naif

Naif, Jagoan Pop Sederhana

  • By: NND
  • Rabu, 27 November 2019
  • 3707 Views
  • 11 Likes
  • 5 Shares

Nama “Naif” diberikan oleh Dodot, seorang kawan dari grup tersebut karena ia menilai musiknya yang, meskipun begitu simpel, tapi tetap berbobot—terkesan seperti hal yang “naif”. Fast forward 24 tahun setelah kelahiran mereka di 1995, arti dari nama mereka itu masih tetap relevan.

Ya, kali ini SUPERMUSIC akan membahas salah satu band senior andalan Jakarta, Naif. Mereka adalah kuartet yang sekarang digawangi oleh David, Jarwo, Franki, dan Emil; empat remaja jebolan kampus seni di Jakarta. Mengusung musik pop dan rock dengan pendekatan retro yang, seperti kata Dodot sang pemberi nama, “simpel namun berisi”, Naif menemukan karakteristik yang pakem. Sampai sekarang, grup tersebut masih beredar, mengisi panggung-panggung lintas acara, baik itu acara pensi, kuliah, konser besar, musik festival, ataupun semacamnya.

Sama seperti banyak band pada umumnya, Naif, sebagai sebuah grup musik yang namanya sudah melegenda, memiliki awalan yang simpel. Mereka adalah sekumpulan mahasiswa Institut Kesenian Jakarta (IKJ) yang, berawal dari mengerjakan tugas kampus, jadi kerap nongkrong bersama dan bernyanyi sembari diiringi gitar. Di tahun 1995; David, Pepeng, dan Jarwo bermalam di rumah Shendi (Bassis Rumahsakit, juga anak IKJ) untuk mengerjakan tugas. Hasilnya? Bukan tugas kuliah yang rampung, justru mereka berhasil menciptakan sebuah lagu. “Jauh” lahir, dan tidak ada yang menyangka bahwa lagu itu akan duduk di album debut mereka selang tiga tahun kedepan.

Selepas lagu pertama, mereka haus untuk terus berkarya sehingga sering menyewa studio agar lebih puas bermain musik. Meski Shendi tidak ikut lebih lanjut, ketiganya tetap masuk studio dan memainkan lagu-lagu mereka sendiri. Setelah beberapa kali keluar masuk studio akhirnya Chandra dan Emil pun mengisi posisi yang kosong. Panggung-panggung awal Naif diisi dengan sederet acara kampus mereka sendiri. Seiring berjalannya waktu, mereka mulai merancang lagu-lagu baru, maka lahirlah trek-trek legendaris macam “Piknik ‘72” dan “Benci Libur”.

Sumber foto

Kesuksesan mereka mulai mendapati jalannya circa tahun 1996. Seorang kawan memberi kabar terkait label rekaman Bulettin yang hendak menyusun sebuah album kompilasi. Maka, dikirimlah demo itu dengan harapan bisa mengisi albumnya. Tak disangka, sang produser jatuh hati dengan musinya, dan justru memutuskan untuk merekamkan album debut Naif. Sirkuit bak terbuka lebar, dan mobil balap Naif siap melintas.

Album self-titled debut mereka, dengan dukungan single yang sudah mereka miliki, rilis di tahun 1998. Selebihnya? 7 album studio menyusul, ditambah dengan satu album kompilasi karya terbaik mereka dan satu album live. Album-album ini selalu berhasil tampil menyertakan single yang berlaku baik dengan publik. Contoh “Posesif” dari album keduanya (Jangan Terlalu Naif, 2000), atau “Dia Adalah Pusaka Sejuta Umat Manusia yang Ada di Seluruh Dunia” dari album Titik Cerah (2002). Retropolis (2005) sebagai album keempat juga memiliki “Benci Untuk Mencinta”, sedangkan Televisi (2007) yang menyusulinya berbekal “Di Mana Aku Di Sini”. Planet Cinta (2011) sebagai sempat mempopulerkan trek “Karena Cuma Satu”, sedang album teranyar mereka, 7 Bidadari (2017) mengatongi title track yang jadi single.

Melalui segudang album ini Naif berhasil menyetir telinga-telinga banyak pendengar musik lokal ke arah yang lebih “retro”. Unsur-unsur 60’s dan 70’s yang mereka tampilkan, baik dalam musik ataupun gaya berpakaian, sudah jadi ciri khas yang tidak bisa dipisahkan. Pendekatan mereka ini memang kerap diterapkan oleh banyak musisi lain, namun Naif berhasil menjadi pembadanan yang pas terkait bagaimana cara mengemas ulang era yang banyak disebut sebagai “the golden age of music” itu. Dalam mengusung estetika retro ini, porsi yang mereka mainkan itu tepat—tidak terlalu banyak sehingga disangka pretentious, namun tidak pula terlalu sedikit sehingga banyak orang tetap menyadari.

Retro bukan satu-satunya keunikan yang dimiliki Naif. Tidak hanya bermain dengan gelombang nostalgia the good old days, musik mereka yang mudah didengar membuatnya diterima oleh pasar yang luas. Sangat luas, bahkan—terbukti Naif menjadi nama yang sempat dan mampu bersaing di blantika musik arus utama Indonesia. Kala beralih ke jalur independen, mereka tidak kehilangan arah dan terus berkarya. Justru, masuk akal jika Naif dinobatkan sebagai sebuah sosok yang menjembatani kedua gap yang nampak dalam perdebatan arus utama dan independen—tentang idealisme berkarya dengan pasar musik.

Ketika bermusik, secara independen atau di arus utama, akan selalu ada kendala dan halangan yang perlu di kompromikan atau disiasati. Naif yang sempat bermain di arus utama dengan musik yang terdengar “independen” adalah sebuah pembelajaran dengan sendirinya, terlebih ketika mereka beralih ke jalur independen. David, Franki, Jarwo, dan Emil mampu bertahan sedemikian lama, selain karena kecintaan mereka terhadap musik yang mereka persembahkan, juga karena pengertian ini. Mungkin, Naif dapat menjadi pelajaran yang cocok untuk para musisi, terlepas dari di “sisi koin” yang manakah mereka berkarya.

Di tahun 2003, Chandra hengkang dari Naif untuk menggeluti karir sebagai seorang desainer grafis. Meski gugur satu, empat lainnya tak gentar untuk terus berkarya. Hingga sekarang, kuartet ini masih merilis album. 7 Bidadari sebagai yang terbaru bak membuktikan bahwa umur Naif masih siap tampil.

Lagu Naif yang mana yang selalu jadi andalan buat Superfriends? Coba jabaran di kolom komentar di bawah, ya!

Feature photo: sumber

0 COMMENTS