jadu

Sekarang Lo Bisa Beraksi Bareng Hologram Musisi Idola Lewat Aplikasi 'Jadu'

  • By: NND
  • Minggu, 31 May 2020
  • 172 Views
  • 1 Likes
  • 1 Shares

Mimpi nyanyi dan joged bareng idola kalian? Tenang, mungkin saja sebentar lagi semua itu bukan lagi sebatas angan-angan. Perkenalkan Jadu--sebuah aplikasi musik startup asal Los Angeles yang bergerak dalam disiplin Augmented Reality (AR).

Di kancah musik dunia, AR sendiri sudah kerap digunakan dalam perihal promosi--seperti Pearl Jam dengan single “Superblood Wolfmoon”-nya di bulan Februari kemarin yang merilis lagunya kepada para fans (kolaborasi dengan Powster AR studio) dengan cara mengarahkan gawainya masing-masing ke arah bulan. Adapula Eminem yang hadir dengan aplikasi AR-nya sendiri untuk panggungnya di Coachella (2018).

 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 

????????’???????? ???????????????? @crowntheempire Blurry hologram out now with the new music video #jaduhologram

A post shared by Jadu (@jaduhologram) on

Namun dalam kasus Jadu, mereka menaruh fokus kepada satu unsur AR yang cukup forward-thinking dalam perkembangan musik: Hologram. Ya, melanjutkan kegilaan konser “hologram” Tupac di Coachella 2012, ataupun tur hologram Whitney Housten di U.K. baru-baru ini, Jadu menghadirkan kecanggihan hologram ke dalam gawai kalian.

Cara kerjanya cukup memukau; aplikasi ini merekam para musisi saat sedang berdansa menggunakan 106 kamera yang mengelilingi mereka secara menyeluruh agar mampu menangkap dimensinya, menjadikannya terlihat begitu “nyata”. Semua gerakan itu kemudian diolah dan disimpan sebagai hologram yang bisa kalian akses melalui kamera gawai via aplikasi Jadu. Ketika dunia sedang tidak bisa menikmati sajian musik live secara konvensional, barangkali ini bisa menjadi produk musik di dunia maya yang segar, nih.

Semenjak pertama kali meluncur, Jadu sudah menggaet lima musisi lintas genre; diantaranya adalah popstar dan bintang TikTok, Poppy; unit punk dari Russia, Pussy Riot; serta rapper kawakan, Vic Mensa. Baru-baru ini, mereka menambahkan daftar kolaborasinya dengan mendapuk grup metalcore Crown the Empire ke dalam barisan musisi yang hologramnya bisa kalian pamerkan sebagai konten sosmed.

Asad J. Malik selaku CEO dari 1RIC--studio yang mengembangkan Jadu--menyatakan bahwa ia “berusaha mencari cara agar hologram tiga dimensi dapat lebih mudah diakses konsumer menengah,” dilansir dari Rolling Stone.

“Sekarang ini, orang-orang ingin ‘hadir’ ke dalam konten yang mereka unggah. Jika mereka mengunggah sesuatu, kemungkinan besar ada mereka di dalam konten tersebut, terutama setelah kehadiran aplikasi seperti TikTok,” terangnya. “Ada generasi baru yang lebih percaya diri dalam bereskpresi melalui karya-karya seniman di luar sana.”

Dari sudut pandang para musisi, mereka nampak senang dan “tertolong” dengan adanya aplikasi Jadu. Adapun Pussy Riot yang menjunjung aktivisme dalam musik mereka, yang merasa mampu menyebarkan pesan-pesannya dengan lebih meluas. Lagu “Hangerz” yang narasinya seputar hak perempuan (dan aborsi), diangkat dalam hologram Jadu.

Untuk Crown the Empire sendiri, meluncurnya proyek dengan Jadu ini bertepatan dengan dirilisnya video klip untuk lagu “BLURRY (out of place)”, yang mana pesannya diharapkan dapat memberikan rasa tenang di tengah situasi dunia yang terimbas pandemi. “Kita ingin merilis sesuatu yang spesial untuk membantu kalian melewati masa-masa kelam ini--sebuah lagu tentang merasa tersesat saat semua harapan kita hilang,” dikutip dari Altpress.

Apakah kalian tertarik mencoba aplikasi hologram ini? Menurut kalian, siapa musisi yang perlu digaet oleh Jadu untuk dibuatkan hologramnya?

0 COMMENTS