PUNK ROCK PROFESSOR: 5 Punk Rocker Bergelar Doktor

  • By: NTP
  • Kamis, 18 May 2017
  • 33614 Views
  • 0 Likes
  • 3 Shares

Hubungan antara subkultur punk rock dan dunia akademik tak sejauh yang kita bayangkan. Subkultur punk rock yang kerap kali dianggap berada di ‘pinggir’ masyarakat ternyata acap kali berada di tengah-tengah masyarakat, baik menjadi motor gerakan akar rumput, atau penggerak kancah musik perkotaan. Pergerakan tersebut sering kali menjadi topik penelitian akademik.

[bacajuga]

Punk rock menjadi unik karena subkultur ini tidak lepas dari konteks masyarakat yang menaungi berbagai komunitas dan lingkar sosial mereka. Walaupun punya selera estetis soal musik, busana atau ideologi serta politik yang berbeda dari masyarakat umum, punk rock tidak bisa diasingkan dari denyut keseharian. Faktor-faktor tersebut membuat punk rock menarik diteliti secara akademis.

Namun, kondisi sebaliknya justru tak terjadi, hanya sedikit musisi band-band punk berpengaruh yang menggeluti dunia akademik. Entah karena jadwal tur dan konser yang padat, rutinitas pekerjaan, atau dianggap sebagai profesi yang langit-bumi dengan punk rock, akademisi tidak identik dengan punk rock.

Maka, segelintir nama berikut adalah ‘spesies unik’ yang berhasil menjadi dua hal yang tampak mustahil: seorang ‘anak punk’ dan akademisi sekaligus. Mereka jauh dari stereotip pribadi bodoh yang kerap dilekatkan pada seorang punk. Lima orang ini juga jauh dari stereotip akademisi yang hidup di menara gading, mereka yang dianggap tak bersentuhan dengan masyarakat umum. Berikut adalah lima punk rocker cendekiawan tersebut:

1. Dan Yemin (Lifetime, Kid Dynamite, Paint It Black)

Dr Daniel Yemin, PSYD adalah seorang psikolog anak dan remaja, sekaligus vokalis/gitaris yang pernah menghuni Lifetime, Kid Dynamite, dan Paint It Black. Yemin meraih doktoratnya di Widener University, Chester, Pennsylvania. Ia menjadi gitaris grup melodic hardcore Lifetime selama 1990-1997, hingga reuni di tahun 2005. Sementara ia menghuni posisi vokalis di Kid Dynamite di tahun 1997-2002. Pasca Kid Dynamite bubar, Yemin sempat terserang stroke. Alih-alih beristirahat total, setelah ia pulih, Yemin justru mendirikan unit hardcore Paint It Black sebagai vokalis. Selain kerap tampil dengan energi tinggi di panggung, Yemin tampak sangat antusias menggeluti pekerjaannya sebagai psikolog anak dan remaja.

“Prosesnya sangatlah manusiawi, tidak ada omong kosong di sana. Saya bisa sangat menyukai suatu aspek dari seorang klien, mungkin saya tidak seharusnya menggunakan istilah seperti itu, tapi sejujurnya saya mencintai suatu hal dari orang-orang yang bekerjasama dengan saya. Bukan dalam nuansa romantis, atau persaudaraan, tapi kita tidak mungkin terhubung secara intim dengan seseorang dalam perawatan tanpa perasaan peduli yang mendalam terhadap orang tersebut,” ujar Yemin.

2. Lane Pederson (Dillinger Four)

Dr. Lane Pederson (PSYD, LP, DBTC) adalah seorang psikolog, penulis, terapis, trainer, dan konsultan psikologi yang terlatih di bidang terapi perilaku dialektis (Dialectic Behavior Therapy) dan sudah menulis tiga buku tentang DBT. Selain itu, ia juga bermain drum di Dillinger Four, kuartet punk rock gila asal Minnesota, AS. Dillinger Four sudah aktif sejak tahun 1994, walau baru merilis debut di tahun 1998. Band berusia 22 tahun ini dikenal dengan aksi panggung yang cukup liar ini juga dikenal jarang merilis musik. Pederson turut serta di empat album Dillinger Four termasuk debut yang mencengangkan, yaitu Midwestern Songs of the Americas (1998).

Selain jarang merilis album, Dillinger Four juga dikenal tidak ikut serta dalam tur punk rock besar seperti Warped Tour, serta jarang tampil, maksimal di bawah sepuluh kali tampil dalam setahun. Profesi Pederson terbilang aneh ketimbang personil Dillinger Four lainnya yang rata-rata bekerja di bar-bar kota Minnesota. Dengan etos slacker, dan kontrol total atas band mereka, tak mengherankan bila Pederson menganggap bahwa seorang punk punya kesamaan penting dengan seorang ilmuwan: penghargaan terhadap kebebasan individu.

3. Dexter Holland (The Offspring)

Dibanding dua nama sebelumnya, Holland terbilang berhenti aktif di dunia akademik ketika jadwal tur The Offspring mulai memadat. Keberhasilan album Smash (1994) muncul di tangga lagu AS, tanpa sokongan label major, atau promosi besar-besaran adalah gerbang yang membuka karir musik Holland, sekaligus menghentikan langkah akademiknya. Sebelum album tersebut meledak, Holland tengah menjalani program Ph.D (doktorat) setelah meraih gelar Master di bidang biologi molekular di University of Southern California.

“(Saat itu) saya tengah mengejar Ph.D di bidang biologi molekular (di di University of Southern California). Kemudian saya putuskan untuk menghentikan penelitian saya. Ibu saya tidak senang mendengar kabar itu, profesor saya pun menganggap saya telah mengambil keputusan yang salah. Tapi langkah itu saya tempuh bukan atas pertimbangan sembrono, kami atas apa yang kami lakukan, dan berkeinginan untuk meneruskan hal tersebut,” jelas Holland dalam wawancara dengan Rolling Stone AS pada April 2014.

Holland pun meneruskan karirnya bersama The Offspring, tapi ia tak benar-benar meninggalkan penelitian doktoratnya. Akhirnya, pada 11 Mei lalu, ia resmi bergelar Ph.D dengan desertasi berjudul Discovery of Mature MicroRNA Sequences within the Protein-Coding Regions of Global HIV-1 Genomes: Predictions of Novel Mechanisms for Viral Infection and Pathogenicity.

4. Milo Aukerman (Descendents)

Aukerman adalah peneliti biokimia tanaman di perusahaan kimia DuPont, dan vokalis Descendents, salah satu band hardcore asal Los Angeles paling berpengaruh. Album debut Descendents, Milo Goes To College, adalah penanda periode penting bagi perkembangan hardcore dan punk rock. Selain logo album yang ikonik, Milo Goes To College (1982) juga menanam benih sound melodic hardcore, yang nantinya berkembang menjadi pop punk. Album tersebut juga menjadi penanda betapa seriusnya Aukerman mengejar gelar akademik, karena di tahun yang sama ia mulai berkuliah di UC San Diego sampai meraih doktorat biologi.

Aukerman tetap menyempatkan rekaman dan tur bersama Descendents di sela-sela pekerjaannya sebagai peneliti. Walaupun personel Descendents akhirnya membentuk ALL tanpa Aukerman, vokalis berkacamata kotak ini kembali bergabung di tahun 2016. Aukerman pernah menyampaikan bahwa ia memang diharapkan kedua orangtuanya untuk menjadi seorang akademik, tapi ia juga butuh wadah untuk jadi dirinya sendiri. Kini, Aukerman telah mendedikasikan karirnya menjadi vokalis Descendents, setelah menyelesaikan penelitian pasca doktoral di University of Wisconsin-Madison.

“Terkadang ketika karier sebagai ilmuwan terasa seperti kerja keras, di saat itulah saat berpaling ke musik, dan mencurahkan energi kreatif dan fokus saya di musik untuk sementara. Mungkin beberapa bulan kemudian karir akademik akan menjadi fokus utama energi kreatif saya,” jelas Aukerman.

5. Greg Graffin (Bad Religion)

Graffin memulai Bad Religion di umur 15 tahun. Sejak kecil Graffin memang seorang intelektual, ia merangkai kritik sosial-politik lewat lirik Bad Religion. Dengan dasar sound hardcore keras dan cepat, Graffin menyanyikan lirik protes lewat nada-nada merdu (tidak berteriak atau menggeram seperti vokalis hardcore lain). Bad Religion hingga kini masih diakui sebagai band hardcore/punk berpengaruh, yang mampu menyeimbangkan kritikan pedas dengan selera humor tinggi, tanpa mengorbankan agresi musik mereka. Hingga kini, Bad Religion sudah merilis 16 album, dua EP dan dua DVD.

Di tengah padatnya kesibukan Bad Religion, Graffin masih menyempatkan diri mengejar gelar akademik dengan serius. Graffin lulus dari UCLA dengan gelar sarjana antropologi dan geologi, kemudian ia meraih gelar master dan Ph.D di Cornell University. Gelar tersebut ia dapatkan dari desertasi zoologi berjudul Evolution, Monism, Atheism, and the Naturalist World-View: Perspectives from Evolutional Biology. Selain penelitian tersebut, Graffin juga telah menulis buku berjudul Evolution and Religion: Questioning the Beliefs of the World’s Eminent Evolutionists, Anarchy Evolution bersama Steve Olson, dan The Population Wars. Walau telah meraih banyak hal bersama Bad Religion, juga dalam karir ilmiahnya, Graffin tetap merasa masih banyak hal yang perlu ia pelajari.

“Saya telah berbuat banyak kesalahan, tapi kita tidak bisa merenung terus menerus karena hidup adalah petualangan, penemuan baru. Saya percaya kita bisa terus belajar hingga sangat tua, itu kalau kita memang sudah berkomitmen membuat hidup kita lebih baik dan belajar dari kesalahan yang kita perbuat. Kita harus melihat kesalahan yang kita lakukan di masa lalu sebagai pengalaman belajar,” jelas Graffin.

 

0 COMMENTS