Saykoji

Saykoji Ramaikan True Colors Festival Bersama Rapper Mancanegara

  • By:
  • Jumat, 9 October 2020
  • 405 Views
  • 2 Likes
  • 0 Shares

Nama Saykoji merupakan salah satu nama besar yang ada di skena musik hip-hop Tanah Air. Kiprah dan prestasinya yang cukup kuat berpengaruh di industri musik Indonesia, bisa membuat Saykoji dianggap sebagai salah satu musisi legendaris saat ini. Saykoji merupakan nama panggung dari seorang pria bernama Ignatius Rosoinaya Penyami, yang akrab disapa Igor.

Saykoji mulai muncul ke permukaan belantika musik Indonesia melalui single “So What Gitu Lho” yang juga muncul di album perdananya di tahun 2005. Melalui single tersebut, nama Saykoji mulai terlihat menghiasi line-up festival musik serta pentas seni di Ibukota. Antusias penikmat musik yang mengapresiasi kehadiran Saykoji dan album pertama yang sukses, Igor mulai melebarkan sayap kariernya dengan merilis album kedua berjudul “Musik Hati” di tahun 2006. Di dalam album tersebut, lahir kembali sebuah single yang tak kalah ramai didengar orang berbagai kalangan masyarakat berjudul “Jomblo”. Kembali sukses melalui rilisan karyanya, memantapkan posisi Saykoji sebagai salah satu musisi mumpuni mulai kala itu hingga saat ini.

Terus aktif berkontribusi, baik untuk skena komunitas dan industri musik hip-hop Indonesia, membuat Saykoji sering mendapat perhatian dari kancah mancanegara. Perhatian terbaru yang menghampiri baru-baru ini adalah, dirinya berkesempatan untuk hadir sebagai salah satu panelis di event True Colors Festival di Jepang yang disiarkan secara virtual pada 26 September yang lalu. Hadir sebagai salah satu panelis untuk acara seminar hip-hop, Saykoji bersanding dengan pegiat hip-hop internasional seperti Wheelsmith dari Singapura, Tamura King, trio asal Jepang, dan Jonzi D, praktisi hip-hop dance dan koreografer asal Inggris Raya sebagai moderator acara berjudul “This is Hip-Hop!”. Saykoji bersama para panelis lainnya berbicara tentang stereotip negatif yang melekat pada nama “hip-hop” melalui pengalaman pribadi masing-masing yang mencakup kulturnya di ranah sosial dan perkembangannya di negara masing-masing. 

Pengakuan dari kancah mancanegara terhadap Saykoji bukanlah suatu hal yang datang secara tiba-tiba. Selama perjalanan kariernya, ia kerap mendapatkan tantangan untuk tetap mengibarkan benderanya di industri musik hip-hop Indonesia. Saykoji pertama kali memulai kariernya sebagai musisi hip hop independen. Ia pernah bercerita perjuangannya ke sana, ke mari menggunakan bus kota untuk dapat tampil dari satu panggung ke panggung lainnya. Hasil jerih payah yang dikeluarkan membuahkan kontrak rekaman bersama label rekaman Blackboard dan EMI. Namun kerja sama antara Saykoji dan kedua perusahaan rekaman tersebut tak berlangsung lama. Ia kembali memilih untuk berkarya melalui jalur independen mulai tahun 2008 hingga kini.

Keluarnya Saykoji dari major label ini berawal dari pergeseran tren musik Tanah Air yang kala itu condong untuk mempopulerkan karya-karya musisi pop melayu. Pergeseran tren musik tersebut, membuat sulit langkah Saykoji untuk kembali menelurkan karya-karya terbarunya kepada audiens yang lebih luas, seusai album kedua yang cukup tenar sebelumnya. 

Kembalinya Saykoji ke jalur independen, tidak serta merta membuat popularitasnya kembali meroket seperti di tahun 2005-2006 silam. Masalah yang terjadi di dalam hidup personal harus membuatnya bekerja lebih ekstra demi menyelesaikan persoalannya satu per satu. Masuk ke tahun 2009, nama Saykoji pun kembali terkenal. Usahanya untuk berdikari akhirnya membuahkan hasil yang didapat berkat tenarnya lagu “Online”. Kepopuleran lagu “Online” bahkan sempat digunakan sebagai materi promosi sebuah brand telekomunikasi yang kembali meningkatkan minat dan atensi para penikmat musik Tanah Air kepada Saykoji hingga hari ini. 

Saykoji pertama kali mengenal hip hop saat dirinya masih berada di bangku SD. Namun kala itu, ia belum benar-benar begitu suka dengan genre tersebut. Menurutnya kala itu musik hip hop sulit untuk dicernanya, karena di tahun 1980-an musik hip hop didominasi dengan lirik berbahasa Inggris dan pelafalan yang cepat menurutnya. Kecintaan Saykoji terhadap hip hop dan musik rap baru muncul saat dirinya mengenyam pendidikan di waktu SMP. Saykoji bercerita bahwa album kompilasi “Pesta Rap” di tahun 1990-an adalah pintu utama yang membuat dirinya jatuh cinta terhadap dunia hip-hop. Dari kompilasi tersebut, Saykoji pun akhirnya mengetahui bahwa rap sebagai musik adalah sebuah medium untuk bercerita. Menurut Saykoji, lagu rap biasanya bercerita tentang segala aspek yang hadir dari kehidupan yang nyata, sehingga saat disajikan kepada para penggemarnya dapat menjadi hal yang relevan karena bisa jadi sebuah representasi di kalangan masyarakat, yang tidak semua mampu untuk menyuarakan pendapatnya.

Makna rap sebagai medium untuk bercerita hingga hari ini masih dipegang sebagai sebuah pedoman berkarya bagi Saykoji. Setiap karya yang dibuat Saykoji tidak semata-mata hanya untuk mencari popularitas. Baginya, setiap karya yang ditulis memang memiliki maksud untuk menceritakan keluh kesah yang dirinya rasakan. Terlepas karya itu akan viral atau tidak nantinya. Menurut Saykoji, ada kepuasan tersendiri jika dirinya berhasil menceritakan sesuatu melalui rangkaian lirik dan pelafalan rima yang dirinya persiapkan. Apalagi jika para pendengar memahami sampai ke segi konteks dari karyanya. Ia pun menyatakan, agar skena musik hip hop atau rap ini bisa dapat terus bergulir tentunya dibutuhkan dukungan dari hubungan antara pelaku seni dan penikmatnya yang kuat.

Sebagai seorang rapper yang lekat dengan citra extrovert dan mampu mengutarakan pendapatnya di mana saja, ternyata berbanding terbaik dengan kehidupan personal Saykoji. Saykoji mengakui bahwa dirinya merupakan seseorang yang cenderung penyendiri. Ia menganggap musiknya hanya sebagai pemanjangan tangan dari hal-hal yang ingin dirinya utarakan. Baik sifatnya selebrasi atau sebuah kritik. Ia pun menyatakan bahwa para pendengar dan penggemar akan dapat mudah mengenali dirinya dan sudut pandangnya jika menelisik setiap lirik yang dilafalkan pada karya-karyanya.

0 COMMENTS