Pamerkan Hotel Baru, The Libertines Gelar Acara Pencarian Bakat Virtual

Pamerkan Hotel Baru, The Libertines Gelar Acara Pencarian Bakat Virtual

  • By:
  • Jumat, 11 December 2020
  • 241 Views
  • 1 Likes
  • 0 Shares

Dalam beberapa tahun ke belakang, pergerakan The Libertines di kancah musik di dunia seakan tertidur dalam waktu yang cukup lama. Kedua pentolan The Libertines, Carl Barat dan Pete Doherty terkesan memiliki kesibukan masing-masing yang menyita waktu bermusik bersama mereka. Namun di tahun 2020 ini mereka kembali lagi muncul ke permukaan dengan ulah yang cukup nyeleneh.

Mengatasi permasalahan panggung di masa pandemi, The Libertines baru-baru saja mengadakan sebuah pagelaran seni pertunjukan secara live streaming. Berdurasi selama dua jam, The Libertines mengadakan acara pertunjukan serta pencarian bakat untuk musisi, komedian, serta penyair pada 21 November yang lalu. Para anggota The Libertines yang meliputi Carl Barat, Pete Doherty, John Hassall, dan Gary Powell pun ikut tampil menunjukkan bakat masing-masing pada acara tersebut.

Untuk format pencarian bakatnya, The Libertines membuka sesi open submissions untuk setiap orang yang bersedia menyertakan karya-karya kreatifnya dalam bentuk musik dan video yang memperlihatkan bakat setiap orang yang berkeinginan untuk tampil pada acara tersebut. Dari setiap submissions yang masuk, The Libertines melakukan proses kurasi dan hanya akan menampilkan pertunjukkan dari orang dengan karya yang mereka suka. Setiap peserta juga hanya membutuhkan koneksi internet yang baik dan piranti komputer beserta webcam untuk dapat tampil dari tempat tinggal masing-masing.

Selain dimeriahkan dengan pertunjukkan musik dari The Libertines, acara ini juga dimeriahkan dengan penampilan dari Hak Baker, Jon McClure dari Reverend And The Makers, Giant Drag, dan Jack Jones dari Trampolene. Di luar musik, The Libertines mengundang Seann Walsh dan Matt Forde untuk tampil sebagai komedian serta Mike Garry dan Toria Garbutt untuk membacakan karya puisi masing-masing. Paul McCaffrey dan Luke Wright juga hadir untuk menampilkan pertunjukkan kolaborasi antara komedi dan sastra. Para penonton dikenakan harga tiket sebesar 4 poundsterling yang keuntungannya didonasikan untuk panti sosial bagi kalangan tuna wisma.

The Libertines memberi judul acara tersebut dengan nama RKD TV dan disiarkan di The Waste Land Pub di hotel pribadi mereka, The Albion Rooms yang pertama kali dikenalkan pada bulan Oktober lalu. Acara ajang pencarian bakat yang digelar oleh The Libertines ini juga berperan sebagai sebuah media promosi untuk memperkenalkan The Waste Land Pub sebagai tempat hangout atau berkumpul bagi mereka yang menggemari atau memiliki kesamaan selera dengan band asal Inggris tersebut. Carl Barat juga sempat mengunggah video hotel tour dari properti pribadi milik The Libertines tersebut. Menurut salah satu pendiri band yang terbentuk pada tahun 1997 ini, hotel yang dibangun atas nama The Libertines ini merupakan sebuah solusi bagi permasalahan dirinya dan para anggota band yang kerap kali memiliki pengalaman buruk saat melangsungkan konser atau tur secara independen. Maka dari itu, setiap anggota The Libertines memiliki masukannya masing-masing untuk mendesain setidaknya satu dari lima lantai bangunan di bagian timur kota London.

Gaya hidup glamor yang kini dirasakan oleh The Libertines mereka raih di awal tahun 2000-an saat nama mereka mulai dikenal secara luas oleh penikmat musik rock dunia. Di tahun 2002, The Libertines pertama kali merilis album berjudul Up The Bracket yang hanya berhasil menyentuh posisi ke-35 di tangga album Inggris Raya. Meskipun terkesan kurang memuaskan, menurut publik Inggris, album perdana The Libertines ini dianggap menjadi salah satu pendorong dalam populernya kembali genre musik alternative rock di tanah tersebut. Bahkan beberapa kritikus dan media musik pun mengatakan bahwa album perdana The Libertines ini pantas jadi salah satu album terbaik rilis di dekade 2000-an.

Kepopuleran The Libertines tidak hanya hadir berkat rilisan album pertamanya. Nama mereka kerap kali mencuat di berbagai media kala itu akibat Pete Doherty yang kerap kali keluar masuk panti rehabilitasi akibat ketergantungannya dengan heroin. Bahkan tidak jarang salah satu vokalis dan gitaris di tubuh The Libertines tersebut berurusan dengan pihak kepolisian atas transaksi dan kepemilikan obat-obatan ilegal yang masih berlangsung hingga saat ini. Masalah yang dialami oleh Pete Doherty juga akhirnya memengaruhi hubungannya dengan Carl Barat dan merusak harmonisasi yang ada di dalam tubuh The Libertines. Namun keduanya masih bisa menjalani hubungan profesional secara baik hingga akhirnya berhasil merilis album keduanya pada tahun 2004.

Album kedua The Libertines ini ditulis sebagai sebuah karya biografis yang menggambarkan betapa beratnya untuk mempertahankan hubungan persahabatan di antara Carl Barat dan Pete Doherty kala itu. Dengan materi-materi yang bernuansa personal, album milik The Libertines ini berhasil menduduki puncak tangga album Inggris Raya di minggu pertama perilisannya dan berhasil lebih dari 70 ribu keping terjual. Kesuksesan secara komersial yang diraih oleh The Libertines melalui album keduanya ternyata tidak mampu memperbaiki hubungan di antara kedua pendirinya tersebut. Akhirnya, Carl Barat memutuskan untuk membubarkan The Libertines di akhir tahun 2004 akibat sikap Pete Doherty yang tidak pernah mengutamakan kelompok musik yang dibangunnya tersebut.

Enam tahun berpisah, akhirnya Carl Barat dan Pete Doherty kembali bertemu dan mulai mencoba untuk memperbaiki hubungan masing-masing dan berharap untuk mendirikan kembali The Libertines. Keinginan tersebut akhirnya menjadi kenyataan, The Libertines kembali tampil di atas panggung bersama untuk Reading and Leeds Festivals di tahun 2010. Dari penampilan reuninya tersebut, akhirnya The Libertines pun memutuskan untuk berkarya bersama dan pada tahun 2015 berhasil merilis album ketiganya berjudul Anthems for Doomed Youth dalam format deluxe dan reguler.

0 COMMENTS