Silampukau

Tentang Karya Musik Silampukau: Folk dan Kejujuran

  • By:
  • Rabu, 23 December 2020
  • 902 Views
  • 0 Likes
  • 0 Shares

Musik sendu dengan lirik-lirik kritis sudah menjadi ciri khas sejak awal penampilan duo indie folk Indonesia, Silampukau. Grup musik yang digawangi oleh Kharis Junandharu dan Eki Tresnowening ini mengangkat berbagai tema sosial masyarakat hampir di semua kary-karya musik mereka.

Silampukau mulai menetas pada 2008. Gagasan dasar terbentuknya format duo ini didasari dari rasa bosan seorang Kharis terhadap langkah bermusik dengan format band. Band yang dibentuk Kharis pada tahun-tahun sebelumnya mengalami kebuntuan, sementara Eki yang mengawali karier musik sebagai manajer band, memutuskan menjajal kemampuan olah vokal lewat suara bariton.

Kharis yang sebelumnya pernah menggawangi beberapa band, termasuk band keroncong Miniboyo Concours, memutuskan untuk membentuk band folk. Keinginan ini diikuti bertemunya Kharis dengan Eki, personil band Stunning Bird yang merupakan sarjana psikologi dari Universitas Surabaya. Eki dan Kharis bermain bersama di salah satu orkes keroncong binaan Jathul Sunaryo, tokoh keroncong di Kampung Petemon.

Dari situ, mereka sepakat berkolaborasi dengan membentuk grup bernama Silampukau. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), Silampukau memiliki arti kepodang, atau burung kuning keemasan yang indah dengan memiliki kicauan yang sangat merdu. Bagi Eki dan Kharis, Jathul memiliki peranan penting dalam awal terbentuknya Silampukau.

"Beliau guru kami secara moral. Mereka (kepodang) adalah biduan di alam raya. Orang-orang Melayu lampau memanggil burung itu Silampukau," ujar Eki dan Kharis.

Mulai sejak itu, Kharis dan Eki mendirikan Silampukau dan merekam single berjudul ‘Berbenah' sebagai tanda dimulainya karier bermusik mereka. Silampukau berambisi untuk mengembalikan citra Surabaya sebagai markasnya musik folk, musik rakyat yang penuh dengan kesederhanaan, kepolosan, dan jujur apa adanya.

Saat rekaman single pertama ini, Silampukau melakukannya secara swadaya. Sebagai band indie, duo Khari dan Eki harus rela merogoh koceknya untuk membiayai proses rekaman. Meski begitu, karya yang mereka hasilkan pada akhirnya tidak terdengar pas-pasan.

“Di jalur indie, bukan band yang menghidupi musisi. Tapi musisi yang menghidupi band. Kebutuhan musik (recording, mastering, dan mixing) ditopang dari penghasilan musisi di luar dunia musik,” jelas Eki dikutip Suryamalang.

Di awal penetasannya pada 2008, Silampukau tak hanya merilis single ‘Berbenah’ saja. Namun mereka juga merekam album mini secara live bertajuk ‘Sementara Ini’ pada 2009. Mini album ini berformasikan empat lagu yaitu Cinta Itu, Hey, Sampai Jumpa, dan Pagi. Single ‘Berbenah’ dan album ‘Sementara Ini’ digratiskan untuk diunduh melalui internet pada halaman berbagi musik soundcloud.

Mini album hingga single Berbenah mendapatkan respons positif yang bikin nama Silampukau mulai dikenal di skena folk Tanah Air. Namun, hal ini tidak menjadi jaminan bahwa perjalanan Silampukau tak akan menemui hambatan apapun.

Enam Tahun Hingga Lahirnya Album Perdana

Butuh waktu enam tahun bagi Silampukau untuk menelurkan album penuh ke pasaran. Tepatnya pada 2015 ketika Silampukau melepas album penuh perdananya mereka dengan mengambil tajuk Dosa, Kota, & Kenangan. Proses yang panjang dalam membuat karya ini disebut Silampukau justru memberi impak positif.

"Selama masa vakum itu, kami berdua mengalami proses panjang dalam segala hal yang memperkaya pengetahuan bermusik," kata Kharis.

Lagu-lagu di album pertama Silampukau bersuara tentang Surabaya dan segala dinamika yang terjadi di Kota Pahlawan itu. Lagu berjudul Si Pelanggan, misalnya, menceritakan tentang gang Dolly yang begitu terekam di dalam ingatan masyarakat Surabaya.

Ada pula tembang berjudul Bianglala. Lagu tersebut menceritakan Taman Hiburan Rakyat yang sudah menjadi ikon Kota Surabaya dan masyarakatnya. Dalam album ini, Silampukau benar-benar membuat lirik yang begitu jujur dan berasal dari kehidupan sehari-hari di masyarakat.

Selain itu, ada juga lagu Doa 1 yang berkisah mengenai mimpi bermusik indie Silampukau di Surabaya. Lantas ada lagu Bola Raya yang bertutur tentang anak-anak yang mencari tempat bermain bola di Surabaya, serta lagu penuh makna pada Malam Jatuh di Surabaya.

Di album ini, Silampukau juga menyisipkan lagu tentang para perantau dalam tembang Lagu Rantau. Gagal mudik di tahun ini lantaran pandemi seakan menjadi puncak tragedi dan Lagu Rantau dari Silampukau menjadi salah satu karya yang memaparkan situasi dan tragedi itu secara gamblang.

Silampukau dikenal dengan kertas lirik yang memukau, lagu ini pun menampilkan semua itu atas kerinduan kampung halaman. “Hari-hari berulang, diriku kian hilang, himpitan hutang, tagihan awal bulan,” sahut mereka. "Sebagaimana. Uang bawa tualang sesat di jalan, menjauhi pulang.”

“Yang kami bawakan merupakan potret-potret kota. Tagihan awal bulan (dalam Lagu Rantau (Sambat Omah)), misalnya. Semua orang resah dengan itu, termasuk kami. Setahu kami, kami hanya menceritakan kembali keresahan orang-orang. Kami enggak berpretensi atau bertendensi mewakili apapun,” ujar Kharis kepada BBC Indonesia.

Kepada Whiteboard Journal, Silampukau pernah menjelaskan tentang latar belakang di balik lirik-lirik dalam lagu mereka. Silampukau tidak pernah memposisikan diri sebagai pengandil atau pengamat dalam kehidupan bermasyarakat, sebaliknya mereka hanya menyaksikan fenomena yang terjadi dan menuangkannya dalam sebuah karya.

"Kami tidak perlu bersusah-payah untuk menjadi bagian dari cerita-cerita itu, kami tinggal mengamati dan menyanyikannya.Tapi jika secara implicit Anda mempertanyakan kesalehan personal kami (tertawa), maka mari kita ambil lagu “Si Pelanggan” sebagai contoh. Diam-diam kita tahu bahwa tiap kota memiliki prostitusinya sendiri, walaupun konon, Dolly kala itu ditahbiskan sebagai yang terbesar se-Asia Tenggara."

"Kami di album Dosa, Kota, & Kenangan memang justru sengaja berusaha untuk menyanyikan tabu kebahasaan-dalam perspektif estetik, bukan moral yang ada dalam lagu-lagu berbahasa Indonesia," jelas Silampukau.

0 COMMENTS