Nana Yamato, Musisi Dream Pop Pendatang Baru Asal Jepang

Nana Yamato, Musisi Dream Pop Pendatang Baru Asal Jepang

  • By:
  • Rabu, 24 February 2021
  • 133 Views
  • 0 Likes
  • 0 Shares

Saat usianya genap 14 tahun, pandangan akan hidup yang dimiliki oleh Nana Yamato berubah dengan drastis. Perubahan pandangan hidup tersebut dialami oleh Nana Yamato ketika dirinya secara tidak sengaja menemukan penampilan live dari band asal Denmark, Iceage melalui Youtube. Sejak saat itulah, Nana Yamato mulai memiliki ketertarikan yang kuat terhadap musik. Sejak remaja, Nana Yamato kerap kali menghabiskan waktunya sepulang sekolah untuk belajar memproduksi musik secara mandiri. Kini di usianya yang genap 20 tahun, usaha yang dilakukan oleh Nana Yamato sejak remaja pun membuahkan hasil yang menggembirakan.

Di usia ke-20, Nana Yamato akhirnya berhasil merilis sebuah album penuh secara mandiri berjudul Before Sunrise. Berisi 12 lagu, album perdana dari Nana Yamato ini menghadirkan kisah tentang mimpi dari seseorang yang menunggu agar hidupnya mengalami perubahan ke arah yang lebih baik. Meskipun memiliki tema yang positif, Nana Yamato menghadirkan nuansa musik yang cukup grounded dan terdengar nelangsa, namun memiliki kesan manis. Nana Yamato mengambil dasar elemen dream pop untuk karya-karyanya. Elemen dasar tersebut berhasil diolah oleh Nana Yamato berkat kecintaannya terhadap musik post-punk dan kesukaannya mendengarkan musik-musik rock seperti The Doors, David Bowie, serta The Strokes.

Nana Yamato mengemas karya-karyanya yang tergabung dalam album Before Sunrise dengan hal yang menarik. Nana Yamato menyuguhkan lirik dalam bahasa Inggris dan bahasa Jepang yang tergabung dalam 12 track tersebut. Salah satu lagu yang tersaji dalam album tersebut adalah Gaito yang Nana Yamato pilih sebagai single utama dalam mempromosikan album Before Sunrise. Hadirnya album Before Sunrise cukup berhasil menarik banyak pasang mata. Bahkan kritikus dan beragam penikmat musik pun cukup memberikan respon positif terhadap album perdana yang dimiliki oleh Nana Yamato tersebut. 

Meskipun mendapatkan respon dan apresiasi positif, Nana Yamato merasa dirinya masih belum merasa puas. Nana Yamato mengakui bahwa hingga saat album tersebut rilis, dirinya masih belum merasa memiliki keahlian yang sesuai dalam bermusik. Bahkan dirinya sendiri pun tidak yakin jika album Before Sunrise akan banyak disukai oleh banyak orang. Dalam penggarapan album tersebut, Nana Yamato mengakui bahwa dirinya hanya fokus membuat musik semampunya dan hanya menghadirkan elemen-elemen serta konsep musik yang dirinya sukai. Bisa dianggap bahwa album ini merupakan proyek ego dari semangat muda yang dimiliki oleh Nana Yamato.

Judul album Before Sunrise sendiri diambil karena dalam proses produksinya, Nana Yamato kerap kali menghabiskan waktu semalam suntuk untuk terus membuat karya sekaligus memaksimalkan potensi dari lagu-lagu yang sudah direkam. Nana Yamato hanya bisa memaksimalkan proyek musiknya di malam hari karena selain jadi musisi, dirinya saat ini masih mengemban pendidikan di Waseda University, Tokyo sebagai mahasiswa jurusan hukum. Selain itu, Nana Yamato juga masih harus menjalani harinya sebagai pekerja paruh waktu demi memenuhi kebutuhan sehari-harinya. Namun, Nana Yamato mencoba untuk selalu tidak memisahkan dirinya dengan musik terlalu lama. Sering kali Nana Yamato mendengarkan musik saat melakukan perjalanan menuju kampus dan juga tempat kerjanya. Dari situ, Nana Yamato juga menemukan beberapa inovasi yang bisa dirinya lakukan untuk mengoptimalisasi potensi karya-karya asli yang dirinya buat.

Saat ini, Nana Yamato juga bekerja untuk Big Love Records. Big Love Records merupakan sebuah toko musik yang berada di Shibuya, Tokyo. Dari situ, Nana Yamato pun belajar banyak tentang kultur di dunia musik. Pengetahuan serta pengalaman yang dirinya dapatkan saat bekerja di toko musik mampu memberikan motivasi agar Nana Yamato terus berusaha dalam memaksimalkan talenta bermusiknya.

 

Image courtesy of Nana Yamato

0 COMMENTS