ROCKIN' RELEASES: Cara Perilisan Album Paling Unik

  • By: NTP
  • Jumat, 16 June 2017
  • 3999 Views
  • 0 Likes
  • 0 Shares

Melepas musik ke pasaran bisa dilakukan dengan mengikuti pakem label, atau mendobrak kebiasaan tersebut. Biasanya perilisan album akan diiringi kabar di media massa, atau konferensi pers dan penampilan singkat. Ini adalah rute aman yang biasanya ditempuh kebanyakan band dan musisi.

[bacajuga]

Cara lain yang mendobrak kebiasaan ini biasanya bergantung pada kreativitas band dan tim promosi mereka. Promosi album yang biasanya sekadar formalitas untuk mendulang konsumen potensial, dialihkan menjadi momentum penting, sebuah pengubah paradigma, atau bisa juga ‘pemasaran bayangan’ yang bungkam hingga album tersebut sampai ke tangan para pendengar. Inilah beberapa metode perilisan album penting yang mengubah pemasaran musik.

1. Arctic Monkeys

Sebelum kini menjadi nama besar di kancah rock dunia, Arctic Monkeys hanyalah empat pemuda dari Sheffield, Inggris, yang kerap membagikan CD demo berjudul Beneath the Broadwalk di panggung mereka selama tahun 2004. Arctic Monkeys juga membiarkan sahabat mereka memperbanyak demo mereka dalam bentuk CD. Secara sengaja atau tidak, bentuk file sharing ini akhirnya merambah ke internet lewat laman Myspace yang dikelola teman-teman dekat Arctic Monkeys.

Saat mereka menekan kontrak dengan Domino Records untuk melepas Whatever People Say I Am, That's What I'm Not (2006), para penggemar di media sosial sudah menunggu album tersebut selama dua tahun. Hasilnya? Debut Arctic Monkeys terjual sebanyak 360.000 kopi di minggu pertama perilisannya, dan hingga kini menjadi pemegang gelar album perdana terlaris di sejarah musik Britania (quintuple platinum).

2. Beck

Pada tahun 2012 Beck merilis Song Reader, buku berisi partitur 20 lagu dan sekitar 100 halaman berisi ilustrasi. Langkah ini cukup membingukan, pasalnya Beck tidak merilis musik yang mendampingi Song Reader, ia justru membebaskan partitur itu untuk ditampilkan sesuai interpretasi band atau musisi lain.

Beck juga menolak membawakan materi Song Reader selama dua tahun. Di tahun 2014, Beck akhirnya melepas album musik Song Reader bersama 19 musisi lain. Situs resmi album ini juga masih menampilkan lagu-lagu Song Reader yang dibawakan oleh para penggemar Beck.

3. Cheap Trick

Band kawakan asal Chicago ini memilih kaset 8-track sebagai salah satu format perilisan album The Latest (2009). Kaset 8-track yang harus diputar di deck khusus ini sempat menjadi format musik populer di dekade 60-an hingga akhir 70-an, terutama sebagai fitur hiburan tambahan di mobil.

Bagi penggemar musik yang tumbuh setelah era tersebut, format kaset tape lebih populer karena lebih murah untuk diproduksi. Bagi personel Cheap Trick yang tumbuh di dekade 60-an, format 8-track dipilih sebagai bentuk nostalgia dan memorabilia dari era yang telah lalu.

4. Guns N’ Roses

Popularitas Guns N’ Roses memungkinkan mereka tampil selama empat tahun tanpa merilis album baru. Sejak album Appetite For Destruction (1987) selama empat tahun Guns N’ Roses mengerjakan album ganda Use Your Illusion I & II (1991).

Saat perilisannya, Guns N’ Roses memilih untuk memecah Use Your Illusion ke dalam dua album yang dilepas pada hari yang sama. Para penggemar yang antusias mengantri sejak sehari sebelum Use Your Illusion dirilis, langkah ini pun direspon oleh 1.000 toko musik yang buka hingga tengah malam, tepat saat album ini didistribusikan. Pada tanggal resmi perilisan Use Your Illusion, yaitu Selasa, 17 September, Geffen Records mencatat angka penjualan sebesar 500.000 kopi dalam satu hari. Use Your Illusion terbilang memulai tren perilisan album pada tengah malam, yang kerap digunakan oleh band dan musisi hingga kini.

5. Godspeed You! Black Emperor

Kolektif post-rock asal Montreal ini memilih jalan sunyi untuk merilis album keempat mereka, Allelujah! Don't Bend! Ascend! (2012). Album yang telah ditunggu-tunggu selama sepuluh tahun ini dirilis pada 1 Oktober di Orpheum Theatre, Boston, AS, dijual di meja merchandise bersama pernak-pernik lain.

Allelujah! Don't Bend! Ascend! dirilis tanpa promosi media massa, alih-alih, layaknya album ‘bawah tanah’, perilisannya disebar dari mulut ke mulut. Album yang dilepas tanpa kebisingan ini akhirnya meraih anugerah album terbaik tahun 2013 di ajang Polaris Music Prize, Kanada.

6. Kaiser Chiefs

Jalur perilisan album yang tak umum bisa jadi berujung di gagalnya penjualan, contohnya adalah album The Future is Medieval (2011) karya Kaiser Chiefs.

Jengah akan pembajakan materi mereka, Kaiser Chiefs mengambil tindakan dengan membebaskan para penggemar menyusun album sendiri dari 23 lagu yang tersedia di situs resmi mereka. Tersedia pratinjau lagu berdurasi 23 detik, yang kemudian disusun ke dalam album berisi sepuluh lagu yang disertai versi sampul masing-masing. Para penggemar juga mendapatkan keuntungan apabila The Future is Medieval versi mereka terjual. Namun, strategi ini gagal lantaran terlalu singkatnya durasi pratinjau, sementara terlalu banyak lagu yang bisa dipilih.

7. Mogwai

Keseriusan Mogwai akan medium musik sanggup mengundang decak kagum. Salah satu single dari album Mogwai Young Team (1997), “Tracy” dirilis dalam ‘bentuk’ kotak musik sebesar telapak tangan orang dewasa.

Kotak musik berbahan dasar baja ini dirakit khusus untuk memainkan “Tracy” bila diputar searah jarum jam. Alunan “Tracy” terdengar semakin memilukan ketika dimainkan melalui kotak musik tersebut.

8. Nine Inch Nails

Trent Reznor dikenal sebagai musisi yang memaksimalkan teknologi hingga batas terjauh, tak hanya dalam menciptakan musik, tapi hingga proses pemasarannya. Secara sengaja ia menaruh sebuah flashdisk di kamar mandi arena konser NIN di Lisbon, Portugal, dan Barcelona, Spanyol. Dua flashdisk tersebut berisi lagu “My Violent Heart” dan “Me, I’m Not” dari album Year Zero (2007) yang saat itu belum dirilis.

Selain dua lagu tersebut, flashdisk tersebut juga memuat beberapa petunjuk yang mengarah ke game online hasil kolaborasi Reznor dan 42 Entertainment. Akhir dari game online bertema distopia tersebut adalah tanggal rilis Year Zero. HBO bahkan sempat mempertimbangkan untuk mengadaptasi game tersebut menjadi serial televisi.

9. Radiohead

Di tahun 2007, Radiohead telah menjelma menjadi salah satu band rock terbesar dan paling inovatif. Posisi ini memungkinan Radiohead untuk melancarkan promosi album yang merubah pemasaran musik secara mendalam; para pembeli In Rainbows (2007) dibebaskan untuk membayar berapapun nominal yang mereka inginkan. Langkah ini ditempuh karena mereka merasa jengah akan pembajakan album Radiohead.

Namun, tak semua pihak simpatik atas langkah ini, contohnya adalah koran The Guardian yang berpendapat langkah ini akan menyusahkan band-band baru. Sementara solois Lily Allen menganggap bahwa harga karya musik harus ditentukan lebih dulu sebelum dilepas. Secara mengejutkan, In Rainbows justru lebih mendatangkan keuntungan dibanding album Radiohead lainnya, walau 70% mengunduhnya secara gratis, dan 2,4 juta kopi diunduh melalui torrent.

10. U2

Sebelum menjadi pemain besar di industri musik, Apple memulai langkahnya dengan mengarahkan industri ini ke arah digital. Di awal millenium baru, iPod dan iTunes masih dalam masa perkembangan, sementara format mp3 hanya populer di kancah pembajakan musik dalam jaringan. Apple membelokkan arah industri musik dengan menggandeng U2, yang kala itu bersiap merilis How to Dismantle an Atomic Bomb (2004). Promosi yang ditempuh keduanya adalah peluncuran single “Vertigo” dalam iklan Apple.

Kemudian, iPod terbatas edisi U2 yang memuat seluruh diskografi mereka, termasuk How to Dismantle an Atomic Bomb. U2 dan Apple kembali bekerjasama satu dekade kemudian dengan merilis Songs of Innocence di setiap iTunes atau gadget yang memuat iTunes.

0 COMMENTS

Info Terkait

superbuzz
625 views
superbuzz
163 views
superbuzz
201 views
superbuzz
1724 views