cinta melulu

Pop Hari Ini: Apakah Masih Cinta Melulu?

  • By: NND
  • Jumat, 29 November 2019
  • 349 Views
  • 6 Likes
  • 54 Shares

Ingat lagu “Cinta Melulu” karya Efek Rumah Kaca? Liriknya yang cukup pedas merefleksikan betul kondisi pasar dan industri musik arus utama, terutama pop, di era 2000-an. Kita tahu, saat itu katalog musik lokal didominasi oleh alunan musik balada Melayu berisi cinta, cinta, dan cinta.

Kali ini, SUPERMUSIC akan membahas narasi-narasi lagu pop era ini dan mencoba melacak transisinya. Apakah semua itu masih “cinta melulu,” atau ada yang berubah?

Kala itu kondisi pasar dan industri musik arus utama lokal terus-menerus menyajikan lagu cinta ke publik. Meski memang ampuh dalam penjualan, banyak yang muak dengan narasi serupa—ERK, misalnya. Pertanyaannya adalah, “kenapa bisa sampai seperti itu?”

Menjawabnya, mungkin karena proses kerja dan ekosistem pasar musik nasional yang sudah terlalu rakus dan menyebabkan terbentuknya selera masyarakat akan lagu-lagu serupa. Hal tersebut melahirkan pula tendensi para musisi untuk menulis lagu cinta agar mampu dimakan oleh pasar. “Agar laris,” begitu mudahnya. Lagipula, siapa juga yang tidak mau laris?

Ia berlaku dua arah. Jika pendengar menyetujui, pelaku seni pun mengiyai—pun juga sebaliknya. Selera bisa dibentuk, tapi di saat bersamaan, karya musisi juga mampu mempengaruhi selera pendengar. Ketika lagu cinta balada Melayu dijadikan resep, maka cepat atau lambat ia akan menyebar dan menularkan semuanya, seperti yang terjadi di Indonesia era 2000-an.

Sejatinya, banyak yang bisa ditumpahkan menjadi lagu selain cinta; jangankan musisi, orang awam pun tahu fakta ini. Lantas, bisa dikatakan bahwa pasar dan industri musik era itu seperti membutakan banyak orang—para musisi dan pendengarnya sekalipun.

Ya, itu benar. Lagipula, apa boleh buat? Bagi yang tidak setuju, kalian mau apa? Menyalahkan musisinya? Padahal, mereka pun berusaha mencari sesuap nasi. Mau melarang para pendengarnya? Tak ada yang berhak mengatur selera orang lain. Yang masuk akal untuk dilakukan adalah mengkritik, dan itulah yang dilakukan oleh ERK melalui single kedua mereka di Efek Rumah Kaca (2007).

Naasnya, kerakusan pembesar industri hingga over produksi dan over konsumsi dari lagu-lagu serupa dalam pasar musik akhirnya menghambat perkembang industri tersebut. Akhirnya, yang tampak adalah realita yang stagnan, yang “melulu”. Lagu-lagu baru secara asal dilempar ke publik tanpa kontrol kualitas. Berbekal narasi cinta, musisi mengamini dan karyanya dilepas begitu saja.

“Atas nama pasar,” mengutip dari lirik guratan Cholil, “semuanya begitu banal.”

Percepat satu dekade setelahnya. Sudah banyak yang berubah dengan industri musik pop arus utama Indonesia. Jangankan itu, sudah banyak juga yang berubah dengan industri musik secara keseluruhan.

Perkembangan teknologi yang melahirkan streaming, penyebaran informasi yang lebih hebat untuk referensi, serta tren dan isu baru yang nyata di tengah masyarakat. Dari hal ini, munculah pertanyaan berikutnya:

Apakah sekarang masih “Cinta Melulu?”

Sulit rasanya melepas cinta dari selera musik kita. Ia mampu dirasakan oleh manusia. Berangkat dari alasan ini pula, topik cinta mustahil dipisahkan seutuhnya dengan berkarya. Berkarya adalah ekspresi, dan tentu, menjadi manusia sudah pasti merasakan cinta. Industri musik, di lain tangan, berbeda dengannya. Ia berubah. Perubahan berbagai macam unsur memberikan kita gambaran atas pasar musik arus utama.

Sekarang, hampir sebagian besar band dan musisi yang tersemat stigma negatif karena kebanyakan merilis lagu cinta sudah hampir tidak terdengar lagi. Entah apa sebabnya; bisa saja karena mereka terjerat dalam resep “tren sementara”; jika narasi cinta dan aransemen balada Melayu adalah sebuah tren, atau karena masyarakat juga sudah muak dengannya. Mungkin juga keduanya.

Masuk pula nama-nama baru yang memimpin pop hari ini: Tulus, Danilla, Hindia, Kunto Aji, Pamungkas,  RAN, Maliq, HIVI!, dan lain-lain. Ketika era “cinta melulu”, kebanyakan mereka belum berkarya; kalaupun sudah, hampir semua yang memimpin laju pop zaman sekarang ini bermain di lapangan yang berbeda.

Sesungguhnya, budaya (dan budaya pop) akan bergerak dinamis. Atas kebutuhan pasar-selera atau tumbuh dari bawah, masing-masing kasus adalah unik. Dasarnya, pergantian nama-nama itu wajar, begitu juga dengan pergantian musik yang diterima masyarakat.

Jika sudah tidak lagi balada Melayu, mungkin pop akan didominasi oleh girlband, idol group atau boyband, atau dengan sentuhan elektronik, atau dengan paras cantik dan wajah ganteng? Selama industri masih berdenyut, semuanya akan selalu ada. Tren dan pop berjalan bersebelahan. Selanjutnya, mari bahas narasinya.

Danilla atau RAN, Kunto Aji dan Tulus, Pamungkas, mereka memang baru, tapi apakah hal tersebut menggeser narasi cinta yang dari dulu melekat dengan pop? Tidak juga, kan? Faktanya, cinta menjadi hidangan yang sangat empuk dalam pendarnya. Resepnya harus umum—dan cinta adalah topik paling umum di kehidupan manusia.

Jika kalian sempat melalui era “cinta melulu” yang dimaksud oleh ERK, maka mungkin kalian sedikit lega menyikapi pop saat ini. Tak banyak yang berubah dalam spektrum narasi, tapi perubahan bunyi jelas terasa.

Musik tak lagi stagnan, pop lokal memiliki banyak jenis yang beragam. Narasi cinta yang dikandung juga dibahas dengan lebih banyak pertimbangan: kecocokan topik dengan aransemen, pemilihan kata, keragaman topik cinta, dan masih banyak lagi.

Melihat lagi ke karya ERK, stigma negatif atas pop era 2000-an hadir dari diksi “melulu”. “Melulu” hadir karena cinta terus-menerus dikupas dengan pendekatan seragam. Tidak ada ruang eksplorasi menyebabkan memuncaknya kejenuhan kala itu.

Cinta memang terus terdengar dalam musik, maka sehatnya, musiknya sebisa mungkin dibuat tidak stagnan. Hadirkan ragam, beri bumbu baru, putarbalikkan skema komposisi, eksperimentasi bunyi, berkolaborasi, rendisi ulang karya besar; banyak cara mensiasati terperangkap dalam lubang “cinta melulu”.

Angkat EP Fingers terbaru Danilla yang sarat makna. Keterbukaan interpretasi pendengar mampu menggiring tendensi “cinta melulu” disetir ke arah lain—penggarapan tematik dan konsistensi nuansa sepanjang EP memberikan angin segar kepada diskografi cinta-cintaannya.

Hal yang sama juga nampak dalam musik Maliq & D’Essentials yang penuh ragam. Narasi boleh sama, tapi cara mengemas jadi krusial untuk menepis stigma banal. Penyampaian narasi sangat berpengaruh dengan aransemen musik, juga sebaliknya. Jadi, menyatakan keduanya tak berhubungan tentu terkesan mengecil-ngecilkan aspek penting dalam proses pembuatan lagu.

Selain itu, topik cinta juga sudah semakin melebar. Tak lagi terpaku dengan cinta anak remaja atau untuk yang terkasih, narasi pop lokal sudah banyak yang membahas cinta dalam pendar berbeda. Petra, Hindia, dan Kunto sudah kerap membicarakan cinta terhadap diri sendiri melalui bahasan mental issues yang hadir. Ini juga mampu menyikapi over produksi narasi cinta yang membuat jenuh.

Terbukti, meski masih banyak lagu cinta yang mengudara sekarang, tak lagi ia terkena kritik pedas seperti apa yang dilepas ERK. Hal ini, secara tidak langsung, mengindikasikan narasi cinta yang dikemas dengan pendekatan yang tidak membosankan.

Setidaknya, akan selalu ada penerus lagu “Cinta Melulu” yang siap menegur kala kesegaran sudah menjadi kebutuhan. Karena sejatinya, apapun narasi yang diangkat dalam sebuah lagu, kejujuran sang musisi tetap menjadi nomor satu, bukan begitu?

0 COMMENTS

Info Terkait

superbuzz
71 views
supericon
129 views
superbuzz
245 views
supernoize
497 views
superbuzz
243 views