Pussy Riot ‘Berulah’ di Laga Final Piala Dunia 2018

  • By: OGP
  • Senin, 16 July 2018
  • 853 Views
  • 2 Likes
  • 2 Shares

Gelaran sepak bola akbar Piala Dunia 2018 baru saja berakhir. Uniknya, laga final yang berlangsung pada Minggu (15/07) kemarin tak sekadar menyuguhkan kemenangan Prancis sebagai juara dunia, tetapi juga aksi nekat unit punk radikal Pussy Riot. Grup aktivis kontroversial asal Rusia itu kembali berulah, dengan ‘nyelonong’ masuk ke lapangan saat pertandingan baru berjalan di menit ke-52. Laga final ini turut dihadiri Presiden Rusia Vladimir Putin.

Pada saat pertandingan berlangsung, wasit yang memandu laga, Nestor Pitana langsung menghentikan jalannya pertandingan. Terlihat empat orang berpakaian kemeja putih dan celana panjang hitam khas seragam polisi Rusia menerobos masuk ke tengah lapangan, berlari dari arah belakang mistar gawang kiper Prancis Hugo Lloris. Sontak kerumunan petugas langsung menyeret paksa dan menangkap mereka keluar dari lapangan hijau.

Diketahui empat orang tersebut terdiri dari dua orang pria dan dua orang wanita. Satu di antaranya adalah Olga Kurachyova, yang tak lain dan tak bukan merupakan personel dari Pussy Riot.

Beberapa saat pasca kejadian, melalui akun resmi di laman Twitter mereka, Pussy Riot mengakui bahwa aksi nekat mereka tersebut adalah bentuk protes terhadap situasi politik di Rusia. ‘Serangan’ mereka ke lapangan hijau kali ini juga merupakan aksi penghormatan untuk mendiang Dmitriy Prigov, penyair sekaligus seniman Rusia.   

“Hari ini adalah 11 tahun sejak kematian penyair besar Rusia, Dmitriy Prigov. Prigov menciptakan citra seorang polisi, pembawa kebangsaan surgawi, dalam budaya Rusia,” tulis Pussy Riot dalam pernyataan via Twitter.

Pussy Riot merupakan grup asal Rusia yang mengusung etos punk. Mereka dikenal publik sebagai aktivis yang kerap memperjuangkan isu-isu feminis, hak-hak LGBT, dan kritik kebijakan Vladimir Putin. Band/kolektif yang terkenal dengan ciri khas balaclava-nya ini terbentuk sejak 2011, dan memiliki jumlah personel yang terbilang tak sedikit, yakni sekitar belasan wanita.

Nama Pussy Riot perlahan jadi buah bibir di belahan dunia pada 2012. Serentetan aksi berani mereka dianggap provokatif, lantaran terang-terangan menentang rezim Vladimir Putin. Mereka menganggap Putin sebagai seorang diktator di tanah Rusia. Dua personel mereka, yakni Nadezhda Tolokonnikova and Maria Alyokhina sempat dipenjara selama hampir dua tahun.

0 COMMENTS

Info Terkait

superbuzz
73 views
superbuzz
89 views
superbuzz
136 views
superbuzz
77 views