Motörhead, Bad Magic Bukan Sekadar Repetisi

  • By: LS
  • Kamis, 10 September 2015
  • 2910 Views
  • 2 Likes
  • 1 Shares

Membuat racikan album tanpa repetisi bukan hal mudah. Dalam 40 tahun terakhir Motörhead mencoba konsisten membuat gubahan musik yang menunjukkan ciri khas tersendiri. Bukan cuma bertahan dengan fans loyal, pada tahun 2004 mereka kembali dengan album signifikan berjudul Inferno yang akhirnya membuat mereka bisa merangkul khalayak muda. Kembalinya Motörhead tahun ini dengan Bad Magic merupakan bentuk kegigihan yang membuat kita bertepuktangan akan konsistensi dan produktivitas mereka dalam merilis album studio.

Siapa pula yang bakal membenci rilisan dari living legend Motörhead. Bad Magic masih relevan dan patut untuk kita nikmati. Elemen rock ‘n roll dengan metal dan punk attitude tetap menjadi cetakan Motörhead yang akan kita rasakan dalam album ke-22 mereka. Sebagian besar materi pun muncul di studio dan ditulis saat jam sessions. Ya, seperti yang Lemmy katakan sebelum Bad Magic dirilis, Motörhead memang spontan dan tidak pernah memiliki rencana.

Bad Magic dibuka dengan “Victory or Die” yang memiliki pengaruh kental dari testamen musik punk. Bicara soal pengaruh punk, kita pun akan merasakannya pada nomor “Electricity”. Motörhead memang terkenal dengan fusion punk rock sejak awal, tentu ini bukan lah hal asing, terutama bagi fans yang mendengarkan album lain Motörhead dan tidak hanya mengenal single “Ace of Spades”.

Setelah dihantam dengan dua track pembuka yang gahar, Motörhead menurunkan sedikit tempo pada lagu “Fire Storm Hotel”. Suara Lemmy masih terdengar seperti dulu saat mengatakan “Burn” sebelum memasuki bagian melodi. Masalah kesehatan Lemmy nampaknya turut memengaruhi kekuatan vokalnya, tapi hal ini tidak menghilangkan kemarahan dalam suara Lemmy. Hes still the world's rawest, roughest yet hypnotizing vocalist in this scene.

 

 

Shoot Out All of Your Lights” merupakan salah satu lagu powerfull dalam album ini. Perkawinan permainan drum Mickey Dee dan riff yang berpacu sama cepatnya menjadi sorotan utama yang patut kita puji. Jangan lupakan juga permainan Dee dalam track Thunder & Lightning” dan “Electricity” yang sama menariknya.

Look not for pity, no/ I am the heartless man/ I come to fix all things/ I am the one man band”. Lirik kelam seperti yang Lemmy sampaikan pada “Serial Killer” dari album Hammered (2002) memang bisa kita simak pada setiap lirik dalam Bad Magic, kecuali satu. Lemmy tampak berbeda dalam rock ballad “Till the End” yang bertengger pada track sembilan Bad Magic. Bak menyelami sisi lain dari pribadi yang selama ini ia tuangkan dalam Motörhead, Lemmy yang berulangtahun ke-70 Desember tahun ini menunjukkan sisi terang dalam kehidupannya lewat lirik, “Nothing to defend, my life is full of good and dice/ And you don't have to tell me twice/ Living here, in paradise, no rules that I should

Tell Me Who to Kill” berisi formula lagu yang akan nyaman didengarkan oleh penggemar hard rock manapun, terutama part melodi yang sangat sayang untuk dilewatkan. Track Sympathy for the Devil” yang merupakan cover dari The Rolling Stones menjadi penutup yang menarik. Motörhead membuktikan tidak ada band yang menandingi mereka pada kelasnya.

Foto: amazon.co.uk

0 COMMENTS

Info Terkait

superbuzz
707 views
superbuzz
354 views
superbuzz
463 views
superbuzz
553 views
superbuzz
308 views