Rise Against Bawa Pesan Penting dalam Single “The Numbers”

Rise Against Bawa Pesan Penting dalam Single “The Numbers”

  • By:
  • Rabu, 9 June 2021
  • 86 Views
  • 0 Likes
  • 2 Shares

Bebas mengutarakan pendapat dan mendukung perubahan merupakan hal yang cukup identik dengan skena punk. Di ranah musik sendiri, para musisi bernapaskan punk menjadikan musik mereka sebagai salah satu sarana berpendapat demi mewakili banyak pihak secara luas. Begitu pula yang dilakukan oleh Rise Against untuk single terbarunya. Band punk asal Chicago, Amerika Serikat ini baru saja merilis video klip dari single terbarunya berjudul The Numbers.

The Numbers merupakan single terbaru Rise Against yang didaulat sebagai single untuk menyambut album terbaru mereka berjudul Nowhere Generation yang baru saja rilis pada 4 Juni lalu. Single ini sebelumnya dirilis oleh Rise Against pada awal Mei 2021. Secara terbuka Rise Against menjelaskan bahwa video klip ini dirilis sebagai bentuk dukungan dan solidaritas terhadap kontribusi para aktivis dalam menyuarakan perubahan, terutama bagi lapisan masyarakat yang kurang beruntung maupun rentan. Oleh karena itu, sebagai representasi yang baik dan bijak, Rise Against mengajak Indecline, sebuah kolektif aktivis yang berasal dari kelompok seniman, seperti musisi, sineas, fotografer, dan pegiat kreatif lainnya ke dalam proyek video klip single terbarunya. 

Indecline menerima dengan sangat baik ajakan Rise Against untuk berkolaborasi. Perwakilan kolektif seniman dan aktivis tersebut menyatakan bahwa proyek bersama Rise Against ini bisa jadi langkah yang baik untuk menginspirasi dan mengedukasi banyak orang terkait kegiatan aktivisme dalam kebaikan. Indecline juga mengakui bahwa kesempatan yang mereka dapatkan ini dianggap sebagai sebuah kehormatan tersendiri pasalnya kolektif tersebut juga cukup terinspirasi dari pergerakan yang dilakukan oleh Rise Against melalui ranah musik. Bagi Rise Against sendiri, video klip ini tidak semata-mata jadi bentuk protes global saja. Rise Against juga ingin mengingatkan seluruh kalangan masyarakat bahwa saat ini, pergerakan aktivisme sedang berada di masa keemasannya. Oleh karena itu, Rise Against melalui video klip The Numbers mengajak siapa saja untuk terus semangat dalam menyuarakan pendapat kebenaran demi menghadirkan perubahan yang lebih baik di masa depan. 

Tim McIlrath selaku salah satu motor dibalik Rise Against juga menjelaskan bahwa single The Numbers bisa jadi representasi yang baik bagi album Nowhere Generation. Pasalnya, album terbaru dari Rise Against tersebut dirancang berdasarkan fenomena snowflake generation yang tidak sejalan dengan pandangan atau pemahaman Tim McIlrath secara personal. Snowflake generation mengacu pada generasi muda, seperti milenial dan gen Z yang dianggap sebagai generasi yang lemah dan tidak tahan banting. Namun, Tim McIlrath merasa bahwa hal tersebut bukanlah kenyataan yang dirinya ketahui atau pahami. Salah satu motor di dalam tubuh Rise Against tersebut menemukan bahwa generasi muda yang kerap berhubungan dengan dirinya lebih malah mencerminkan sosok yang pintar dan pekerja keras. Untuk itu, Rise Against mencoba menjelaskan bahwa ada ketimpangan dalam pandangan sosial saat ini yang perlu segera dibenahi dari dalam.

Album Nowhere Generation ini juga jadi cara Rise Against untuk menjaga eksistensi mereka di dunia musik internasional. Pasalnya, meskipun dibentuk pada akhir tahun 1990-an, Rise Against baru mendapatkan kesuksesan di mata penikmat musik internasional ketika mereka berhasil merilis album kelima di tahun 2008, Appeal To Reason. Album kelima dari Rise Against tersebut merupakan usaha ketiga yang dilakukan oleh band punk asal Chicago tersebut untuk bekerja sama dengan Bill Stevenson dan Jason Livermore sebagai produser. Selain pandangan terhadap pemahaman materi industri musik, Rise Against cukup senang untuk bekerja sama dengan Jason Livermore dan Bill Stevenson. Band punk asal Chicago ini merasa bahwa pola kerja atau rekaman yang diarahkan oleh Jason Livermore dan Bill Stevenson terasa efektif dan cocok dengan kepribadian Rise Against. Album ini juga jadi album perdana bagi Zach Blair sebagai gitaris Rise Against. Seluruh pihak yang bekerja sama dalam mengerjakan album kelimat ini menyatakan bahwa kehadiran Zach Blair seakan jadi jodoh tersendiri bagi Rise Against. Pasalnya, meskipun baru satu tahun bergabung, Zach Blair sudah terasa mantap terintegrasi dengan permainan dan konsep fundamental dari Rise Against.

Album kelima Rise Against tersebut juga jadi album perdana yang menandakan kerja sama Rise Against dengan label rekaman raksasa, Interscope Records. Album tersebut di Amerika Serikat sendiri berhasil menyentuh posisi 3 untuk chart Billboard 200 dan di tahun 2008, album kelima tersebut jadi album perdana Rise Against dengan tingkat penjualan terbanyak dalam sepanjang sejarah band tersebut berdiri. Pada minggu pertama perilisannya, album kelima Rise Against tersebut berhasil terjual hingga 64.000 keping dan terhitung pada tahun 2010 berhasil terjual sebanyak 482.000 keping. Di luar Amerika Serikat, album kelima Rise Against tersebut juga memberikan kesuksesan dan popularitas yang signifikan. Di Kanada sendiri, album tersebut berhasil mendapatkan peringkat nomor satu untuk tangga album nasional. 

Kesuksesan secara internasional tersebut didasari oleh perubahan arah musik yang dilakukan Rise Against. Band punk tersebut mengakui bahwa musik mainstream merupakan konsep dasar yang digunakan oleh Rise Against dalam mengolah materi-materi yang ada. Tidak jarang Rise Against mendapatkan kritik dari para penikmat musik militannya akibat perubahan dilakukan. Meskipun mendapatkan banyak kritik, tampaknya negativitas tidak jadi masalah yang besar untuk memadamkan semangat berkarya Rise Against hingga saat ini. Dalam merayakan perilisan album kelimanya Rise Against memutuskan untuk menjalankan tur konser di Amerika Serikat bersama band cadas lainnya, seperti Thrice, Alkaline Trio, dan The Gaslight Anthem.

Image courtesy of Ernie Ball

0 COMMENTS