Pusakata Hadirkan Unsur Musik Tradisional di Single Namamu Kueja Pelan-Pelan

Pusakata Hadirkan Unsur Musik Tradisional di Single Namamu Kueja Pelan-Pelan

  • By:
  • Jumat, 18 June 2021
  • 76 Views
  • 0 Likes
  • 0 Shares

Melalui nama panggung Pusakata, Mohammad Istiqamah Djamad atau akrab disapa Is melanjutkan rangkaian perilisan karya barunya. Melalui proyek musik solo terbarunya ini, Is merilis lagu baru berjudul "Namamu Kueja Pelan-pelan".

Rilisnya lagu baru dari Pusakata sekaligus menjadi perjalanan Is menuju album terbarunya yang akan diberi tajuk Mesin Waktu 2020. Ini menjadi album kedua setelah melalui Pusakata, ia merilis album debut bertajuk Dua Buku pada 2019 lalu.

Namamu Kueja Pelan-Pelan adalah sebuah rangkuman penutup pada kisah lima lagu sebelumnya, yaitu Amy, Kucari Kamu, Di Ujung Malam, Kerinduan, dan Ruang Tunggu. Lagu ini merupakan sebuah perenungan seorang insan yang selalu mencari makna cinta dan pengorbanan.

"Berikut sebuah hadiah berupa teman merenung untuk kalian. Lagu berjudul Namamu Kueja Pelan-pelan sudah rilis. Selamat berdoa dan merindu di tiap kalimat yang kalian eja dengan sabar," tulis Pusakata di Instagram pada Kamis, 20 Mei 2021.

Seperti single sebelumnya, Pusakata kembali memainkan hampir semua isian instrumen dalam lagu tersebut, seperti bass, guitar electric, guitar akustik, keys and synth, udu, kendang, dan suling. Bahkan, Pusakata juga memasukkan pui-pui yang merupakan alat musik tiup dari Sulawesi Selatan yang hampir punah.

"Pada lagu ini, saya sengaja menggali lebih jauh potensi musikalitas dan pengaruh seni tradisional Bugis-Makassar dalam mengolah rasa dan komposisi. Pemilihan instrumen serta gaya instrumentasi tradisional terasa jauh lebih dalam dihadirkan, setelah sebelumnya juga dimunculkan pada lagu Di Seberang Sana yang memuat kalimat penyemangat khas suku Bugis-Makassar," ujar Pusakata dalam siaran persnya.

"Saya berharap dengan menambahkan unsur daerah asal saya, Bugis-Makassar, akan membawa jiwa serta khasanah musik pada ruang yang lebih luas lagi," jelasnya.

Dalam penggarapan lagu Kueja Namamu Pelan-Pelan, Pusakata memainkan sendiri semua instrumen dalam lagu tersebut. "Saya ingin mengajak para pendengar lebih jauh terlibat menikmati perjalanan spiritual lewat eksplorasi ini. Semua instrumen saya mainkan sendiri sesuai dengan batas kemampuan, sebagai wujud komitmen saya untuk berkarya dengan jujur," tutur Pusakata.

Adapun, untuk urusan sampul dari lagu ini, Pusakata menggandeng seorang ilustrator asal Ternate, Anaz. Untuk urusan perekaman musik, Pusakata dibantu oleh Capung untuk merekam dan Daniel Samarkand untuk mixing, lagu ini direkam di rucs studio, Makassar.

Pusakata sudah lebih dulu merilis lagu Doa Pagi Ini pada Desember 2020 sebagai nomor pembuka dari album terbarunya nanti. Dalam Doa Pagi Ini, Pusakata bercerita tentang tiga unsur sekaligus yaitu rumah, doa dan sepatu.

Rumah baginya adalah sebuah tempat penuh energi baik, juga tempat istirahat di mana doa-doa baik selalu hadir di dalamnya. Doa harapan berisi keinginan untuk mencari ketenangan hidup.

"Ayah, ibu, kakek, nenek, dan anak yang menjadi dinding dan atap teduhan batin yang selalu membawa berkah, sungguh menjadi inspirasi utama dalam diriku," tutur Pusakata dalam keterangan resminya dikutip dari Antara.

Baca juga: Pusakata, Lembaran Baru Karya Musik Is Eks Payung Teduh

Sementara sepatu digambarkan Pusakata sebagai gambaran kecil dari mimpi seorang anak manusia seperti mimpi memakai sepatu bagus ke sekolah dengan penuh rasa semangat dan percaya diri.

Gambaran tersebut, menurut Pusakata, terinspirasi dari anak-anak pedalaman di timur Indonesia yang tetap senang dan semangat pergi ke sekolah meski harus melewati berbagai rintangan seperti menempuh jarak yang jauh dengan alas kaki sederhana atau bahkan tanpa beralaskan apa pun.

"Tiga unsur yang kuceritakan dengan rasa syukur yang mendalam karena pernah dan masih memiliki kesempatan melewati momen dan tempat-tempat itu hingga sekarang. Kuceritakan kembali dalam lagu Doa Pagi Ini (Sepatu) yang menjadi single pertama dari rangkaian kerya terbaru dalam album Mesin Waktu 2020," jelas Pusakata.

Setelah Doa Pagi Ini, Pusakata melanjutkan rangkaian perilisan album barunya dengan melepas single berjudul Dunia Batas pada 22 Januari 2021. Is menyebut bahwa Dunia Batas menjadi karya lagu terindah yang pernah ia buat.

"Lagu ini tidak hanya sekadar bermain kata dan melodi saja. Saya harap dengan dirilisnya lagu Dunia Batas ini, para pendengar mampu menemukan harapan mereka masing-masing seperti saya yang juga telah dituntun untuk berjalan pada suatu harapan," ujar Pusakata.

Untuk lagu ini, Pusakata juga sudah merilis video klipnya pada 20 Januari 2021. Digarap bersama sutradara muda asal Bangkalan, Deklestari. Sebelumnya, Pusakata sudah bekerja sama dengan Deklestari untuk proses penggarapan video musik Cemas.

Pusakata juga sempat merilis lagu untuk menyambut Hari Raya Idul Fitri, melalui single bertajuk Kumpul Famili dan Teman pada 31 Mei lalu. Pusakata sengaja memilih tanggal peluncuran yang berdekatan dengan Hari Raya Idul Fitri agar kelak lagu terbarunya dapat mengiringi hangatnya momen berkumpul dengan keluarga di Hari Raya mendatang.

“Keluarga itu seperti air. Tak habis-habis rasa haus kita padanya akan selalu muncul. Meski kita teguk berulang kali. Keluarga itu seperti pasir di laut. Meski terbang ditiup angin atau hilang terbawa arus, dia akan selalu menjadi satu kesatuan pada akhirnya. Keluarga itu ibarat urat nadi kita, kalau terpotong maka hilang kuasa atas tubuh kita. Keluarga itu adalah rumah, tempat segala mimpi dan angan berawal. Membentuk keberanian untuk berjuang menghadapi hidup beserta tantangan di dalamnya dan ia akan menjadi tempat di mana kita akan pulang bersandar dan beristirahat,” jelas Pusakata mengenai makna keluarga.

“Sedangkan teman adalah kekuatan tambahan dari Tuhan. Teman adalah bukti betapa kita adalah makhluk yang tak bisa sendiri. Bukti bahwa kadang kita lemah. Bukti bahwa kadang kita tak selalu benar. Baik buruknya hidup kita dipengaruhi dari orang-orang yang kita pilih sebagai teman. Teman itu karunia hidup kita setelah keluarga. Bahkan kadang mereka menjelma menjadi keluarga,” tuturnya menambahkan.

 

Image source: instagram/Pusakata

0 COMMENTS