Tahun Asu’, Eksperimentasi Rock (Tak) Seutuhnya dari BAPAK.

  • By: NND
  • Senin, 17 August 2020
  • 693 Views
  • 2 Likes
  • 0 Shares

BAPAK. adalah proyek terbaru yang keluar dari dapur kreatif musisi muda Kareem Soenharjo, sosok yang sebelumnya dikenal melalui aksi hip-hop dari moniker BAP. serta alunan musik instrumental dari proyek Yosugi miliknya. Berbeda dengan dua proyek tersebut, BAPAK. maju dengan musik yang lebih liar: rock eksperimental yang meramu banyak pakem musik ke dalamnya, menjadikannya sebuah proyek yang memiliki lapangan bermain nan luas.

Adapun Alfath (Flowr Pit), Kevin (whoosah), dan Bagas (Tarrkam) sebagai personel yang digaet Kareem untuk mematenkan karya-karya BAPAK., yang kemudian menelurkan sebuah album penuh pada 12 Agustus 2020 kemarin. Judulnya Miasma Tahun Asu, dan ia pun mampu menampilkan ke-elektikan musiknya dengan andal. Intensitas hardcore/post-hardcore bersatu dengan kompleksitas jazz, alunan blues, denting dan raungan noise, hingga ketukan-ketukan presisi ala math rock; semua itu dapat dijumpai dalam Miasma Tahun Asu.

Skema aransemen ini pun digunakan untuk menggurat sketsa seputar tahun 2020 yang jadi mahligai keresahan. Semester pertama tahun ini diisi dengan banyak fenomena yang merubah kehidupan masyarakat secara luas. Tak aneh kita pun dipacu untuk keluar dari zona nyaman, terpaksa beradaptasi dan mensiasati segala perubahan yang terjadi. Itu pula yang jadi celah bagi sederet keresahan, refleksi, dan keadaan baru untuk hadir dan bersarang. Barangkali, Miasma Tahun Asu jadi terjemahan sonik atas semua premis tersebut. Ia menjadi upaya yang terkesan jujur–diolah mentah tanpa perlu pemanis buatan.

Disambut dengan “Black Heron Intro”, adalah lima menit yang membuka albumnya dengan instrumental minimalis, lalu menjungkir jadi nomor yang belingsatan. Babak awal energetik itupun dilanjutkan dengan single “Jon Devoight” selaku track terpanjang dalam album ini. Lagunya berisikan aransemen yang saling kejar-kejaran. High-intense, merusuh, dan berkemelut—sebuah peleburan dan eksperimentasi yang memangku watak keganasan dengan pola presisi dan ketukan jazz yang lincah. “Pity me” (I Long for Thee) membuka sisi halus dari albumnya, menghadirkan ambient sintetis ala NIN yang terkesan penuh ruang, lalu dilanjutkan oleh “Dogma Milenial Provinsi Yggdrasil” yang datang menampik. Raungan nada-nada sumbang ala Daughters di awal terkesan degil, lalu meluncur jadi nomor distortion driven yang penuh dengan gimmick elektrik sebelum tancap gas menuju lantunan punk ngebut yang memacu kepalan tangan.

Tiba pada “Hijrah (A Song for Grandmother as She Travels Beyond), pendengar diberikan tritmen akustik yang masih lekat dengan kemuraman, disambut terpaan halus horns di akhir tracknya. “Orpheus LIVE From The Underworld” hadir setelahnya, membeberkan nuansa noir melalui dentingan piano berlapis sampling dan pondasi aransemen mengawang yang sejenak mengingatkan kita pada lagu-lagu King Krule. Melaluinya, gitar kembali diberi panggung, yang juga melanjutkan pendar merusuh di akhir lagu. “An Angel at My Table I” jadi nomor akustik kedua di Miasma Tahun Asu, disajikan lebih halus dengan vokal musisi soul/RnB Regina Gabriela yang mampu menghembuskan angin segar pada keutuhan tracklist-nya.

Lanjut ke “An Angel at My Table III”, kita diberikan paparan nuansa jazz klab malam yang penuh dengen asap. Tiba di titik ini, aman dikatakan bahwa transisi aransemen nan kontras jadi corak dalam albumnya, komposisi intens pun bergeliat eksplosif, bermuara kepada penggalan outro yang megah. Miasma Tahun Asu ditutup dengan sample percakapan via telepon dengan sang ibu pada “White Heron Outro”. Sebagai sentuhan terakhir, barangkali track  dua menit lebih ini dipercaya mampu mengemas narasi albumnya secara manis.

Sembilan track Miasma Tahun Asu dapat menjadi kemasan refleksi bagi titik awal dekade baru ini; dan dalam beberapa sisi tertentu, seringkali gambarannya terkesan abstrak, Namun bukankah geliat kuas yang melukis tahun 2020 juga terkesan sulit untuk diprediksi?

 
0 COMMENTS