Minor Threat

Minor Threat, Berumur Pendek dengan Pengaruh Timeless

  • By:
  • Sabtu, 17 October 2020
  • 323 Views
  • 0 Likes
  • 0 Shares

Tempo musik yang terlampau cepat dengan durasi lagu yang singkat melekat dengan citra musik hardcore punk. Berbicara mengenai hardcore punk, rasanya akan kurang pas jika tidak mulai dengan membahas perjalanan hidup band yang cukup influential ini. Band ini adalah Minor Threat.

Terbentuk di Washington D.C., Minor Threat lahir berkat ide Ian MacKaye dan Jeff Nelson yang ingin kembali berkarya melalui musik. Setelah sebelumnya, band mereka berdua bubar. Di tahun 1980, Minor Threat dipertemukan dengan Lyle Preslar yang kala itu merupakan vokalis untuk band bernama Extorts dan ingin beralih profesi bermain gitar. Selanjutnya, Lyle memperkenalkan para pendiri Minor Threat dengan pemain bass bernama Brian Baker. Setelah merasa cukup kompak dengan masing-masing anggota, akhirnya Minor Threat mulai menjajaki panggung pertama kali satu bulan setelah aktif latihan dan berkumpul bersama.

Munculnya Minor Threat di skena hardcore punk kala itu cukup memantik perhatian para penikmat dan para penggiatnya. Pengaruh Minor Threat mulai menjangkit berkat semangat dan attitude do it yourself (DIY) yang diusung oleh mereka. Melalui semangat ini, tidak jarang Minor Threat sebagai band ikut berkontribusi dalam proses persiapan dan produksi untuk panggung yang akan mereka isi. Begitu pula dalam aspek promosi. Sering bermain di acara musik punk reguler, nama Minor Threat punya peran sebagai magnet yang menarik orang-orang untuk hadir meramaikan acara tersebut. Selain itu, aspek DIY juga diaplikasikan dalam produksi album mereka. Setiap karya yang dirilis berada di bawah naungan Dischord Records, sebuah label rekaman yang didirikan oleh Ian MacKaye dan Jeff Nelson.

Pengaruh lain yang lahir berkat kehadiran Minor Threat di skena hardcore punk Washington D.C. kala itu adalah perubahan gaya hidup yang identik jadi gambaran kancah musik keras tersebut. Sebelum hadirnya Minor Threat, skena hardcore punk di salah satu negara bagian Amerika Serikat tersebut lekat dengan citra gaya hidup bebas. Minuman beralkohol dan obat-obatan terlarang merupakan hal yang lumrah digunakan oleh para penikmat musik tersebut untuk memberi kenikmatan yang fana. Namun, Ian MacKaye mulai melakukan manuver untuk mempromosikan gaya hidup yang lebih sehat daripada apa yang dirinya lihat di lingkungannya. 

Melalui lagu berjudul Straight Edge yang dirilis di tahun 1981, Ian MacKaye bersama Minor Threat bercerita tentang gaya hidup di bawah pengaruh minuman beralkohol dan obat-obatan terlarang bukan gaya hidup yang dirinya suka. Namun, menolak bukan berarti dirinya tidak serta merta membuat dirinya dan Minor Threat jadi kelompok musik yang membosankan. Ian MacKaye mulai menulis lagu Straight Edge berdasarkan apa yang dirinya lihat di dalam kehidupannya. Di tahun 1970-an, Ian MacKaye melihat teman-temannya gemar berpesta di bawah pengaruh minuman beralkohol dan obat-obatan terlarang. Ian menyatakan bahwa dirinya sangat sayang dengan teman-temannya, namun merasa prihatin karena hampir setiap saat dirinya bertemu temannya dalam keadaan teler. Ian Merasa bahwa dengan berada di bawah pengaruh minuman beralkohol dan obat-obatan terlarang hanya akan merusak hidupnya di masa depan. 

Meskipun cukup keras mempromosikan gaya hidup yang lebih sehat, menurut Ian MacKaye, gaya hidup Straight Edge adalah sebuah pilihan, bukan semata-mata membuat dirinya menjadi orang yang lebih baik. Setiap orang memiliki pilihan dalam hidupnya dan bersama Minor Threat, Ian MacKaye hanya sekadar mengutarakan pendapatnya saja. Berawal dari lagu berdurasi 46 detik ini, straight edge jadi sebuah terminologi bagi individu yang menjalani gaya hidup bebas alkohol, narkoba, dan segala hal kimiawi yang bersifat adiktif. Bersamaan dengan meningkatnya perhatian orang terhadap straight edge, para pemilik bar yang kerap jadi venue untuk acara musik hardcore punk mulai memberikan tanda silang di punggung tangan untuk beberapa pengunjungnya. Tanda tersebut mengisyaratkan bahwa orang-orang tersebut merupakan anak-anak dibawah umur atau orang yang memang tidak minum alkohol, sehingga para bartender pun lebih dapat mengawasi agar tidak membiarkan anak-anak dengan sembarangan minum minuman beralkohol.

Semasa aktif berkarya, Minor Threat berhasil membuat satu album penuh di tahun 1983 berjudul Out of My Step, beserta 3 buah EP, pertama adalah Minor Threat EP (1981), In My Eyes EP (1981), dan terakhir Salad Days EP (1985). Terlihat selalu aktif dan bermain musik dari panggung ke panggung, nyatanya tidak selaras dengan apa yang terjadi di dalam tubuh Minor Threat sendiri. Dua tahun sebelum EP terakhirnya rilis, di tahun 1983 Minor Threat memutuskan untuk bubar. Pecah kongsi di dalam tubuh Minor Threat ini terjadi karena adanya perbedaan visi dalam bermusik dari Ian MacKaye dan anggota lainnya. Perbedaan tersebut membuat Ian jadi lebih sering menghilang saat sesi latihan. Masih berkomitmen di dalam tubuh Minor Threat, Ian tetap menyelesaikan tugasnya dalam penulisan musik di EP Salad Days yang akhirnya dirilis di tahun 1985. 

Perbedaan visi dalam bermusik, ternyata bukan satu-satunya alasan Ian meninggalkan Minor Threat dan skena hardcore punk. Menurut Ian, dirinya memutuskan untuk meninggalkan skena yang membesarkan namanya dan Minor Threat ini sudah cukup brutal dan tidak dikendalikan lagi. Setiap orang tidak hanya menjadikan hardcore sebagai luapan emosi, namun juga jadi wadah justifikasi amarah dan kekerasan. Ian pun merasa dirinya adalah korban dari skena hardcore punk ini. Ian meluapkan amarah dan melakukan kekerasan terhadap salah satu fan Minor Threat yang sebelumnya tidak sengaja memukul bagian muka dari adik Ian. Seusai insiden itu, akhirnya Ian memutuskan untuk keluar dari skema tersebut sebagai bentuk penyesalan.

0 COMMENTS