phoebe

Sendu Bareng Phoebe Bridgers dan Album Keduanya yang Sensasional, ‘Punisher’

  • By: NND
  • Jumat, 7 August 2020
  • 56615 Views
  • 2 Likes
  • 1 Shares

Phoebe Bridgers bukan nama asing dalam kancah musik indie Amerika. Selain karir solo yang gemilang meski masih berusia muda, ia juga aktif dalam supergroup Boygenius bersama Julien Baker dan Lucy Dacus. Tak hanya itu, karya Bridgers juga dikenal melalui duo Better Oblivion Community Center bersama Conor Oberst (Bright Eyes).

Setelah melepas EP (Killer, 2014) dan debut album yang impresif (Stranger in the Alps, 2017), Phoebe pun langsung menempatkan dirinya pada radar musik global. Sejumlah karya kolaborasinya pun terus menampilkan kebolehannya sebagai seorang musisi dan produser, membuat semua orang mengantisipasi album nomor dua dari musisi kelahiran tahun 1994 ini.

Antisapasi itu akhirnya dibayar lunas pada 18 Juni 2020 silam. Punisher, album sophomore dari Phoebe Bridgers, resmi mengudara melalui Dead Oceans. Tidak jauh berbeda dengan album pertamanya, hasilnya pun memuaskan.

Rekan dekatnya pun didapuk sebagai kolaborator dalam album tersebut. Conor Oberst, Lucy Dacus, dan solois Christian Lee Huston--semua hadir dan menyumbang peran. Kepada Entertainment Weekly, Phoebe dan rekan-rekannya angkat bicara terkait album barunya itu.

“Saya mulai menulis (album ini) semenjak tiga setengah tahun lalu, dan kita mulai rekaman di musim panas 2018. Jadi penggarapannya sudah cukup lama,” tutur Phoebe tentang Punisher.

Conor juga turut menambahkan, “(Punisher) adalah versi musik seorang Phoebe yang lebih terealisasikan. Saya tahu dia merasa lebih memegang kendali, tidak banyak argumen yang terjadi dengan produser dan kolaborator. Dia yang mengendalikan semuanya, dan karena itu, hasilnya sangat bagus.”

Album yand diwakilkan oleh single “Garden Song”, “Kyoto” dan “I See You” ini juga kerap disanjung oleh publik dan pemerhati musik sebagai karya yang mampu menyalurkan energi macam solois kenamaan Elliot Smith. Kiblat indie rock-folk carefree dengan lirik mendalam mungkin bertanggung jawab atasnya, yang juga jadi titik penting dalam Punisher.

“Phoebe tidak ragu untuk menjadi lebih gelap dari kebanyakan orang. Ada beberapa momen dalam Punisher yang mampu membuat saya terkejut,” sambung Lucy Dacus.

Di album kedua ini, Phoebe nampak menyalurkan emosinya secara utuh. Terdengar lagu-lagu yang lebih personal, dengan gaya vokal, skema lirik dan aransemen yang juga menawan, meski masih bermain dalam lapangan bermain indie rock yang agaknya terkesan generik. Punisher adalah sebuah album yang mampu menyalurkan perasaannya secara akurat dan maksimal.

Christian Lee Hutson pun menerka ulang pertemuan pertamanya dengan Phoebe hingga akhirnya berkolaborasi menulis lagu bersama untuk album Punisher.

“Pertama kali bertemu dengan Phoebe melalui seorang teman. Akhirnya, dia datang menonton panggung saya, dan kemudian menanyakan apakah ingin menulis lagu bersama. Salah satu lagu yang kami tulis bersama-sama adalah “Halloween” (salah satu track di Punisher)--kita menulis itu satu minggu setelah pertama kali berkenalan.”

Treatment produksi dalam album ini juga perlu diapresiasi, aransemennya disajikan penuh nuansa; entar di momen-momen yang penuh layer dan ruang, hingga di bagian yang lebih agresif ataupun minimalis sekalipun.

Ketok palu, Punisher jadi salah satu album indie yang tidak patut dilewatkan di pertengahan tahun 2020 ini. Sebagian kritikus dan media musik memberi rating album ini secara sempurna (!), ada pula yang menilai 8/10 hingga ke atas.

Sudah dengar lengkapnya? Pantau terus SUPERMUSIC untuk artikel menarik seputar musik indie, baik lokal maupun internasional!

0 COMMENTS