Review Sigmun, Crimson Eyes (2015)

  • By: LS
  • Minggu, 15 November 2015
  • 7825 Views
  • 1 Likes
  • 0 Shares

Sejak awal, kuartet berisikan Haikal Azizi (vokal, gitar), Mirfak Prabowo (bass), Pratama Kusuma Putra (drum), dan Nurachman Andika (gitar), menyatakan musik mereka sebagai ‘Freud Blues Rock’ dan percaya bahwa musik datang dari alam bawah sadar. Jika saja benar Crimson Eyes dan karya-karya lain dari Sigmun merupakan hasil dari spontanitas alam bawah sadar, ini adalah hal yang sungguh gila. ‘Apa yang sebenarnya mereka ingin sampaikan?’ begitu kira-kira perkataan dari beberapa kawan yang telah mendengarkan beberapa track dari album ini. Saya rasa Sigmun tau apa yang mereka ingin sampaikan pada pendengar sejak awal, hanya saja pemahaman yang mesti dicapai setiap individu ketika mendengarkan sebelas track dari Crimson Eyes memerlukan waktu yang beragam.

Palet musik yang Sigmun usung sejak “Valley of Dream” (2011) sampai single terbaru “Ozymandias” (2015) mengalami perubahan yang cukup signifikan. Pada awalnya mungkin kita akan merasa musik mereka begitu familiar karena pengaruh komplotan musisi-musisi rock veteran macam Pink Floyd, Sabbath dan Led Zeppelin yang cukup besar. Nyawa itu memang masih ada dalam Crimson Eyes, namun Sigmun telah memasuki zona yang lebih kelam dengan alam sureal yang tercermin dari musik, serta lirik-lirik suram yang terkadang terdengar sadis.

Ya, simak saja lirik dari “The Gravestones”, The cuts that pierce through your veins/ Your bones shall shatter like dust/ Your blood is the water they lust’. Mereka banyak berbicara tentang hal-hal kelam berbalut alam sureal; iblis, kebohongan, kematian, keputusasaan dan bahkan tentang kiamat – jika saja interpretasi pendengar dibebaskan sebebas-bebasnya. Di balik itu semua, mereka masih menyelipkan “Golden Tangerine” yang secara implisit berbicara tentang sosok ibu.

Ozymandias” memang merupakan single terakhir yang Sigmun keluarkan sebelum Crimson Eyes dirilis secara penuh dan diwanti-wanti sebagai track pembuka album. Kenyataannya, berita ini justru terdengar seperti pengecoh. Dari sebelas track yang ada, “Ozymandias” menjadi track penutup dengan komposisi lagu yang less progessive dibandingkan lagu lainnya.

Kompleksitas bukan hal utama yang mereka sajikan dalam album ini, lagu-lagu dari Crimson Eyes justru berangkat dari pengulangan riff gitar yang menghipnotis, mengantarkan telinga pada komposisi yang lebih rumit. Pola ini dapat didengar dari sebagian besar lagu: track pembuka “In the Horizon”, “Vultures”, juga “Aerial Chateau” single yang sempat mereka rilis pada tahun 2013. Jika menilik kembali ke belakang, single ini nampak lebih pantas menjadi jembatan menuju Crimson Eyes ketimbang “Ozymandias”.

Nuansa Zep rock bakal terdengar pada track pertama “In the Horizon”. Lagu berdurasi sekitar delapan menit ini menjadi pembuka yang menunjukan karakter sound yang lebih tebal dan clean dibandingkan rilisan-rilisan Sigmun sebelumnya. Dan satu hal lagi: lebih banyak echoes. Vokal dari Haikal Azizi pun terdengar mengalami peningkatan kualitas.

Riff gitar yang muncul sejak intro sampai akhir lagu dari track “Vultures” adalah poin menarik. Ya, terutama ketika lagu memasuki part melodi dengan kesan destruktif dan riff utama diubah menjadi sesuatu yang lebih liar sebagai penutup. Intro dari “Halfglass Full of Poison” dengan drum menghentak disertai latar vokal dan suara fuzz yang catchy, mungkin bakal jadi membosankan jika teriakan vokal tidak kunjung masuk, tapi yang terjadi justru sebaliknya. Teriakan, “Just burn, burn, burn, burn them down”  memecah kurva emosi.

The Summoning” menjadi track gahar dengan suara gitar yang sangat heavy, membuat lagu terdengar sangat penuh. Kita pun akan menemukan aroma vokal bak Motorhead pada track “The Gravestones” yang melaju dengan tempo cepat (entah penyaluran hasrat dari sang bassist yang mengagumi trio ini atau bukan sama sekali). Layering melodi yang ada dalam track ini menjadi sesuatu yang pantas untuk mendapatkan tepuk tangan.

Dari segi komposisi lagu, Crimson Eyes memiliki kekayaan yang lebih besar dari lagu-lagu yang mereka rilis sebelumnya. Tentu, memang apa saja yang mereka lakukan sejak terbentuk hingga sekarang? Musikalitas jelas bertambah, berkembang, bahkan pesat. Mereka memang terdengar less familiar dari berbagai band yang menjadi pengaruh dalam berkarya. Mereka lebih terdengar seperti Sigmun.

0 COMMENTS

Info Terkait

superbuzz
382 views
superbuzz
666 views
superbuzz
851 views
superbuzz
1066 views