Never Too Lavish

Sebuah 'Rumah Kreatif' Bernama Never Too Lavish

  • By: NND
  • Kamis, 11 April 2019
  • 162 Views
  • 0 Likes
  • 0 Shares

“Apa itu Never Too Lavish? Awalnya kita cuman bikin untuk ‘customizing’ aja, jadi custom house—tapi kalo sekarang sendiri Never Too Lavish udah menjurus content creator. Jadi udah lebih ke perkumpulan orang kreatif, di sini tuh,” umbar Benhard—atau yang biasa dipanggil hardthirteen, co-founder Never To Lavish.

Berawal dari sebuah custom house, tempat dimana kalian bisa pesan jasa custom sneakers, Never Too Lavish berhasil menempuh perjalanan hebat untuk terus berkembang hingga menjadi entitas yang matang seperti sekarang. Apakah mereka sudah puas? Yok cari tahu lebih lanjut tentang Never Too Lavish di bawah ini!

Di series Has#tag episode keempat dari SUPERMUSIC, kami berbicara panjang lebar bersama Never Too Lavish untuk mencari tahu apa yang mereka kerjakan, bagaimana dan sudah sejauh mana eksistensi karya-karya mereka. Enggak lupa juga pertanyaan terbesar—“sudah puas belum?” Setelah wawancara bersama Benhard, kami jadi  soal hal-hal keren di balik Never Too Lavish.

Awalnya, Benhard merupakan seorang seniman grafiti di jalanan. Namun, dia sadar bahwa menggambar di jalanan—atau di tembok—tidak bisa dilakukan setiap hari. Dia butuh wadah baru agar bisa terus berkarya.

Larilah dia dari satu medium ke lainnya dan mulai menggambar di sepatu sneakers. Berangkat dari hal serupa, lahirlah Never Too Lavish—sebuah  custom house yang menyajikan visualisasi keren untuk barang-barang (bisa sepatu, jaket, jam, kacamata, dan lainnya) yang ingin kalian tambahkan nilai estetikanya.

Untuk proses kerjanya, Never Too Lavish enggak mau pusing sama flow kerja. Melihatnya, terasa benar kerja tim dan tanggung jawab leader yang propsional dan seimbang dalam menggarap design custom mereka. Never Too Lavish juga menggunakan referensi-referensi untuk lebih menghasilkan custom yang lebih memuaskan dan tentunya, akurat.

“Gue ngonsep bareng sama dua orang design gue. Setelah dapet brief dari customer, kita lempar dulu ke group. Terus, gue akan ngelempar juga beberapa referensi gambar yang akan kita pakai,” imbuhnya menjelaskan soal cara mereka kerja.

 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 

Vuitton Damier Graphite on AJ1. #deconrecon

A post shared by NEVERTOOLAVISH (@nevertoolavish) on

Bicara soal sneakers dan proses custom,Never To Lavish kerap menerapkan proses “Decon-Recon”. Apa itu? Decon-Recon merupakan sebuah proses medekonstruksi sneakers dan kemudian merekonstruksinya ulang dengan materi baru atau yang diinginkan oleh customer.

Deconstruct and reconstruct,” rangkum Benhard menerangkan.

Tentu proses custom sebuah sneakers tentu tidaklah semudah itu, banyak kendala dalam prosesnya. Awalnya, trial error itu bisa diulang sampai sepuluh kali. Bahkan, pernah mereka membongkar sepatu Yeezy sampai delapan kali—hingga akhirnya rusak dan tidak bisa dipasang ulang. Sakit!

Untuk eksistensi karya sendiri, Never Too Lavish sudah bukan lagi nama awam di dunia custom Indonesia. Jelas saja, karya mereka sudah sampai dipakai oleh RI 1. Ya, Jaket custom dari Never Too Lavish digunakan oleh bapak presiden ke-7 Indonesia, Joko Widodo.

Begitu juga dengan para musisi—Never Too Lavish juga kerap colab bareng sama para musisi lokal. Contohnya, mereka pernah colab bareng kang Armand Maulana dari Gigi, dengan merancang sebuah jaket penuh paint splatter untuk seorang vokalis yang energik.

Sekarang, jasa custom Never Too Lavish marak dibicarakan. Pesanan custom-nya pun sudah semakin banyak dan merambah ke lintas media—tidak lagi terbatas hanya sneakers. Custom jaket, jam tangan, handphone, kacamata, dompet, spoiler mobil, body motor, dan lain-lain jadi makanan mereka sekarang.

Intinya, kualitas custom Never Too Lavish sudah tidak bisa dipungkiri dan tidak berbohong.

Jadi kembali ke pertanyaan di awal, “Apakah sekarang Never to Lavish sudah puas?” Ternyata untuk menjawabnya, kita hanya perlu merujuk pada makna yang terkandung dari nama Never Too Lavish.

“Sebenernya Never To Lavish itu artinya adalah ‘gak pernah puas’. Lo ga akan bosen untuk bikin karya, berkembang, dan ga bosen untuk ngerjain yang itu-itu aja. Jadi kaya, Never To Lavish itu enggak ada batasnya, lo bisa ngapain aja disitu,” tutup Benhard secara mantap.

Jadi bisa kita pastikan bahwa mereka belum puas, dan mungkin tidak akan pernah. Mimpi berikutnya bagi mereka adalah keliling dunia dan mengerjakan project di tiap negara yang mereka singgahi, ada yang bisa bantu?

Tonton liputan lengkapnya di episode Has#tag milik SUPERMUSIC. Has#tag eps. 4 sudah bisa kalian simak melalui video dibawah ini. Jangan lupa untuk subscribe ke channel resmi Youtube SUPERMUSIC untuk terus pantau dan dapatkan update terbaru dari konten video kita!

0 COMMENTS

Info Terkait