Superglad

Pasang Surut Kerajaan Punk Rock Superglad

  • By:
  • Rabu, 14 October 2020
  • 2349 Views
  • 2 Likes
  • 0 Shares

Dibentuk di tahun 2003, Superglad adalah sebuah band punk rock asal Ibukota yang cocok untuk disematkan dengan citra rockstar. Penampilan yang mencolok dan terkesan glamor merupakan salah satu ciri yang melekat di aksi panggung band tersebut. Sebelum resmi dikenal dengan nama Superglad, band ini memiliki nama awal The Glad yang sebetulnya diambil dari inisial nama panggilan para personelnya, G dari Giox (bass) atau Agus Purnomo, L dari Lukman Laksmana (vokal, gitar) atau akrab dikenal Buluk, A dari Akbar (drum) dengan nama lengkap Frid Akbar, dan D dari Dadi Yudistira (gitar). Jika digabungkan inisial tersebut membentuk kata GLAD. Namun, merasa kurang enak didengar, akhirnya sang manajer kala itu, Ozzy Big mencetuskan nama Superglad hingga saat ini.

Sebelum menjadi Superglad, keempat member band ini merupakan rekan satu grup musik bernama Waiting Room bersama Eka Annash yang kini jadi motor penggerak di band rock Ibukota lainnya, The Brandals. Hanya berhasil menelurkan dua album, Buluk akhirnya memutuskan untuk hengkang dari band tersebut. Gairah yang berkurang di dalam tubuh band tersebut, membuat Buluk mengajak Giox, Akbar, dan Dadi untuk kembali bersatu dan membuat sebuah band rock alternatif awalnya. Namun, kecintaan yang sama terhadap musik punk, membuat para member Superglad ini mantap memilih musik punk rock sebagai bahasa utama dalam musik mereka.

Sepanjang karier bermusiknya, Superglad telah melahirkan 7 buah album. “The Superglad” merupakan album perdana dari band ini yang rilis di tahun 2003. Melalui album perdana ini, nama Superglad sedikit demi sedikit mulai menggema di skena musik independen Jakarta. Potensi gemilang dan semangat yang semakin panas, membuat Superglad lanjut melebarkan sayapnya melalui album “Ketika Hati Bicara” di tahun 2005. Nama Superglad semakin harum dan mendapatkan atensi dari penikmat musik yang lebih luas melalui album ketiga, “Flamboyan” di tahun 2008 dan album keempat “Never Die” pada tahun 2009. Kedua album tersebut membawa lagu-lagu andalan yang akhirnya seperti “Teenflick Rockers”, “Flamboyan”, serta “Hey Nona” dan “D_4ll4Y5” meraih audiens yang lebih luas. Di album “Never Die”, Superglad juga mengajak kolaborasi musisi-musisi andal, di antaranya ada Eet Sjahranie dari Edane, Pay dari BIP, dan Baging dari Shore.

Perjalanan musik Superglad pun dilanjut dengan kehadiran album kelima, “Cinta dan Nafsu” di tahun 2011. Di tahun 2012, Superglad sempat merilis sebuah film dokumenter yang hadir dalam format DVD dan baru-baru ini, dokumenter berjudul “Kemarin, Hari Ini, dan Selamanya, Rock Together” dirilis ulang dan diunggah untuk dapat ditonton secara gratis di Youtube. Sebelum merilis album keenam, Superglad merilis sebuah album kompilasi berisi lagu-lagu terbaiknya yang diaransemen ulang dengan format akustik, berjudul “Tanpa Distorsi” di tahun 2013. Album “Tanpa Distorsi” seakan menawarkan sisi lain dari band yang terkenal dengan perawakan layaknya berandalan. Berbicara mengenai berandal, Superglad merilis” Berandalan Ibukota” sebagai album keenamnya. Album yang dirilis di tahun 2013 ini terbilang spesial, karena hampir semua lagu di dalamnya direkam melalui proses kolaborasi musisi-musisi berkelas Tanah Air. Di album Berandalan Ibukota, Superglad mengajak Eben dari Burgerkill, Roy Jeconiah, Farri Icksan Wibisana dari The Sigit, hingga Ras Muhammad. Berselang 4 tahun, di 2017, Superglad kembali dengan album ketujuhnya, berjudul “Terangkan Dunia”. Setiap album yang dirilis oleh Superglad memiliki karakternya sendiri, karena melalui musiknya terdengar perbedaan dan pendewasaan yang dijalani di dalam tubuh mereka.

Superglad memang terlihat sangat produktif sebagai sebuah band, namun siapa yang sangka jika band ini pun mengalami pasang surut yang cukup membuat nama mereka timbul dan tenggelam. Di tahun 2017, Superglad harus memutuskan bahwa mereka perlu memberi waktu istirahat untuk sang vokalis. Pada masa istirahatnya, Buluk memilih untuk memperbaiki hati dan lebih mendekatkan dirinya kepada yang maha kuasa. Buluk pun mengakui, bahwa di masa-masa tersebut dirinya ingin mencoba untuk menjalani hidup secara lebih baik. 

Satu tahun sebelumnya, tahun 2016, Buluk merasa hidupnya kala itu berada di titik yang terendah. Mulai dari usaha yang bangkrut, tidak dapat bertemu sang anak, hingga percobaan bunuh diri. Atas dasar itu, Buluk mulai mencari jalan untuk perlahan bangkit kembali. Sebelum masalah mulai menggunung di dalam hidupnya, Buluk dikenal sebagai pangeran punk rock. Kesuksesan bersama Superglad membuat hidupnya bergelimang harta. Buluk pun pernah memiliki motor Harley Davidson yang kini sudah tidak lagi dimilikinya. Di tengah-tengah kesibukannya di Superglad, Buluk pun aktif bermusik di Kausa dengan nuansa musik yang lebih tajam dan kelam. Selain itu, Buluk Superglad juga mulai merambah dunia content creator Youtube melalui kanalnya, “Catatan Si Buluk”. Di dalam kanal Youtube-nya, tersaji konten-konten wawancara bersama para musisi dan tokoh yang berpengaruh dalam kehidupan Buluk.

Baca juga: Ibanez KIKO 100

Hidupnya yang mulai perlahan membaik, akhirnya Buluk kembali mengisi posisi yang dirinya tinggalkan di tahun 2019. Sebagai perayaan kembalinya Buluk, Superglad pun merilis single terbaru di tahun yang sama berjudul Kembali. Menyambut Buluk yang kembali pulang, single Kembali dari Superglad juga jadi sebuah tanda perpisahan dari Dadi. Menurut info yang tersiar dari tubuh Superglad, Dadi pamit untuk lebih dapat memiliki waktu lebih bersama keluarganya. Perpisahan Dadi bersama Superglad diabadikan dalam sebuah panggung festival musik Synchronize Fest di tahun 2019. Sepeninggalan Dadi, Superglad tetap berkomitmen untuk terus berkarya dengan formasi bertiga. Hal ini dibuktikan melalui rilisan terbaru mereka dalam format EP berjudul Rockaholic Revival yang rilis pada Maret 2020 lalu.

0 COMMENTS