PAPA EMERITUS: Selalu Anggap Ghost Sebagai Proyek Solo

  • By: NTP
  • Selasa, 25 April 2017
  • 5206 Views
  • 0 Likes
  • 0 Shares

Kekisruhan di tubuh Ghost kian memanas. Di awal bulan April, Tobias Forge (sosok dibalik Papa Emeritus, vokalis Ghost) dituntut oleh empat mantan personel Ghost. Tuntutan tersebut dilayangkan sebulan setelah sang gitaris, Martin Persner, memutuskan hengkang dari Ghost pada Juli 2016.

[bacajuga]

Tuntutan yang dilayangkan di Linköping, kota asal Ghost di Swedia, ini mengklaim bahwa hanya Forge yang punya kuasa mengontrol bisnis Ghost tanpa masukan dari personel lain, sekaligus menjalankan tugas manajemen band. Forge juga disangka telah meraup keuntungan dari album dan pernak-pernik Ghost sejak 2010.

Forge juga dituduh menahan keuntungan dari penjualan album dan penghasilan dari rangkaian tur mereka. Keempat personel tersebut pun akhirnya dipecat secara bersamaan di akhir 2016.

Keempat personel tersebut adalah Simon SoĢˆderberg (alias Alpha, personel Ghost sejak 2010 hingga 2016), Mauro Rubino (Air, personel Ghost sejak 2011 hingga 2016), Henrik Palm (Eather, personel Ghost sejak 2015 hingga 2016) dan Martin Hjertstedt (Earth, personel Ghost sejak 2014 hingga 2016).

Empat mantan awak band tersebut meminta pengadilan untuk memerintahkan Forge membuka pemasukan dan pengeluaran Ghost pada periode 2011 hingga 2016, serta mengungkap aset-asetnya hingga 31 Desember 2016. Pada periode tersebut Forge menyatakan bahwa bisnis mereka belum meraih profit, selagi menolak membuka catatan finansial Ghost. Jika Forge gagal memenuhi tuntutan tersebut, keempat mantan anggota Ghost itu memintanya untuk membayar biaya penalti sebesar $22 ribu.

Selama Ghost masih aktif merilis album dan melaksanakan tur, pergantian personel adalah hal yang mudah bagi Forge. Dalam wawancara di Radio Metal Prancis pada 28 Maret lalu. Forge mengatakan tiap kali personel baru bergabung, ia akan mengajarinya lagu-lagu Ghost. Bagi Forge, kesulitan datang ketika mereka harus berangkat tur.

“Menyuruh seseorang memakai topeng dan menjalani rangkaian tur adalah sebuah masalah tersendiri, karena banyak orang berpikir bahwa memainkan musik rock sama dengan dikenal orang banyak. Saya juga begitu, tapi saya tidak ingin dihargai dalam bentuk seperti itu. Saya kerap melawan tabiat manusia seperti itu, sekarang saya sudah menyerah, kita tak bisa menang melawannya,” ujar Forge.

Dalam wawancara tersebut Forge juga mengungkap alasannya mengganti seluruh personel Ghost. Menurut Forge, Ghost tidak dibentuk sebagai band, melainkan proyek pribadinya yang selalu berganti personel, ia juga mencontohkan bahwa personel Ghost tak pernah sama sejak bulan Oktober 2010.

“Ghost tidak pernah dibentuk sebagai band, bentuk kami kira-kira seperti Bathory, di mana para personel yang terlibat dalam proses rekaman belum tentu juga menjadi personel di panggung.”

“Contohnya di album Opus [Eponymous] (2010) dan Meliora (2015), ada seorang drummer yang tidak pernah tampil di panggung bersama kami. Jadi bagi saya, apa yang para penggemar pikir itu tidak benar, pada akhirnya mereka akan tahu bahwa apa yang mereka katakan atau pikirkan itu tidak berdasarkan fakta. Saya tidak khawatir.”

“Menjadi sebuah band yang tidak berfungsi seperti band-band lain adalah berkah sekaligus kutukan bagi kami,” papar Forge.

0 COMMENTS

Info Terkait