Portal Music

Audioslave

Napak Tilas Audioslave: Dari Rage Against The Machine hingga Tewasnya Chris Cornell

  • By:
  • Minggu, 1 November 2020
  • 828 Views
  • 2 Likes
  • 1 Shares

Audioslave lahir dari sebuah tragedi yang menimpa band Rage Against The Machine. Pada Oktober 2000, vokalis Rage Against The Machine, Zack de la Rocha, memutuskan untuk hengkang dari band tersebut.

Usut punya usut, keluarnya de la Rocha disebabkan karena konflik internal terkait perbedaan pendapat. Ada pula versi yang menyebutkan keputusan de la Rocha pergi karena insiden keributan yang disebabkan Tim Commerford dalam acara MTV Video Music Awards yang tak terima Limp Bizkit memenangi kategori Video Rock Terbaik.

Tiga personel tersisa Rage Against The Machine, Tim Commerford, Tom Morello, dan Brad Wilk, memutuskan untuk tetap bersama dengan mencari vokalis baru. Pencarian itu berujung pertemuan mereka dengan Chris Cornell yang saat itu sedang memulai karier solo.

Karier solo itu dilakukan Cornell setelah band terdahulunya, Soundgarden, vakum pada 1997. Kawan dari Morello, Commerford, dan Wilk, juga sekaligus produser musik, Rick Rubin, menyarankan Rage Against The Machine untuk bekerja sama dengan Cornell.

Saat memulai kolaborasi dengan Cornell, tiga personel Rage Against The Machine itu justru menemukan celah untuk membentuk band baru. Ikatan keempatnya semakin kuat sampai-sampai Morello memberi sanjungan kepada Cornell.

"Dia mengambil mic dan mulai menyanyikan sebuah lagu. Aku seperti tidak memercayai kejadian itu. Tidak hanya terdengar bagus dan hebat, tapi suaranya sangat luar biasa. Ketika ada ikatan yang dirasakan sejak saat pertama, kamu tidak bisa menyangkalnya," ujar Morello.

Keempatnya kemudian berlatih selama 19 hari di Los Angeles dan berhasil menulis sebanyak 19 lagu. Audioslave pun resmi berdiri sejak saat itu dan mulai melakukan proses rekaman di studio pada Mei 2001.

Perjalanan awal Audioslave melahirkan album perdananya cukup panjang dan menghadapi berbagai persoalan. Pada Maret 2002, meski belum memiliki nama resmi, Audioslave ditunjuk untuk tampil pada festival musik Ozzfest. Belum juga tampil di depan publik, rumor bahwa band ini bubar sudah terdengar.

Dikabarkan bahwa Cornell mempermasalahkan adanya dua manajer dalam proyek yang ia garap bersama tiga prosnel Rage Against The Machine, di mana Jim Guerinot dari Rebel Waltz mewakili Cornell dan Peter Mensch dari Q Prime menangani Rage Against The Machine.

Beberapa waktu kemudian, Audioslave kemudian berpisah dengan perusahaan manajemen sebelumnya dan bergabung dengan The Firm. Namun, masalah yang menimpa Audioslave tak berhenti sampai di situ.

13 rekaman kasar yang dibuat Audioslave sempat bocor di jaringan berbagai file peer-to-peer pada Mei 2002 dengan nama Civilian atau The Civilian Project. Morello lantas menjelaskan bahwa rekaman tersebut adalah sketsa kasar yang dikirim ke Seattle untuk dikerjaan oleh Cornell.

Setelah sederet masalah hadir, Audioslave membocorkan nama resmi mereka dan meluncurkan situs resmi pada September 2002. Single pertama yang diunggah berjudul Cochise dan disiarkan di radio pada Oktober.

Terhitung setelah lebih dari satu tahun bersama, akhirnya Audioslave merilis album perdana dengan tajuk sama seperti nama band (Audioslave) pada November 2002. Album ini mendapat respons positif dengan menempati posisi 7 di Billboard 200 setelah terjual 162 ribu kopi di pekan pertama.

Album perdana Audioslave mendapat status triple platinum pada 2006 dari RIAA setelah terjual lebih dari tiga juta kopi di Amerika Serikat. Dengan suara khas Cornell, Audioslave benar-benar melepaskan diri dari bayang-bayang Rage Against The Machine.

Single kedua dari album pertama Audioslave berjudul Like a Stone dirilis pada awal 2003 dan mendapat sukses besar. Lagu ini memuncaki tangga lagu Billboard Mainstream Rock Tracks dan Modern Rock Tracks. Like a Stone juga mendapat sertifikat gold dari RIAA yang menjadikannya sebagai lagu tersukses Audioslave.

Usai diterpa sederet masalah hingga akhirnya merilis album pertama, Audioslave melanjutkan tahun-tahun berikutnya dengan menggarap album kedua. Karya baru ini kemudian rilis pada Mei 2005 dengan tajuk Out of Exile.

Pada awal dirilis, Out of Exile memuncaki Billboard 200--satu-satunya album Audioslave yang bisa mencapai posisi ini. Album kedua ini disebut Morello lebih bervariasi dengan pendekatan musik yang lembut dan lambat.

Akhir Perjalanan Audioslave, Akhir Hidup Chris Cornell

Proses penggarapan album ketiga ternyata menjadi awal berakhirnya perjalanan musik Audioslave. Album ketiga yang digarap sejak Januari 2006 akhirnya rilis pada September dengan tajuk Revelations. Menempati posisi kedua di Billboard 200 dan terjual 142 ribu kopi pada pekan pertamanya dirilis.

Di album ketiga ini, musik Audioslave lebih terdengar variatif dengan pengaruh musik funk, sould dan R&B yang tak pernah terlihat dari album-album sebelumnya. Di album ini pula beberapa lagu Audioslave memuat unsur-unsur politik, seolah-olah meneruskan api perjuangan Rage Against The Machine.

Kabar mengejutkan justru datang beberapa bulan kemudian saat Cornell secara resmi mengumumkan keluar dari Audioslave pada 15 Februari. Perbedaan pendapat disebut Cornell sebagai latar belakang keputusannya untuk hengkang.

"Karena konflik kepribadian yang tidak dapat diselesaikan serta perbedaan musik, aku secara permanen meninggalkan band Audioslave. Sata berharap yang terbaik untuk ketiga personel lainnya dalam semua usaha mereka di masa depan," bunyi pernyataan Cornell saat itu.

Dengan perginya Cornell sementara ketiga personel Audioslave lainnya tengah sibuk mempersiapkan reuni dengan Rage Against The Machine, maka Audioslave dengan resmi vakum sejak saat itu. Meski berpisah, Cornell tetap berhubungan baik dengan semua mantan rekannya itu dan mengaku hidupnya tertolong berkat hadirnya Audioslave.

Setelah 12 tahun berpisah, Audioslave memutuskan reuni dengan tampil di Prophets of Rage pada Januari 2020 sebagai bentuk protes atas pelantikan Presiden Amerika Serikat, Donald Trump. Setelah reuni itu, Cornell membuka kemungkinan untuk terjadinya konser reuni Audioslave lainnya.

Namun rencana hanya sebatas rencana dan reuni Audioslave tak pernah terjadi lagi setelah Cornell meninggal dunia pada 18 Mei 2017. Cornell yang saat itu berusia 52 tahun ditemukan tewas gantung diri di kamar hotel MGM Grand Detroit.

0 COMMENTS