Potret Kisah Musisi di Film Indonesia

  • By: NTP
  • Kamis, 30 March 2017
  • 5223 Views
  • 0 Likes
  • 0 Shares

Kisah perjalanan band dan musisi adalah kisah yang jarang diceritakan oleh film-film Indonesia. Sebagai sebuah kisah, perjalanan mereka bisa dibilang menarik dan penuh konflik. Baik konflik internal dalam band, atau konfrontasi band dengan elemen luar seperti perusahaan rekaman atau orang-orang  terdekat mereka. Berikut adalah beberapa film Indonesia yang merefleksikan perjalanan tersebut.

Duo Kribo (1977)

Duo Kribo adalah film musikal rock yang belum ada duanya di Indonesia hingga kini. Lewat naskah yang digarap penulis kenamaan Remy Sylado, Ahmad Albar dan Ucok ‘AKA’ Harahap sukses menjahit konfilk persaingan antar musisi, relasi kekuasaan musisi dengan perusahaan rekaman (kala itu cukong musik), serta banyaknya jalan untuk meraih kesuksesan.

Film ini memiliki dua karakter utama yang kontras. Ahmad adalah seorang penyanyi rock yang pulang ke Indonesia setelah lulus cum laude dari sebuah konservatori di Jerman. Sementara Ucok datang merantau dari Medan, mengadu nasib di Jakarta berbekal bakat menyanyikan lagu-lagu melankolis. Persaingan keduanya di industri musik ibukota, yang diramaikan oleh Eva Arnaz, menjadi landasan film ini.

Persaingan Ahmad dan Ucok meraih panggung besar melewati rute berbeda. Ahmad yang langsung mendapat panggung dan sanggup menembus angka penjualan 300 kopi bersama band-nya. Di sisi lain, Ucok yang merintis dari nol, akhirnya mampu menyaingi angka tersebut tak lama kemudian. Seorang direktur perusahaan musik, (kala itu biasa disebut cukong) melihat persaingan ini dan memanfaatkan ketenaran keduanya untuk membentuk supergroup Duo Kribo.

Duo Kribo sanggup merefleksikan realita industri musik kala itu, beberapa konflik seperti drummer Ahmad yang pindah ke band Ucok karena perbedaan visi, atau kesulitan Ucok mendapatkan kontrak rekaman, adalah kisah yang kerap berulang di industri musik. Betapa berkuasanya sang cukong pun setali tiga uang dengan tema tersebut. Kritik di film ini bisa disampaikan dengan tepat sasaran bersenjatakan naskah Remy.

Tak hanya menghasilkan karya film, album Dunia Panggung Sandiwara juga dikerjakan Duo Kribo bersama Ian Antono. Album tersebut terdiri dari 11 lagu hit rock, seperti “Anak Muda”, “Aku Harus Jadi Superstar”, “Kenangan Elvis'', “Duo Kribo”, “Panggung Sandiwara”, “Sang Cinta”, “Uang”, dan “Mencarter Roket”.

Pesan Dari Surga (2006)

Pesan Dari Surga adalah kisah gesekan dan pilihan yang dibungkus kisah cinta. Fokus cerita film karya Sekar Ayu Asmara ini bukanlah karier bermusik band rock bernama Topeng, melainkan bagaimana masing-masing personel menghadapi masalah cinta mereka. Canting (Luna Maya), sang vokalis, memusingkan Armand (Dimas Setowardana) yang sekantor dengan mantan kekasihnya, Brazil; Sang bassis (Chaterine Wilson) berpacaran dengan saudara kembar Oya dan Oyi (Ramon Y Tungka); Kuta (Lukman Sardi) yang menjalin cinta rahasia dengan suami orang. Sementara masalah besar menimpa sang kibordis, Veruska (Rianti Cartwright) hamil sebelum menikah dan terkena AIDS, dan sang gitaris, Prana (Vino G Bastian) sudah menikah tapi selingkuh dengan penari salsa. Seluruh personel akhirnya menemukan jawaban permasalahan mereka lewat sebuah pesan dari surga.

Garasi (2006)

Garasi adalah satu dari sedikit film Indonesia yang mengisahkan tentang penyatuan visi bermusik dan konflik perasaan dalam satu band. Walaupun berbeda latar belakang, Gaya (Ayu Ratna), Aga (Fedi Nuril), dan Awan (Aries Budiman) berusaha keras membentuk trio electro-rock bernama Garasi. Sang vokalis, Gaya, tinggal berdua dengan ibunya dan tidak diterima oleh keluarga sang ayah. Awan lama tinggal di Jepang tapi pulang ke Bandung untuk meniti karier musik sendiri, sementara Aga berasal dari keluarga musisi tradisional  yang ingin terus mengembangkan kemampuannya. Band ini tidak hanya eksis di film, tapi juga benar-benar dibentuk dan sempat melepas tiga album, OST Garasi (2005), II (2008), dan Kembali (2011).

Dunia Mereka (2006)

Dunia Mereka berkisah tentang bertemunya keinginan membuktikan kemampuan diri dan idealisme kokoh yang tak ingin berkompromi. Filly (Ardinia Wirasti) adalah seorang gitaris beraliran blues yang terus merasa bersalah atas kematian ibunya, sementara Ivan Bramono (Christian Sugiono) adalah anak konglomerat yang ingin keluar dari bayang-bayang sang ayah. Mereka membentuk Capung Biru, kemudian merekrut Andi (Donny Sunjoyo) dan Barbuk (James K). Jalan mereka penuh rintangan, Filly harus bermusik dengan sembunyi-sembunyi dari sang ayah (Ray Sahetapy), dan membagi waktu dengan pacarnya Rio (Oka Antara). Kemudian ayah Ivan pun berhenti memberi uang padanya, hingga ia harus mencari cara lain untuk membiayai rekaman Capung Biru. Mereka pun dihadapkan dengan dua pilihan: mempertahankan sound blues mereka dan gagal rekaman, atau memainkan sound komersial dan dibiayai rekaman oleh label.

D’Bijis (2007)

D’Bijis berkisah tentang penyatuan kembali band yang telah bubar karena tragedi. Asti (Rianti Cartwright) berniat untuk mempersatukan band kakaknya, The Bandits yang bubar pasca Bonnie (Darius Sinathrya) meninggal dunia. Satu per satu Asti mengajak sang gitaris Damon (Tora Sudiro) kini bekerja di bar dangdut, sang drummer Gendro (Indra Birowo), yang kesulitan ekonomi, Bule (Gary Iskak) kini menjadi waria, dan Soljah, kibordis, yang tengah menghilang. D’Bijis adalah kisah tentang pengorbanan demi band dan kekuatan kenangan yang tak kunjung pupus.

 

0 COMMENTS

Info Terkait

superbuzz
625 views
superbuzz
1306 views
superbuzz
2778 views
superbuzz
1981 views

5 Reuni Band Rock Terlaris

superbuzz
3091 views
superbuzz
3269 views

5 Album Rock Kontroversial