Muzai Records: Label Musik yang Bertahan Lewat Komunitas

Muzai Records: Label Musik yang Bertahan Lewat Komunitas

  • By:
  • Minggu, 2 May 2021
  • 40 Views
  • 0 Likes
  • 0 Shares

Berangkat dari gerakan underground dan komunitas , Benji Jackson, akhirnya mendirikan sebuah label rekaman independen bernama Muzai Records. Label indie ini awalnya beroperasi di Auckland, Selandia Baru, sebelum pindah ke Inggris.

Punya latar belakang sebagai jurnalis musik lepas di Selandia Baru, event organizer, hingga pembawa acara radio, Benji Jackson memulai Muzai Records pada 2009 bersama vokalis dari band God Bows of Math. Mereka bermaksud mendirikan label yang fokus merilis musik punk.

Pada awal perjalanannya, Benji Jackson menjadikan Muzai sebagai kendaraan untuk merambah musik ke semua tingkatan umur. Pasalnya di Selandia Baru, hampir semua venue musik tidak memperbolehkan masuk anak di bawah usia 18 tahun.

Untuk itu Benji Jackson menyelenggarakan pertunjukan musik segala usia meski awalnya sulit. Tetapi melalui jaringan yang dimilikinya, Benji Jackson menemukan teater kecil bernama The Basement. Untuk waktu yang singkat, tempat tersebut menjadi rumah bagi skena musik segala usia di Auckland, yang dikenal dengan bahasa sehari-hari sebagai skena Muzai.

 
 
 
 
 
View this post on Instagram
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 

A post shared by MUZAI Records (@muzairecords)

Jackson secara tidak langsung membawa nilai-nilai pada Muzai yaitu merambah ke semua usia, mandiri, musik punk, dan gerakan bawah tanah. Dengan dukungan kuat dari komunitas yang dibangun oleh Benji Jackson, Muzai Records mampu berjalan dengan baik.

Label Muzai Records juga berhasil berkat kiprah dari band-band awal yang dirilis seperti Bandicoot, band punk yang semua personelnya bersekolah di Western Springs College di pinggiran kota Auckland. Ada pula Nice Birds, FATANGRYMAN, hingga Sherpa, grup rock psychedelic yang penulis lagu utamanya sekarang menjadi personel band art-pop Inggris, Superorganism.

Tenarnya nama Bandicoot di bawah arahan Benji Jackson menarik minat musisi-musisi lokal untuk bermitra dengan Muzai Records. Beberapa rilisan krusial Muzai di fase awal berdiri antara lain The All Seeing Hand (album Mechatronics), Girls Pissing (album Scrying in Infirmary Architecture), dan Wilberforce's (album Paradise Beach).

Namun ekspektasi yang mulai muncul dari berbagai pihak kepada Muzai Records bikin Benji Jackson mulai kewalahan. Bagi Benji, Muzai Records tidak lagi menyenangkan di Selandia Baru, khususnya Auckland, karena tidak lagi mengusung nilai-nilai yang dianut sebelumnya.

"Label rekaman ini tumbuh menjadi monster dan mulai menjadi kurang menyenangkan karena ada ekspektasi tentang apa yang harus kami lakukan. Kami adalah label segala usia, label DIY, dan saat itu ekspektasi jauh melebihi kenyataan tentang apa yang bisa saya lakukan," kata Benji Jackson kepada Daily Bandcamp.

Lantas pada 2015 Benji Jackson memutuskan pindah ke Leeds, Inggris. Dengan begitu, perjalanan Muzai Records di Selandia Baru ikut usai dan kembali merintis di Negeri Ratu Elizabeth. Inggris sendiri merupakan tempat Benji Jackson lahir.

Pada wawancaranya dengan Impolitikal di tahun 2015, Benji Jackson juga mengaku bahwa alasannya pindah ke Inggris karena ingin dekat dengan keluarganya. Awalnya ia ingin pindah ke Manchester, namun akhirnya pilihan jatuh ke kota Leeds.

"Sejujurnya keputusan untuk pindah karena saya ingin dekat dengan keluarga saya, istri saya juga ingin pergi dari Selandia Baru dan melihat dunia. Sebenarnya kami ingin pindah ke Manchester, tapi orang-orang di West Yorkshire sangat ramah dan Leeds tidak terlalu jauh berbeda dengan Auckland," kata Benji Jackson.

Faktanya, pindah ke Inggris dengan landasan perkiraan bisa menembus pasar Eropa, tidak berjalan lancar seperti yang diinginkan oleh Benji Jackson di Muzai Records. Ia menemui fakta bahwa lingkungan yang sangat berbeda dengan yang ia biasa operasikan di Selandia Baru.

"Saya sangat beruntung bahwa di banyak tempat di Selandia Baru, bisa sangat mudah mendekati media. Saya memiliki hubungan yang baik dengan radio dan media cetak, mungkin karena saya terlibat di dua bidang itu sebelum Muzai lepas landas," jelas Benji Jackson.

"Di sini, di Inggris, dan ketergantungan besar pada tim PR dan radio. Faktanya, salah satu nasihat pertama yang saya dapatkan adalah membayar ke radio. Saya adalah label kecil yang berjuang melawan label lain yang lebih kecil untuk mendapatkan promosi sekitar beberapa sentimeter di majalah atau blog. Uang itu dapat digunakan untuk mendanai kegiatan label," ujarnya.

Beruntung, masih ada segelintir orang di Inggris yang masih menghargai sudut pandang Benji Jackson dan Muzai Records. Oleh karena itu, Benji terus bekerja dengan rajin untuk mendukung sejumlah kecil seniman yang menyadari apa yang dapat dilakukan Muzai Records untuk mereka.

Setelah lebih dari lima tahun di Inggris Utara, Beji sudah menemukan sekelompok orang yang berpikiran sama dan tertarik untuk membangun komunitas seperti yang dia miliki pertama kali di Selandia Baru. Dengan kata lain, Muzai Records berdiri, kemudian besar, dan kini mencoba bertahan di industri musik lewat jalinan erat komunitas.

“Saya pikir itu (komunitas) adalah aspek penting dalam menjalankan label sekarang. Kembali mengatur hal-hal yang saya sukai, yang juga disukai orang lain," pungkasnya.

Kini beberapa band dari Inggris dan luar Inggris yang bernaung di bawah bendera Muzai Records antara lain Faux Machismo, Lawman Band, King Shoji, Friggen, Dusker, Duhkqunt, dan Struggles With Syntax.

 

Image source: Bandcamp

0 COMMENTS