ROCKIN REBEL: Musisi Kritis Angkat Isu Negara dan Dunia

  • By: OGP
  • Rabu, 16 November 2016
  • 5269 Views
  • 0 Likes
  • 1 Shares

Mendengar frasa ‘musisi’, sebagian besar dari kita mungkin akan membayangkan sosok individu yang memainkan musik sembari memberikan aksi panggung yang menghibur. Namun pada kenyataannya, seorang ‘musisi’ memiliki kekuatan untuk menggerakkan massa – terutama para fans sejati mereka. Tak melulu berbicara soal kehidupan pribadi, seperti patah hati, kekecewaan cinta dan problematika karena narkoba, banyak musisi yang juga mengangkat topik ‘berat’ di dalam lirik mereka. Mulai dari isu politik, sosial, hingga yang paling sensitif – agama. Pesan tersirat yang diharapkan dapat mengetuk nurani serta membuka mata para pendengar terhadap lingkungan sekitar. Seringkali, materi musik dari para musisi dapat memicu pergerakkan masyarakat terhadap ketidak-adilan atau bahkan mendorong perlawanan dalam menghadapi tirani. Cara pandang kritis dari para musisi yang menggugah emosi dan kacamata pendengar lewat alunan karya mereka.

SuperMusicID mengumpulkan beberapa nama musisi yang dengan lugas dan lantang, mengkritik kemapaman serta kebijakan yang berseberangan dengan nurani mereka!

 

Rage Against the Machine

Unit rap metal kontroversial asal Los Angeles, Rage Against the Machine dikenal publik luas lantaran menganut sistem politik sayap kiri. Perjalanan musik mereka berkibar kencang di awal tahun 90’an lewat serangkaian aksi gilanya menuntut pihak penguasa otoriter. RATM memainkan alunan musik cadas, yang dipadu lirik berisi kritikan tajam atas isu politik dan sosial. Puncaknya terjadi saat kuartet ini menyuarakan protes di Kota Philadelphia pada 1993 saat pentas di gelaran musik tahunan Lollapalooza. Mereka semua tampil telanjang tanpa sehelai benang pun, sembari berdiri terdiam tanpa memainkan satu lagu pun! Tak lupa Tom Morello Cs menutup mulutnya dengan lakban. Protes tersebut digencarkan karena adanya pelarangan menulis lirik lagu secara eksplisit yang dilakukan oleh salah satu badan hukum di negeri Paman Sam.

 

MC5

Gerombolan proto-punk MC5 dianggap sebagai inovator terbentuknya band-band punk anarkis yang bermunculan setelah generasinya. Kelompok yang digawangi oleh Fred “Sonic” Smith, Rob Tyner, Wayne Kramer, Michael Davis dan Dennis Thompson ini mengemban teguh politik radikal yang dianutnya. MC5 menjadikan Marxisme dan Black Panther Party sebagai pedoman hidup. MC5 terkenal lewat serangkaian aksi yang begitu provokatif saat sedang show berlangsung. Tersiar kabar, Sang vokalis pernah ditinting oleh beberapa sniper karena dianggap mengganggu oleh pihak oposisi yang tak senang dengan keberadaannya. Tak cuma itu, kelompok asal Detroit ini turut ambil bagian dalam protes melawan perang Vietnam di Democratic National Convention tahun 1968 silam. Alhasil kericuhan pun tak terhindarkan antara aparat dan sipil.

 

Sex Pistols

Mungkin bagi seluruh penggemar masif musik punk, nama unit beken Sex Pistols bukan sesuatu yang asing di telinga. Yep, mereka lah simbol pemberontakan paling nyata yang dihasilkan oleh para pelaku indsutri musik modern. Tercipta pada medio 70’an oleh sekumpulan anak muda, karena kekhawatiran terhadap rezim pemerintah yang dianggapnya makin merajalela. Lagu pusaka bertitel “God Save the Queen” yang awalnya merupakan salah satu titel lagu nasional Inggris, digubah secara nakal namun eksplosif oleh John Lydon. “God Save the Queen” rilis bertepatan dengan perayaan memperingati 25 tahun masa jabat seorang Ratu Elizabeth II pada tahun 1977. Tembang klasik milik Sex Pistols ini menuai polemik di dataran tanah Inggris Raya saat itu. Lagu ini merupakan bentuk satir yang ditujukan langsung kepada sang Ratu. Secara tegas Sex Pistols menolak kebijakan monarki yang menyelimuti kubu kerajaan Inggris.  Berbagai kecaman silih berdatangan. Lagu andalan mereka tersebut dilarang diputar secara luas oleh media Inggris, karena dianggap memiliki pesan provokasi yang kuat.

 

Manic Street Preachers

Masih berkutat di ranah Britania, kali ini unit rock asal Wales, Manic Street Preacher bakal mengisi rentetan band paling tegas dalam mengangkat isu sosial. Ditulis secara apik oleh sang bassis Nicky Wire dan mendiang Richey Edwards (yang di-aransemen oleh dua kompatriot lainnya, James Dean Bradfield serta Sean Moore), Manics merupakan salah satu dari sekian band rock generasi modern yang kritis secara intelektual. Konten liriknya mengacu pada hangatnya isu permasalahan sosial maupun politik yang terjadi di belahan dunia. Hingga kini, topik yang diangkat Manics masih relevan dengan keadaan dunia - seperti yang terangkum di track andalan “Little Baby Nothing”. Secara gamblang unit Manics meramu tema feminis, yang dengan lugas menolak keras eksploitasi wanita yang dilakukan oleh kaum pria. Selain itu mereka juga mengangkat isu kapitalisme dari budaya konsumerisme yang menjalari sebagian kaum urban lewat tembang klasik “Motorcycle Emptiness”.

 

Pussy Riot

Dunia sempat dibikin geger oleh ulah band punk feminis asal negeri beruang merah, Pussy Riot. Mereka dianggap telah menodai sosok seorang yang paling di hormati di dataran, Russia Vladimir Putin. Unit beranggotakan perempuan bertopeng ini rajin ditangkap oleh pihak berwajib ketika sedang melakukan pertunjukan. Salah satunya saat mereka bernyanyi di sebuah gereja ortodoks Kota Moskow, yang dengan gamblang mengejek nama Putin. Saat itu, Vladimir Putin menyatakan keinginannya untuk kesekian kalinya menjabat presiden. Seantero Rusia pun dilanda gelombang protes besar-besaran. Ditambah masalah bubarnya Uni Soviet menambah kisah pelik bagi kaum sipil. Pussy Riot dibentuk tahun 2011. Pasukan punk ini digagas langsung demi memperjuangkan kebebasan demokratis Rusia. Terlebih bagi Pussy Riot, aktivitas politik Rusia telah kehilangan kebebasan secara harfiah. Figur Vladimir Putin dianggap sebagai simbol murni kediktatoran. Pussy Riot kerap kali menggelar konser dadakan dalam rangka mengkritisi Putin sebagai kepala negara.

 

Swami

Siapa pun itu di kalangan muda maupun tua pasti pernah mendengar alunan tembang klasik “Bento” dan “Bongkar” berseliweran di televisi atau radio. Gelegar suara Iwan Fals yang lantang begitu membahana seolah mengajak kita untuk larut dalam lagu. Jika dibedah secara detil tersimpan nilai moral ketika mendengarkannya dengan khidmat. Lirik puitis dituang secara mengalir nan indah oleh mereka. Kelompok ini lengkap dipawangi sejumlah musisi beken, sebut saja Iwan Fals, Sawung Jabo, Naniel, Nanoe, Innisisri, serta Setyawan Djodi. Swami berhasil menciptakan karya-karya yang dianggap menjadi simbol representasi semangat rakyat di balik kesenjangan sosial, politik dan ekonomi di masa itu. Seperti di lagu “Bento”, terdengar sarkas dalam balutan humor gelap yang ditujukan kepada pihak penguasa.

 

Efek Rumah Kaca

Trio pop minimalis asal Jakarta ini gaungnya mulai berkibar kencang di dataran musik nasional saat debut album hampir satu dekade lalu. ERK dikenal publik luas lewat serangkaian kritik bernada tajam, respons terhadap peliknya kehidupan sosial maupun politik yang tertuang di tiap bait lirik track-nya. Kepekaan unit ini tentang isu sosial terhangat menjadi senjata utama mereka dalam menembus industri musik. Lagu andalan seperti “Di Udara” adalah simfoni obituari teruntuk sosok aktivis HAM Munir yang tewas dibunuh dengan cara diracun oknum kelas kakap. Tema sosial sehari-hari lainnya pun dirangkum manis oleh Cholil Cs. Semisal track “Kenakalan Remaja di Era Infomatika” yang satir menyentil ulah ‘kenakalan’ produk milenial masa kini.

0 COMMENTS