Rumah Sanur: Salah Satu Kontribusi Kreatif dari Rudolf Dethu

Rumah Sanur: Salah Satu Kontribusi Kreatif dari Rudolf Dethu

  • By:
  • Jumat, 5 February 2021
  • 208 Views
  • 1 Likes
  • 0 Shares

Kehadiran ruang kreatif di berbagai penjuru Indonesia merupakan sebuah hal penting dan patut diapresiasi. Pasalnya tanpa hadirnya ruang kreatif, akan sulit bagi para musisi, seniman, dan pelaku seni lainnya untuk berkembang dan saling berdiskusi demi mengasah keahlian dan memberikan inovasi di setiap karyanya. Atas dasar itu juga Rudolf Dethu mengenalkan Rumah Sanur Creative Hub selaku Co-Director untuk jadi tempat bernaung para pelaku seni di Bali.

Baik di blantika musik lokal di Bali maupun secara nasional, Rudolf Dethu dikenal sebagai sosok yang cukup memiliki pengaruh besar terhadap kesuksesan Superman Is Dead dan juga Navicula. Saat ini, Rudolf Dethu berperan sebagai manajer untuk band rock asal Bali, The Hydrant. Di luar industri musik, Rudolf Dethu tetap menjalani kegiatannya dengan irisan musik dan seni. Hal tersebut dibuktikan Rudolf Dethu sebagai seorang co-director untuk Rumah Sanur Creative Hub dan sebagai pendiri untuk Rudolf Dethu Showbiz. 

Tidak hanya jadi co-director untuk Rumah Sanur Creative Hub, Rudolf Dethu juga dikenal sebagai pribadi yang fokus dalam mengembangkan ekosistem seni di Bali. Rudolf Dethu pernah menjabat sebagai ketua untuk OneDollarForMusic, yang merupakan sebuah organisasi musik independen yang menaungi musisi Indonesia dan Belanda. Selain itu, Rudolf Dethu juga merupakan salah satu pendiri dari Bali Creative Festival yang sempat jadi salah satu festival kreatif terbesar di Indonesia dalam rentang tahun 2010 dan 2011. 

Kontribusi di dunia musik dan seni juga tidak berhenti di situ, Rudolf Dethu pernah merilis 2 buah buku bertemakan musik. Pertama adalah Blantika | Linimasa, sebuah buku yang menceritakan tentang sejarah musik modern di Bali serta sebuah buku biography dari Superman Is Dead berjudul Rasis! Pengkhianat! Miskin Moral!. Kecintaan Rudolf Dethu dengan musik dan seni berawal di masa mudanya di tahun 1980 yang dirinya habiskan dengan bergaul bersama musisi-musisi di Denpasar, Bali. Berbekal koneksi dan pertemanan, Rudolf Dethu pun berhasil mendapatkan wawasan tentang musik yang terus dirinya kembangkan hingga saat ini.

Di tahun 2017, Rumah Sanur Creative Hub juga sempat dipilih sebagai tuan rumah untuk Festival Anti Korupsi yang digagas oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK). Dalam hal ini, Rudolf Dethu sebagai co-director untuk Rumah Sanur Creative Hub bertanggung jawab atas konsep serta konten yang disajikan kala itu.

Rudolf Dethu merancang ekosistem di Rumah Sanur Creative Hub sebagai rumah atau tempat bernaung bagi para seniman, musisi, pegiat industri kreatif, serta social entrepreneurs. Hal tersebut diselaraskan Rudolf Dethu dengan motto Rumah Sanur Creative Hub, yaitu to connect, collaborate, and celebrate. Saat ini Rumah Sanur Creative Hub difungsikan sebagai ruang berkumpul bagi para pelaku seni, industri kreatif, serta aktivis di Bali. Dalam mengakomodasi ruang berkumpul yang santai, Rudolf Dethu melalui Rumah Sanur Creative Hub menghadirkan panggung musik, kedai kopi bernama Kopi Kultur, toko konsep, serta restoran. Rumah Sanur Creative Hub juga sekaligus memenuhi kebutuhan ruang bekerja bagi para digital nomads yang bermukim di bali. Hal tersebut didasari oleh hadirnya Kumpul Coworking Space.

Ide awal didirikannya Rumah Sanur Creative Hub adalah untuk menciptakan ruang kreatif bagi komunitas, pebisnis, wirausaha, pedagang, serta pengembang bisnis startup lokal di Bali. Maka dari itu, rasanya tidak aneh jika melihat banyak orang yang duduk selama berjam-jam dengan fokus pada laptop di Rumah Sanur Creative Hub. ruang kreatif ini juga sangat terbuka untuk berkolaborasi dengan para penggiat industri kreatif. Bahkan untuk dapat berkontribusi dalam mengembangkan potensi komunitas lokal juga jadi tujuan didirikannya Rumah Sanur Creative Hub. 

Selain jadi tuan rumah untuk Festival Musik Anti Korupsi di tahun 2017, Rumah Sanur Creative Hub juga sering mengadakan berbagai macam event yang bersinggungan dengan seni dan sosial. Kebutuhan terkait event seni dan sosial juga diakomodasi oleh Rumah Sanur Creative Hub dengan tersedianya beberapa ruangan yang dikhususkan untuk kebutuhan meeting, workshop, seminar, presentasi, hingga pameran-pameran kecil. Setiap tahunnya sebelum harus sedikit menyesuaikan akibat pandemi, biasanya Rumah Sanur Creative Hub memiliki kurang lebih 100 event yang rutin digelar. Salah satu acara yang kerap kali banyak peminatnya adalah sesi tasting kopi bersama kopi kultur.

Dalam acara coffee tasting tersebut, biasanya Kopi Kultur yang berada di dalam Rumah Sanur Creative Hub mengajak para pengunjung dan komunitas yang ada untuk merasakan koleksi biji kopi terbarunya. Ajang ini juga dijadikan sebagai sebuah sarana informasi dan edukasi mengenai ragam rasa dan olahan biji kopi lokal dan nusantara. Salah satu biji kopi andalan yang tersedia di Kopi Kultur yang terletak di dalam Rumah Sanur Creative Hub ini adalah biji kopi yang berasal dari Kintamani, Bali dan biji Yellow Cathura dari Manggarai. Ragam kopi yang tersedia di sini juga bisa dijangkau dengan harga yang relatif murah. Untuk satu cangkir kopi khas Nusantara bisa dinikmati dengan hanya mengeluarkan uang sebesar Rp 25.000 saja. 

Di luar penikmat kopi, Rumah Sanur Creative Hub yang dikelola oleh Rudolf Dethu ini juga jadi tempat berburu merchandise atau pernak-pernik yang khas. Untuk mendapatkan merchandise atau pernak-pernik yang khas, para pengunjung bisa menemukannya di beberapa toko konsep yang terletak di dalam Rumah Sanur Creative Hub ini. Toko-toko konsep yang berada di dalam Rumah Sanur Creative Hub ini merupakan garapan dari komunitas kreatif lokal yang bertujuan untuk meningkatkan perputaran roda ekonomi di kawasan Sanur dan juga Bali secara keseluruhan.

0 COMMENTS