New Musick: 10 Album Pengantar Post-Punk

  • By: NTP
  • Rabu, 20 September 2017
  • 5277 Views
  • 0 Likes
  • 0 Shares

“Soal tingginya kuantitas dan kualitas musik, idealisme dan semangat penjelajahan, keterhubungan musik dengan goncangan sosial-politik, maka era post-punk berdiri sejajar dengan era 60-an.”

- Simon Reynolds, Rip It Up and Start Again: Postpunk 1978-1984 (2006)

Public Image Ltd, Gang of Four, Joy Division, The Fall, The Jam, Devo, Pere Ubu, Human League, Talking Heads, Scritti Politti, The Slits, The Raincoats, Nick Cave & The Bad Seeds, The Birthday Party, The B-52’s, Throbbing Gristle, Killing Joke, Suicide, Wire, Television, The Cure, Echo & The Bunnymen dan Magazine. Semuanya adalah post-punk, punk, atau bukan keduanya sama sekali. Sejak dikanonisasi lewat buku Rip It Up and Start Again: Postpunk 1978-1984 karya Simon Reynolds, post-punk menjadi istilah rumit yang tak jelas payungnya, kadang disebut ahistoris dan elitis, atau tenggelam menjadi debat kusir macam Intelligent Dance Music atau Cascadian Black Metal.

Bagi Alex Ogg, penulis dan wartawan The Guardian, post-punk adalah persoalan pendekatan dan sensibilitas artistik, alih-alih gaya atau benang merah bunyi yang menyatukan band-band tersebut. Ia juga mempersoalkan penggunaan prefiks “post” pada istilah ini, karena kebanyakan band yang disematkan sebagai post-punk justru terbentuk sebelum punk berakhir (tahun 1977, atau setelah Sex Pistols bubar). Sementara argumen Reynolds menggarisbawahi pentingnya bentuk post-punk sebagai ruang kemungkinan yang dibuka oleh band-band tersebut, di mana DNA rock n’ roll bertemu sound lain. Penjelasan Reynolds memang mengandung ambiguitas berdosis tinggi, tapi dari situlah kita bisa mulai bertanya, “Post-punk itu kayak apa sih?”

[bacajuga]

Berangkat dari titik itu, kita bisa menggunakan penggambaran Nicholas Lezard, kritikus sastra dan jurnalis The Guardian, post-punk adalah penggabungan antara seni dan musik. Band post-punk bereksperimen dengan elemen-elemen yang dianggap asing, seperti dub, reggae, funk, disco, jazz, electronica, krautrock/komische, dan komposisi avant-garde. Tak hanya soal bunyi, tema lirik mereka juga meluas hingga wilayah “seni tinggi” dan budaya tinggi/rendah. Film, filsafat, sastra, performance art, politik, teori kritis, eksitensialisme, posmodernisme, Dadaisme, Situasionisme, dan keterasingan bukanlah topik asing dalam deretan bait post-punk.

Dari manapun mereka berasal, ada suatu keunikan yang muncul pada musik post-punk. Sebagai penerus (atau pembunuh?) punk, para musisi ini terbuka lebar dengan ide-ide progresif, bahkan yang kala itu dianggap aneh sekalipun. Musik dansa dan kulit hitam dikembalikan ke posisi setara, diserap sebagai bagian identitas mereka. Formula gitar, bass, drum, vokal mendapat suntikan bunyi synthesizer. Satu-satunya batas adalah skill instrumen dan imajinasi mereka sendiri. Band-band post-punk ingin membuat pendengar mereka berpikir, dan berdansa di saat yang bersamaan.

Tingkat kerumitan seperti itu tentu tak bisa direplikasi secara konsisten layaknya rock n’ roll. Reynolds secara tidak langsung menetapkan tahun kematian post-punk di tahun 1984. Jika sesuatu yang berharga tinggi telah mati, konsekuensinya adalah suatu hari ia akan dibangkitkan dari kubur. Pada tahun 2001, Reynolds secara hati-hati memperingatkan bahwa post-punk dan “new musick” era 80-an akan bangkit sebagai budaya retro. Tebakannya akurat; Interpol, Franz Ferdinand, The Strokes, The Rapture, Liars, The Sounds, Editors, dan LCD Soundsystem adalah sedikit dari rentetan revivalist post-punk. Beberapa band tersebut pada rentang produktifnya menghasilkan karya berpengaruh, walaupun kebanyakan mereka akhirnya terkubur zaman di penghujung dekade 2000-an.

Rimba urban post-punk yang begitu lebat dan riuh tentu perlu dijelajahi dengan petunjuk awal yang jelas. Tentu penulis tidak akan mencoba mencuri momen seru saat kita menemukan album aneh yang akhirnya melengkapi kepingan jiwa kalian. Biarlah momen itu akhirnya kita rasakan sendiri, untuk saat ini, menulis pengantar agaknya perlu agar kita tidak tersesat menganggap Interpol sebagai reinkarnasi Joy Division. Berikut adalah sepuluh album pengantar menuju mesin waktu post-punk:

Killing Joke - Killing Joke  (1980)

Sejak album ini dirilis, band-band bawah tanah mencoba memainkan denyut dingin album perdana Killing Joke. Album ini adalah musik tribal yang dimainkan di tengah belantara urban, berisi dentum industrial, agresi punk dan nada-nada synth atmosferik.

Dibanding album lain di periode awal post-punk, Killing Joke memainkan komposisi dan sound yang paling kasar. Debut ini begitu geram dan gelap, tapi mengundang dansa di saat bersamaan. Cetak biru Killing Joke nantinya akan memengaruhi kancah industrial Chicago, khususnya Big Black dan Ministry.

The Cure - Pornography (1982)

Album ini justru adalah perpisahan The Cure dengan (apa yang dianggap) corak sound post-punk. Pornography adalah album keempat mereka, awal dari penjelajahan The Cure di spektrum bunyi pop, shoegaze dan psychedelic. Di album ini The Cure tengah berada di akhir perjalanan alur post-punk, hasilnya sound mereka jadi begitu gelap, dingin dan suram. Melapisi detak drum sedingin drum machine, dan riuhnya gitar melapisi vokal kelam Robert Smith. Formula ini kemudian ditarik ke titik tergelapnya oleh gerakan goth.

Awalnya album ini direspon dengan buruk oleh pasar, tapi kini posisi Pornography sebagai album penting dan transisi The Cure menjadi dirinya sendiri, tak bisa dibantah.

The Slits - Cut (1979)

Trio perempuan ini adalah band post-punk yang memberi porsi terbesar bagi dub dan reggae di musik mereka. Cut dipenuhi ciri khas reggae dan dub, goyangan bass dan ketukan satu-dua manis bergabung dengan irama aneh yang disaring melalui delay, reverb dan efek lainnya. Perpaduan musik dance dan punk Cut mencapai takaran seimbang. Fondasi ini melengkapi pengaruh musik tradisional melengkapi lirik feminis dan tampilan politis The Slits. Mereka terlalu unik untuk dinaungi label post-punk, tapi merekalah band yang tepat mewakili ‘wajah’ progresif post-punk.

The Raincoats - The Raincoats (1979)

Mereka adalah praktisi jargon, “biar jelek yang penting gaya”. Kemampuan minim The Raincoats memainkan instrumen adalah keunggulan mereka. Kebingungan mereka berdampingan dengan dengan nada pop ceria, di antara sumbangnya nada dan kasarnya bebunyian yang memenuhi album ini. Agaknya kemampuan The Raincoats memainkan musik menarik yang mudah dicerna datang dari kontradiksi tersebut.

Modus The Raincoats bermain di spektrum lo-fi, dan memaksimalkan ide ‘persetan skill’ yang didobrak punk era ’77, akhirnya semakin populer pada dekade ’90-an. Sengaja atau tidak, The Raincoats membuka kotak Pandora baru, bahwa musik bisa memuat banyak elemen tanpa kemampuan teknis yang dianggap ‘memadai’.

Wire - Chairs Missing (1978)

Di Britania Raya, chairs missing adalah istilah untuk orang yang tengah mengalami gangguan mental. Perubahan sound Wire pun terdengar seperti orang yang menyadari bahwa dirinya sedang tidak baik-baik saja.

Melanjutkan komposisi punk minimalis Pink Flag (1977), Wire menarik sound psychedelic, progressive, dan art-rock, yang kala itu tengah mendominasi rock arus utama. Penggunaan instrumen baru seperti kibor, synthesizer, efek gitar yang lebih banyak, dan ketukan disco menandai periode eksperimentasi spektrum sound post-punk. Chairs Missing berjalan di antara kegelapan atmosfer synth/gitar Wire dan kemahiran mereka mengeksekusi komposisi. Pengaruh album ini terdeteksi hingga album-album indie rock masa kini.

Talking Heads – Remain In Light (1980)

Dinamika Talking Heads (khususnya produser Brian Eno-vokalis/gitaris David Byrne) di album ini menghasilkan karya yang berbeda, penting (diabadikan di Daftar Rekaman Nasional AS, Perpustakaan Kongres) dan sulit dilampaui. Talking Heads mencomot bebunyian funk dan electronica, menggunakan tape loop dan sample, semuanya dimotori detak poliritmik Afrika. Afrobeat (yang dimulai Fela Kuti, musisi Nigeria) menjadi pendorong perkusi, pengikat lapisan gitar dan kibor. Perpaduan ini menghasilkan tekstur tebal dan renyah.

Lewat Remain In Light juga, Byrne dkk menjadi salah satu band (selain New Order) yang sukses mempertahankan sound khas selagi bertransisi dari post-punk ke new wave. Talking Heads mengunci nama mereka sebagai band yang turut mengubah musik pop di millenium baru.

Magazine - Real Life (1978)

Band ini dibentuk oleh Howard Devoto (eks vokalis Buzzcocks). Ia menginginkan sound yang lebih progresif. Baginya, fakta bahwa satu-satunya rilisan Buzzcocks (Spiral Scratch EP, 1977) adalah album independen pertama, Devoto ingin menjelajahi ranah eksperimental lewat Magazine. Transisi Devoto melibatkan dosis tinggi piano dan synth, dan komposisi panjang untuk membangun atmosfer.

Di album ini Magazine beberapa kali terdengar seperti band progressive rock, disokong detailnya melodi hingga atmosfer tebal. Tenaga besar Buzzcocks tidak sama sekali hilang, tapi berubah menjadi nuansa gelap Real Life. Album ini tepat disebut sebagai jembatan punk ’77 dan post-punk setelahnya.

Gang of Four - Entertainment! (1979)

Album ini melampaui fragmen sound dan faksi kelokalan, menyatukan berbagai elemen yang dipayungi post-punk. Debut Gang of Four ini memuat elemen politis, memicu dansa, mentah, keras dan intelek di saat yang bersamaan. Mereka mengemas semuanya tanpa kesulitan berarti dan terhindar dari kompleksitas berlebihan. Keseriusan Entertainment! cair bersama energi mentah dan groove membius, tema-tema politis menyesap tanpa terdengar seperti ceramah. Di tengah belantara ide, ideologi, visi artistik dan variasi sound yang memeriahkan post-punk, Gang of Four membungkus semuanya dengan cerdik lewat Entertainment!

Public Image Ltd - Metal Box (1979)

Metal Box adalah visi artistik John Lydon yang terkubur saat ia masih bernama Johnny Rotten di Sex Pistols. Jika Public Image Ltd adalah hidup Lydon setelah punk berakhir, Metal Box adalah manifesto keduanya usai “No future for you!”

Lydon dan PiL menyempurnakan formula post-punk mereka di album ini, penuh dengungan, murung dan berdetak dengan melodius. Kegilaan PiL mengubah disco terdengar industrial, punk menjadi seruan kejam, berdenyut menuju maut. Pada Metal Box, Lydon melampaui Sex Pistols, menjadikan punk, post-punk dan musik perlawanan setelahnya bukan hanya kemarahan yang tak terarah.

Joy Division - Unknown Pleasures (1979)

Mark Fisher, teoris dan kritikus musik asal Inggris, menyebut album ini sebagai musik pertama yang melepaskan energi negatif secara total. Nihilis, intim, mentah, putus asa, rapuh, dan mekanis, Unknown Pleasures secara mengherankan menarik jutaan telinga untuk sama-sama mengurung diri di dalamnya. Joy Division menggali dan mewakili keputusasaan tentang membusuknya masa depan. Segala aspek musik Unknown Pleasures menampilkan ketidaksempurnaan, terutama vokal Ian Curtis.

Walau Closer (1980) memiliki sound dan komposisi yang telah matang, visi artistik Unknown Pleasures belum bisa ditandingi. Gerakan goth, grunge, alternative rock dan sisi eksperimental rock berutang banyak pada Unknown Pleasures. Album ini adalah cermin penghujung abad 20.

0 COMMENTS

Info Terkait

superbuzz
254 views
superbuzz
949 views
supericon
667 views

Nick Cave: The Prince of Darkness