Rayakan Satu Dekade, Rajasinga Rilis Ulang Album Perdana dalam Format Piringan Hitam

  • By: NTP
  • Kamis, 31 August 2017
  • 3224 Views
  • 0 Likes
  • 0 Shares

Rajasinga, trio grind asal Bandung, akan merilis ulang album perdananya, Pandora dalam format piringan hitam 10 inci. Pandora akan diluncurkan ulang dalam format piringan hitam untuk merayakan ulang tahun kesepuluh album ini. Menurut siaran pers yang diterima SuperMusic.ID, Pandora versi rilis ulang ini akan diluncurkan pada bulan September ini.

Peluncuran ulang Pandora adalah hasil kolaborasi antara Negrijuana Productions, Straineyes Productions, Sepsis Records, dan Hearing Eye Records. Mixing dan mastering ulang Pandora dikerjakan oleh Auliya Akbar (Noise Lab Studio).

[bacajuga]

“Dengan hasil tata suara yang lebih murni dan alami. Menampilkan ulang apa yang terjadi 10 tahun lalu tanpa polesan. Seperti inilah sebenarnya yang kami inginkan ketika pertama kali album ini direkam, ribut dan keras,” papar Rajasinga.

Pandora adalah album pertama Rajasinga, walau bukan rilisan perdana mereka. Sebelumnya, Rajasinga telah merilis demo Killed By Rajasinga (2005). Pada rilisan yang dicetak dalam CD-R secara terbatas ini, formasi Rajasinga masih diisi Dani ‘Tremor’ (vokal), Sendy (gitar), Indra ‘Morgg’ (bass), dan Revan (drum). Cetak biru album Pandora dimulai dari demo ini.

“Tidak disangka, sambutan yang sangat baik berhasil kami raih. Dari sinilah timbul keinginan besar untuk kembali ke studio dan merekam lagu baru dengan produksi yang lebih biak dan layak. Gayung bersambut, kata terjawab. Straineyes Productions, sebuah label independen dari negeri jiran Malaysia bersedia untuk bantu merilis album perdana ini,” jelas Rajasinga.

Namun, momentum itu hampir terjegal karena dua personel (Tremor dan Sendy) bersama-sama mengundurkan diri karena perbedaan konsep dan arahan album. Dua personil yang tersisa, yaitu Revan dan Morrg terus melanjutkan proses rekaman. Sementara instrumen yang tak bertuan diisi oleh Biman (gitar) dan Rayadam (vokal).

“Dari formasi baru inilah kami mendapatkan energi dan inspirasi baru yang lebih segar. Bergabungnya dua musisi berbakat ini mampu membentuk kerangka bermusik Rajasinga menjadi lebih kaya, berkarakter dan utuh. Pondasi ini yang kemudian menjadi dasar bermusik Rajasinga di album selanjutnya,” tulis Rajasinga.

Pandora akhirnya dirilis pada bulan Juli, yang kemudian dirangkai dengan tur promo Spreading the Plague. Tur terpanjang Rajasinga ini menjangkau hingga Singapura, Kuala Lumpur, Pinang Island, (Malaysia) dan Bangkok (Thailand). Menurut catatan Rajasinga, Pandora berhasil terjual sebanyak 1000 kopi.

“Mendengarkan kembali apa yang kami rekam sepuluh tahun lalu itu rasanya seperti masuk ke dalam mesin waktu. Langsung terbayang sempitnya kamar kost yang kami sewa, tempat di mana semua materi ditulis. Waktu itu kami masih jauh lebih mudah, naif, kurus, dan gondrong. Terdengar jelas energi kemarahan yang kami tuangkan dalam 15 lagu bertempo cepat, penuh distorsi dan memekakkan telinga. Kami cuma mau memainkan musik yang ribut dan keras, titik (tertawa),” jelas Rajasinga.

0 COMMENTS

Info Terkait

superbuzz
203 views
superbuzz
287 views
superbuzz
337 views