Proses Pendewasaan Rich Brian di Single Baru “Sydney”

Proses Pendewasaan Rich Brian di Single Baru “Sydney”

  • By:
  • Rabu, 14 April 2021
  • 72 Views
  • 0 Likes
  • 0 Shares

Rapper muda Indonesia, Rich Brian, akhirnya melepas karya perdana di tahun 2021. Musisi dengan nama asli Brian Imanuel tersebut merilis single anyar berjudul Sydney pada pertengahan Maret lalu.

Lagu baru ini merupakan penggambaran akan hidupnya yang terus mengalami perkembangan seperti kupu-kupu yang melakukan metamorfosis. Dalam single kali ini, Rich Brian tetap bernaung di bawah bendera 88rising dan mendistribusikan karyanya melalui 12Tone Music.

Dari keterangan persnya, Rich Brian menyebut bahwa lagu barunya ini terinspirasi dari grup hip hop Three 6 Mafia yang terbentuk pada 1991. Di lagu ini, vokal bariton yang dalam khas Rich Brian masih kental, semakin menarik dengan tambahan bunyi-bunyian saksofon yang menambah kesan santai dalam lagu Sydney.

Melalui lagu ini, Brian menunjukkan proses yang dijalani selama bertahun-tahun dan upayanya mengabaikan keraguan pada diri sendiri. Rich Brian juga berbagi bagaimana dia menjadi dewasa dan berkembang sebagai seorang artis, dari awalnya hanya "iseng" nge-rap di kamar tidurnya di Jakarta hingga menjadi artis musik Asia pertama yang mencapai #1 di tangga lagu Hip Hop iTunes.

"Aku juga selalu ingin mendengar diri sendiri membicarakan tentang hidup diiringi lantunan saksofon yang indah," kata rapper kelahiran 3 September 1999 itu, dari keterangan resmi.

Seperti yang ia tuangkan dalam lirik di lagunya. "I hate when people just barely know me, but they act like they f****** invented me. Everybody on their scared to grow s***, I'm on my 8th metamorphoses. Man, my life cannot bother me, I did this s*** properly. I didn't let my problems break me, that s*** f****** guided me."

Baca juga: Rich Brian Kembali dengan Album Baru, ‘1999’

Sydney juga terpilih menjadi lagu resmi pertandingan final PUBG MOBILE Pro League Southeast yang diselenggarakan pada Maret 2021. Hal ini tentu menjadi sebuah momen dan simbiosis mutualisme yang terjalin rapi antara Rich Brian dengan komunitas game Asia Tenggara.

Tahun lalu, Rich Brian meluncurkan album mini 1999 yang hingga saat ini telah mencapai 75 juta streams. 1999 sendiri melanjutkan diskografi Rich Brian sejak merilis album The Sailor di tahun 2019 kemarin. Adapun beberapa single hit di dalam album tersebut; seperti "Don’t Care" dan "Love In My Pocket" serta lagu baru "DOA", "Sometimes", "Long Run", "When You Come Home", dan "Sins".

Sedikit berbeda dengan album sebelumnya, di 1999, Rich Brian turun tangan dan mengerjakan sebagian besar produksi nya secara seorang diri, meski masih menggaet beberapa kolaborator lamanya, yakni Bekon & The Donuts, Diamond Pistols, serta Louise Bell.

“Proyek ini punya lagunya sendiri untuk setiap orang yang mendengarkan,” ungkap Brian melalui rilisan pers. “Salah satu favorit saya adalah ‘DOA’, yang pada dasarnya disingkat Dead On Arrival. Kedengarannya tidak wajar, tetapi ini tentang bersaing dengan seseorang yang memiliki tidak memiliki peluang dari awal. Melodinya mengingatkan saya kepada Gorillaz, yang sangat saya sukai. Itu adalah lagu yang selalu saya mainkan setiap kali saya ingin merasa lebih baik tentang nyanyian saya, dan diri saya sendiri secara umum.”

Berbicara tentang single 1999 lainnya, "Sins", Brian menjelaskan, "Ini mungkin lagu terbaik yang pernah saya buat. Ia berasal dari sesi jam saya dengan Jacob Ray dan Diamond Pistols, kemudian Louis Bell datang dengan sangat random. Saya selalu menjadi penggemar musiknya meskipun saya sudah mengenalnya selama beberapa tahun sekarang, dan hari itu saya bekerja dengannya untuk pertama kalinya.”

Sementara album The Sailor (2019). The Sailor hadir dengan komposisi brilian dan jajaran talenta apik. Album ini turut melibatkan kolaborasi dengan rapper kawakan RZA dari Wu-Tang Clan, kolega satu labelnya, Joji dan produser asal Long Island, Daniel Tannebaum—atau Bekon. Nama terakhir kerap menggarap beats untuk rapper besar macam Dr. Dre, Snoop Dogg, dan Kendrick Lamar.

 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 

A post shared by RICH BRIAN (@brianimanuel)

Melalui album ini, Rich Brian tampak keluar dari zona nyaman untuk terus mendorong batasan karyanya. Ia menapak keluar dan mengeksplorasi sejumlah spektrum baru seperti sentuhan pop yang dipadukan dengan beberapa style hip-hop. Terdengar sample-sample ala hip-hop old school, aksen boom bap, juga perombakan ulang ciri khasnya yang sudah matang di album pertama.

Perubahan signifikan di sektor produksi The Sailor adalah sebuah langkah tepat untuk menyikapi pendewasaan lirik Rich Brian. The Sailor memiliki kesatuan beats dan lirik kokoh yang saling melengkapi satu sama lain. Inilah berbagai faktor pendukung The Sailor menjadi sebuah materi yang nikmat didengarkan.

Filosofi album kedua Brian sejajar dengan apa yang ia terapkan. Melalui siaran pers, Brian turut angkat bicara tentang album barunya, dan cerita-cerita di baliknya:

“The Sailor merupakan sebuah simbol tentang menjadi seorang penjelajah… Tentang menjelajahi daerah-daerah asing yang belum pernah disinggahi, dan tentang menjalani hidup yang penuh tanda tanya ini.

Ini adalah kisah saya pribadi, dan juga kisah tentang seluruh imigran yang secara berani menyikapi dunia baru mereka masing-masing untuk menggapai kesempatan yang lebih baik,” tulis Brian.

 

 

 

0 COMMENTS