Portal Music

Sucker Head

Perjalanan Sucker Head Mengibarkan Bendera Thrash Metal Indonesia

  • By:
  • Kamis, 22 October 2020
  • 824 Views
  • 2 Likes
  • 0 Shares

Malang melintang di kancah musik bawah tanah Indonesia, Sucker Head merupakan salah satu nama besar di skena thrash metal yang telah mengantongi berbagai macam pengalaman selama perjalanan kariernya. Didirikan di tahun 1987, di masa awal berdirinya Sucker Head dimotori oleh Irfan Sembiring (gitar), Krisna J Sadrach (bass), dan Yaya Wacked (vokal). Selanjutnya, setelah beberapa waktu, kemudian mereka merekrut Nano untuk melengkapi permainan gitar dan Doddy sebagai penabuh drum. Nama Sucker Head diambil dari sebuah nama merek korek api kayu yang cukup sering ditemukan di Indonesia, Sakerhets Tandstickor. Sucker Head sempat menyatakan bahwa salah satu inspirasi mereka dalam bermusik adalah band thrash metal asal Jerman yang namanya cukup dikenal hampir di seluruh dunia, Kreator.

Baru satu tahun sejak didirikan, Sucker Head harus menerima nasib ditinggalkan oleh dua anggotanya, yakni Yaya Wicked dan Doddy. Sepeninggalan para anggota pendirinya, Sucker Head pun segera merekrut Alfredo untuk mengisi posisi drummer yang kosong. Sedangkan untuk posisi vokal, saat itu diisi oleh Irfan dengan tetap mengemban tugas sebagai seorang gitaris. Dengan formasi inilah, Sucker Head akhirnya mulai aktif dalam membuat materi lagu orisinil yang memiliki tujuan untuk merampungkan album perdananya. Namun sayang, seiring berjalannya proses pematangan materi dan rekaman album perdananya, Irfan memutuskan untuk keluar dari tubuh Sucker Head. Perbedaan visi dalam bermusik jadi alasan utama mengapa Irfan memutuskan untuk hengkang. Demi mengejar target rilisnya album debut, Sucker Head akhirnya menemukan pengganti Irfan dari diri seorang Untung yang memang dikenal sebagai gitaris thrash di Cimahi. Pergantian personel di dalam tubuh Sucker Head nyatanya tidak berhenti di situ, Alfredo yang masih duduk di bangku sekolah SMA akhirnya harus rela digantikan dengan Robin Hutagaol yang juga aktif di band lainnya seperti Noxa dan Grausig. 

Setelah bongkar pasang personel, akhirnya Sucker Head menemukan formula yang pas dalam meramu materi-materi mereka. Akhirnya di tahun 1995, Sucker Head berhasil merilis album perdananya yang berjudul The Head Sucker di bawah naungan label rekaman Aquarius Musikindo. Berisikan 10 lagu, album debut Sucker Head ini didominasi oleh lirik-lirik berbahasa inggris. Satu tahun berselang, tepatnya di tahun 1996 Sucker Head kembali merilis album. Di album keduanya yang diberi judul Manic Depressive, Sucker Head masih mempertahankan formasi teranyarnya. 

Namun sayang, seiring berjalannya waktu dari perilisan album kedua, formasi di dalam tubuh Sucker Head ini kembali goyang. Akhirnya di tahun 1998, Robin memilih untuk keluar dan mendirikan band baru. Posisi yang ditinggalkan Robin tidak kosong dalam waktu yang lama, akhirnya Sucker Head menggaet Bakkar Bufthaim untuk mengisi posisi drum. Bakkar merupakan bekas anggota band Rotor yang dibentuk oleh Irfan sepeninggalannya dari tubuh Sucker Head di tahun 1992. Bersama Bakkar, Sucker Head berhasil menelurkan album ketiganya yang berjudul Paranatural. Menurut kritikus musik dan penggiat skena thrash metal di Indonesia, album ketiga ini merupakan album yang paling berkesan dan jadi warisan yang memperkuat pergerakan skema tersebut di Tanah Air. Meraih keberhasilan dan atensi yang positif, album ketiga Sucker Head ini juga berhasil untuk dirilis di luar negeri. Di Malaysia, album Paranatural dari Sucker Head ini dirilis di bawah label Pony Canyon.

Memperingati satu dekade berkarya, Sucker Head merilis album keempat dalam konsep kompilasi dan aransemen yang lebih modern. Album bertajuk 10 th Agresi ini resmi rilis di tahun 1999. Album tersebut berisikan kompilasi dari lagu-lagu yang ada pada ketiga album sebelumnya dan dikemas dengan komposisi musik yang lebih sesuai dengan zaman. Lama tidak terdengar tentang karya-karya terbarunya, di tahun 2002 Sucker Head sibuk menjalani tur konser sembari mempersiapkan materi untuk album kelimanya. Akhirnya di tahun 2004, Sucker Head merilis album berjudul Hipertensi. Melalui album ini, nama Sucker Head pun berhasil mendapatkan perhatian dari kancah musik metal Internasional. Di tahun yang sama, Sucker Head mendapatkan kesempatan untuk menjadi band pembuka untuk konser band metal asal Jerman, Halloween yang kala itu sedang bertandang ke Indonesia. 

Selain aktif berkontribusi sebagai kelompok musisi, para anggota di dalam tubuh Sucker Head juga aktif dalam membangun skena musik metal yang lebih besar di Tanah Air. Hal tersebut dibuktikan melalui kerja keras Krisna, sang pendiri dan pemain bass Sucker Head dengan menghadirkan festival metal terbesar di Asia Tenggara bertajuk Hammersonic Festival yang berdiri sejak tahun 2011 hingga saat ini. Namun di tahun 2016, Krisna harus meninggalkan Sucker Head untuk selamanya. Krisna yang kala itu berumur 50 tahun menutup usianya akibat penyakit kanker paru-paru yang dideritanya. Menghormati kepergian sang pendiri, Sucker Head mendedikasikan penampilannya untuk Hammersonic Festival di tahun 2017 dengan menggandeng Roy Jeconiah sebagai vokalis dan di festival tersebut Sucker Head pun mengabarkan tentang album final mereka yang diberi judul Simfoni Kehidupan. Penampilan Sucker Head di tahun 2017 dan album Simfoni Kehidupan menjadi penutup bagi lembaran perjalanan karier mereka.

0 COMMENTS