NOXA Mau Support Band Lokal? Jangan Minta Gratisan Melulu!

  • By: LS
  • Minggu, 22 November 2015
  • 4706 Views
  • 1 Likes
  • 0 Shares

Bentuk support macam apa yang sudah kalian beri untuk band-band lokal pujaan? Bela-belain beli tiket buat nonton mereka? Beli merchandise original? Boleh lah, tapi kalau ujung-ujungnya minta, justru hal ini malah ngerugiin mereka. Bikin karya itu tidak mudah, untuk manggung saja mereka butuh latihan berjam-jam, belum lagi equipment yang jadi kebutuhan mereka buat manggung. Jangan lupakan substansi lainnya juga, band tidak berdiri sendiri, mereka juga dibantu kru setiap manggung. Mereka juga butuh dana buat merilis CD, kaset dan rilisan fisik lainnya.

SuperMusic ID sempat berbincang-bincang soal hal ini dengan vokalis Tonny Christian Pangemanan dan gitaris Ade Himernio Adnis dari band grindcore Noxa. Jam terbang mereka sudah tidak perlu ditanya lagi. Mereka termasuk salah satu band grindcore Indonesia yang konsisten berkarya sampai saat ini. Noxa pun pernah berkali-kali manggung di festival musik metal internasional. Mereka berbagi pengalaman soal perbedaan fans di luar negeri dan Indonesia.

Bentuk dukungan di luar lebih realistis

“Kalau di sana mereka lebih realistis. Kalau mereka enggak suka ya udah, tapi kalau ternyata suka mereka bakal support banget. Kayak kemarin kita main, ketika ada penonton yang suka mereka gila-gilaan, sampai ada yang beli merchandise, ngajak makan, segala macam, sampai kayak gitu,” cetus Ade.

Bentuk dukungan yang mereka dapatkan ketika manggung di luar negeri dan Indonesia ternyata agak berbeda. Di Indonesia, rasanya menonton saja sudah cukup menjadi bentuk dukungan bagi band. “Di sini mereka support ya support aja. Mereka yang di sana mau ngeluarin uang buat merchandise kita. Mereka kelihatan banget kalau respect dan dukung,” ungkap Ade.

Tonny menambahkan, “Kalau di luar sih mereka biasanya lihat dulu semuanya, kalau di sini kan support-nya, lama-lama minta. Kita sih inginnya yang di sini kayak mereka juga. Mereka beli, tapi kadang, ‘Bang boleh minta ini, enggak’. Rata-rata di Indonesia begitu”. Sekadar minta tanda tangan atau stiker mungkin tidak memberatkan, tapi kalau sampai minta CD dan merchandise juga, kita sama saja mengurangi jatah penghasilan mereka yang notabene bagian dari karir musik sebuah band.

Fans metal di luar datang dari kelas menengah ke bawah dan atas

Kalangan penikmat musik metal di Indonesia bisa saja datang dari berbagai kelas, namun hal ini tidak begitu terlihat ketika menghadiri festival musik metal dan keras. Ketidakmerataan ini tampak sangat kentara. Ade dan Tonny pun setuju akan hal ini. Pengalaman berbeda mereka rasakan ketika manggung di luar negeri. Bahkan mereka menemui penikmat yang datang dari kelas menengah atas dalam sebuah konser.

Fans metal di luar itu campur, ya. Ada yang kelas atas, ada yang kelas bawah juga, malah ada mereka yang punya jabatan tinggi. Kayak di Finland, dia kerja di perusahaan handphone dan levelnya di atas manajer, tapi mereka suka musik metal. Mereka lebih suka musik yang mengandung unsur pemberontakan, musik keras yang ekstrem,” ujar Ade.

Ya, bisa saja ketidakmerataan itu yang membuat cerita ‘Bang, boleh minta merchandise, enggak’ itu masih terjadi. Bukannya masih bisa nabung, ya? Demi idola, kenapa enggak?

Foto: Lukman Anugerah

0 COMMENTS