Portal Music

Navicula

Navicula: Hand Sanitizer dari Arak Bali hingga Perjuangan Konser Virtual

  • By:
  • Kamis, 19 November 2020
  • 354 Views
  • 2 Likes
  • 1 Shares

Navicula berbagi kisah perjuangan para band di Tanah Air termasuk mereka sendiri saat berada di situasi krisis imbas pandemi COVID-19. Berbagai inovasi dan adaptasi dijajal oleh band bergenre alternative/grunge asal Bali tersebut.

Salah satu yang dilakukan oleh Navicula adalah melangsungkan konser virtual. Kisah perjuangan mereka melangsungkan konser virtual di tengah keterbatasan imbas pandemi dituangkan dalam sebuah video dokumenter yang mereka unggah di kanal YouTube Disbud Provinsi Bali.

"Sederet konser dan aktivitas sosial selama 8 bulan terakhir. Kami hadirkan untuk mu di Festival Seni Bali Jani II , Tgl 2 November ini , jam 21.00 WITA , FULL video, di kanal YouTube Disbud Prov Bali," tulis Navicula di Instagram resmi mereka.

"Seni Melawan Pandemi” adalah upaya keras kami agar bukan hanya dapur kita saja yang ngebul, tapi juga semua praktisi di skena musik yang kita cintai. Bukan cuma hura -hura, tapi juga merawat masyarakat," lanjut mereka.

Tak hanya tampil memberi hiburan, di acara tersebut Navicula juga berbagi kisah tentang cara hingga apa saja yang bisa dilakukan agar tetap bisa berkreasi, aktif berkarya, di berbagai kondisi sulit seperti pandemi yang melanda Indonesia dan seluruh dunia saat ini.

"Bukan hanya merawat luka, tapi juga menjaga Asa. Bukan hanya mengekspresikan rasa, namun juga mengasah logika. Menjaga idealisme, kreativitas, dan entrepreneurship berjalan seimbang. Show must GO ON!. Dan Semua menjadi mungkin karena: Kolaborasi," tutur Navicula.

"Temanya adalah seni melawan pandemi. Sebagai musisi, kita masih bisa berkarya di musik tapi kita ingin juga bisa membuat nilai-nilai yang tidak hanya untuk kita saja tapi juga industri musik saling berbagi. Kita percaya di Bali punya nilai-nilai ini."

 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 

A post shared by NAVICULA (@naviculamusic)

Navicula Tetap Aktif di Saat Pandemi

Meski serangkaian rintangan menghadang, Navicula tak berhenti melangkah dan berkarya dalam kondisi pandemi. Navicula memanfaatkan betul waktu yang mereka miliki untuk berada di studio selama masa pandemi ini.

Navicula merilis sebuah album tribute yang mereka dedikasikan kepada para idola mereka dari ranah musik dalam negeri di A Tribute to Local Inspiration. Selain rekaman, Navicula juga mempersembahkan konser daring pada 11 Juli 2020.

Band-band seperti Koil, Kubik, Cherry Bombshell, Pas Band, Nugie, Plastik, Superman is Dead, LFM, dan lainnya, diakui telah memberi pengaruh yang kuat kepada Navicula saat mereka berdiri di dekade 90an lalu. Deretan band tersebut juga menjadi tonggak kemunculan istilah independen.

"Saya tertarik dengan istilah Indie atau independent, karena Pas Band yang mempopulerkannya saat itu. Saya merasakan dan melewati melankolia ABG saat itu dengan lirik lagu Matel dari Kubik. Nongkrong dengan sahabat-sahabat sambil membawakan lagu Plastik. Terpesona dengan “attitude” dan lirik kelam dari Koil," ujar Robi mewakili Navicula.

"Dan, band saya Navicula, sama- sama meniti karier dari nol dan ikut serta sejak awal mendirikan dan membesarkan skena musik indie di kampung halaman kita, Bali, bersama rekan seperjuangan kita, Superman is Dead. Sejak itu, saya yang masih duduk di bangku kelas 2 SMA (atau kelas 11 sekarang), dan memiliki mimpi-mimpi indah untuk bisa tetap ngeband hingga tua," tuturnya.

"Musik adalah soundtrack hidup. Masa remaja adalah masa terbaik kita menyerap pengaruh dari lingkungan; apa yang kita lihat, dengar, dan rasakan. Lagu-lagu yang kamu dengar saat remaja bisa jadi adalah playlist di hatimu selamanya. Tanpa band-band ini, Navicula bukanlah Navicula yang kita dengar sekarang."

"Sekarang, di waktu ini, di studio rumah, kami menyiapkan altar, menyalakan lilin, dan membuat sebuah perayaan bagi Inspirasi."

Sebagian keuntungan dari penjualan album ini akan didonasikan Navicula ke rumah produksi bahan baku hand sanitizer yang disalurkan ke seluruh fasilitas pelayanan medis dan masyarakat yang membutuhkan.

Derma Navicula Kala Pandemi

Tak hanya terus aktif berkarya, Navicula juga menunjukkan sisi kepedulian mereka terhadap dampak yang ditimbulkan pandemi di negeri ini, khususnya Bali yang begitu terdampak dari segi pariwisatanya. Oleh karena itu, sejak Maret lalu Navicula genjar melakukan aksi sosial untuk membantu mereka yang terdampak dan menjadi garda terdepan mengatasi COVID-19.

Navicula mulai menerapkan konsep konser virtual agar bisa ditonton semua orang meski hanya berada di rumah. Konser ini bukan sekadar mencari keuntungan, tetapi langkah Navicula dalam menyadarkan masyarakat bahwa pandemi bisa diatasi bersama dengan menaati protokol kesehatan yang telah ditetapkan.

Pada April 2020, Navicula menggelar konser virtual yang digunakan sebagai tempat menyalurkan bantuan face shield. Upaya Navicula berbuah hasil karena konser itu berbuah perisai wajah sebanyak 3.000 buah yang disalurkan ke posyandu, puskesmas, dan rumah sakit di seluruh Bali.

Tak sampai di situ, Navicula menggelar konser virtual kembali pada Juli 2020 dengan menggandeng pihak media. Di konser kali itu, dana yang terkumpul digunakan untuk menyulap minuman khas Bali, Arak Bali, menjadi cairan pembersih tangan atau hand sanitizer.

"Semuanya bermula ketika saya bersama Rudolf Dethu (penulis dan manajer Superman Is Dead) membuat festival Arak Bali pada Februari lalu di Rumah Sanur. Ini acara kecil-kecilan saja untuk mempromosikan kekayaan jenis arak yang ada di Bali," tutur sang frontman sekaligus vokalis Navicula, Gede Robi Supriyanto, kepada Tempo.

"Saya baru tahu (alkohol untuk arak bisa dipakai sebagai bahan baku cairan pembersih tangan) ketika ngobrol-ngobrol dengan pengrajin arak saat Festival Arak, bahwa kadar alkohol dalam produksi tuak untuk bahan baku arak itu bisa disesuaikan. Mau lebih rendah atau lebih tinggi. Biasanya arak memakai tuak dengan kadar alkohol 30-40%, ini hasil proses distilasi tuak sebanyak satu kali, kalau mau kadar alkoholnya lebih tinggi distilasinya dilakukan berkali-kali."

Navicula yang sudah terbentuk sejak tahun 1996 di Bali, kini telah melahirkan sembilan album studio. Selain rajin menggelar tur ke luar negeri, dari Eropa hingga Amerika Serikat, berbagai penghargaan juga telah didapat oleh band yang kerap membawa isu kerusakan alam di banyak lagunya ini.

0 COMMENTS