Zigi Zaga

‘Psycho Mob’, Debut Bising Nan Impresif dari Zigi Zaga

  • By: NND
  • Kamis, 4 July 2019
  • 835 Views
  • 6 Likes
  • 31 Shares

Disaster Records

Rating: 8/10

Psycho Mob merupakan anak pertama yang keluar dari rahim band baru asal Ibukota, Zigi Zaga. Beranggotakan Rika Putrianjani (vokal/gitar), Ricky Putra (gitar, yang kemudian mengundurkan diri setelah album dirilis, digantikan Emil Pahlevi), Eka Annash (bass/vokal), dan Wizra Uchra (Drums) dan dibentuk tiga tahun silam; seaslinya band ini dapat juga dikatakan sebagai sebuah hidangan terbaru dari veteran garage rock bawah tanah lokal, Eka Annash, yang sudah lama berkecimpung dengan bandnya, The Brandals. Meski begitu, ketatnya musik mereka saat ngebut, dan ruang yang hadir saat mereka menunjukan sisi lembutnya, menyuarakan bahwa bukan Eka saja yang patut diwaspadai, melainkan keutuhan unit ini.

Mengusung musik yang mengawinkan attitude dan mentalitas punk dengan suara garage rock, meleburnya juga dengan taburan alternative era 90-an; menjadi sebuah resep mantap untuk memasak kesebelas trek yang dirangkum ke dalam album debutnya, Psycho Mob.

Setelah resmi rilis via RSD 2019 silam, SUPERMUSIC akan membedahnya untuk kalian semua. Simak tulisan berikut—sambil dengarkan juga musiknya, kalau bisa.

Album dibuka tanpa basa-basi dan banyak cakap melalui salah satu nomor yang dimajukan sebagai single. "Kill The Noise" turut menjadi highlight dari album ini; dengan "kejar-kejaran" yang langsung dimulai dari intro-nya, ketika tiba di verse pertama sudah dapat terlihat bagaimana lintasan lari dari trek ini di kedepan. Kencang, padat, keringat; jika kalian suka trek ini, maka mungkin kalian akan menikmati separuh album yang siap menyambut. Trek kedua, "Losing Control", dibuka ala-ala Nirvana yang kemudian terjun bebas menjadi nomor rock berbalutkan kasar dari ritme nada rendah yang cukup memukul. Sekali lagi, Zigi Zaga hidangkan sebuah putaran ombak yang gahar, siap menelan siapa saja dalam sapuannya.

Lanjut, "Doomed Alice" berikan kocokan gitar dengan sound yang lebih ringan, namun tidak begitu dengan pace-nya; masih pakem, masih cukup ngebut. Dengan skema seperti ini—dimana tiga lagu kencang dibariskan secara bertahap--nampaknya mereka ingin langsung mencuri perhatian; namun galak-galaknya Zigi Zaga ini tahu diri, mereka tidak terlalus rakus, semua itu dapat dibuktikan ketika melangkah masuk ke nomor berikutnya.

Usai digiling-giling tiga trek sebelumnya, mendaratlah kita pada title track. "Psycho Mob" adalah sebuah trek berdurasi terpanjang (6:19) di dalam album ini, dan dari ruang yang lebih itu, Zigi Zaga injak rem dan merentangkan musik mereka—jika tadi kita lari sprint, kali ini jogging seru di sore hari. Untuk permainan gitarnya; bayangkan Foo Fighters punya anak haram dengan Smashing Pumpkins, namun ditengah jalan ia bermutasi kembali menjadi Zigi Zaga. Ya, bayangkan semua itu ditengah saut-menyautnya vokal Rika dan Eka. Alhasil? Keringat yang segar, bak jogging di sore hari, bukan?

Entahlah, cocok nampaknya jika trek "Coming Down form a High" ini dinyatakan sebagai sebuah pencuci mulut dari first half-nya album Psycho Mob. Mengingat title track yang datang dengan tempo tidak terlalu kencang dibandingkan nomor-nomor sebelumnya, terasa sekali bahwa trek dengan vokal renyah dari Rika ini memberikan komplimen manis terhadapnya. Sedikit dipacu kembali temponya, dengan begitu terasa bahwa bagian pertama album ini telah ditutup--sama seperti judulnya, para pendengar dibuat layaknya baru saja turun dari sebuah "high". Siap-siap menyambut paruh kedua yang lebih mendayu.

Masuk kedalam "Revolt" yang duduk di nomor ketujuh, kita disajikan dengan sebuah nomor yang kuat sound alternative-nya. Jika enam lagu kebelakang masih memiliki benang merah yang jelas dengan musik-musik dari The Brandals, "Revolt" menjauh dari benang tersebut; meramu sebuah trek dancey yang juga dirancang dengan blueprint blues yang bandel. "Lost in the City" merupakan sebuah ode untuk kehidupan perkotaan, tempat dimana para personil berdomisili. Jika kalian mencari solo apik, lagu ini memilikinya, riff-nya pun juga begitu. Lagu ini juga menjadi sebuah lagu paling Black Sabbath dari satu album Psycho Mobintro yang sebelas dua belas dengan heavy metal, dan sound gitarnya yang juga demikian, bantu memastikan hal tersebut.

Masuk ke trek kesembilan, terasa bahwa untuh paruh kedua album Psycho Mob, Zigi Zaga mencoba memberikan sisi mereka yang tidak seketat dan ngebut layaknya yang nampak pada paruh pertama album. "I Got a Feeling" merupakan sebuah lagu feel good yang ampuh. Ringan, uplifting, dan ceria; Rika yang mengiringi sebagai backing vocal membuat trek ini sedikit terasa seperti The Upstairs kalau mereka mainkan lagu-lagu The Beatles. Masih dengan skema yang serupa, "The Night" pun begitu; trek mengawang dengan lirik-lirik balada kasmaran remaja di daerah urban, di tengah malam dengan segala lampu kota dan gedung yang menyala—macam benih-benih yang ditanam Jimi saat meruntut "Senjakala Cerita"—seperti itulah "The Night" dapat diresapi.

Untuk lagu yang mengenang keremajaan, seperti "Summer of Youth" yang duduk di nomor kesepuluh dari Psycho Mob, lagi-lagi Zigi Zaga menjauh dari kekasaran dan balapan yang di awal, kocokan gitar pada lagu ini kembali lantangkan apa yang mereka henda sampaikan secara suara melalui trek "Revolt"—bahwa sisi alternative mereka pun sama kuatnya dengan rock garasi mereka. Di sini, mereka sudah hampir seutuhnya mengkaji sebuah lagu layaknya band indie rock seperti the Drums dan sebagainya.

"Anxi-ety covers you" begitulah liriknya saat lagu terakhir dibuka; cukup mendalam, cukup personal. Sekali lagi, vokal Rika dihidangkan dengan cara yang sangat pas. Ketika drum masuk, barulah setruman lagu ini menjalar secara utuh. Tidak hanya sampai disitu, trek terakhir ini pun tiba-tiba menukik mendadak menjadi sebuah nomor yang rasanya wajar dijumpai di paruh pertama album. Trek ini menjadi sebuah perpaduan yang apik dari kedua tema besar sound yang mereka tajamkan dari Psycho Mob. Nampaknya, "No Casualites" menjadi sebuah penutup yang pas dari album yang memiliki dua komposisi suara yang berbeda.

Mendengarnya secara utuh, terasa bahwa Zigi Zaga tidak patut dibandingkan dengan The Brandals; ingat, bukan hanya Eka yang hadir di sini, melainkan sebuah kuartet yang menyelami dua lautan genre secara merata. Paruh kedua menaringkan pendekatan mereka terhadap hempasan musik alternative, dengan title track dan trek penutup yang menjadi titik tengah yang akurat, tanpa adanya satu sisi yang keluar dari ambang batas.

Psycho Mob, sebagai album pertama dari Zigi Zaga, telah berhasil mengkokohkan identitas mereka sebagai sebuah grup musik baru yang tidak main-main, meskipun mungkin dasarnya hanya untuk atau ingin bersenang-senang. Hanya melalui rilisan pertama, mereka sudah sangat dewasa, dari segi lirik, pun juga musiknya. Psycho Mob menjadi sebuah album yang harus didengarkan jika kalian menyukai musik-musik rock independen lokal 2000-an awal yang dikemas ulang dengan karakteristik mereka, yang membuatnya terkesan segar meski tidak seutuhnya berbumbu yang baru-baru.

0 COMMENTS

Info Terkait

supershow
516 views
superbuzz
480 views
superbuzz
454 views
superbuzz
817 views
supernoize
987 views
superbuzz
510 views