tame impala the slow rush review

'The Slow Rush', Suguhan Ritme Sedap dari Tame Impala

  • By: NND
  • Selasa, 18 February 2020
  • 897 Views
  • 6 Likes
  • 5 Shares

(8.5/10)

Mendarat lima tahun setelah Currents, Kevin Parker merogoh kocek kreatifnya dalam-dalam untuk merilis album keempat Tame Impala. Mengepalai proyek musik ini sejak 2007, kehadiran The Slow Rush beriringan dengan 12 nomor sepanjang 57 menit. Jumlah track dan durasi tipikal sebuah album, tapi album Tame Impala? The Slow Rush tidaklah setipikal itu.

Bermodalkan dua album yang menampilkan gubahan rock psikedelia apik era 60 dan 70-an dengan sound modern menawan, Currents adalah seubah cetak biru anyar. Hasilnya? Sebuah kemenangan atas perjudian berisiko tinggi: Currents diterima dengan baik oleh publik dan kritik. Sebagaimana Rolling Stone menulisnya, "Lebih condong ke Prince daripada Pink Floyd," dan benar saja, musiknya berjalan menyusuri jalur rock, tapi bersepatu R&B, funk dan pop yang lebih "berwarna."

Warna-warna itu hadir dari gitar yang dikudeta dari tahta teratas, lembaran sonik segar di rezim synth masuk dengan terpaan retro-futuristik yang cheesy-cheesy sedap. Meski begitu, synth tidak memerintah dengan tangan baja, masih ada celah bagi elemen rock psikadelia yang tetap terdengar di Currents, bahkan hingga The Slow Rush.

Menyelami The Slow Rush, haluan songwriting dan struktur lagu sintetis yang lebih "joget" memang masih dipeluk. Namun elemen ini lebih bersifat terus terang dan berani berdiri sendiri. Sorot saja drums tajam yang membuat album ini terdengar lebih percussive. Seksi rhythm album ini terasa lebih dominan ketimbang album-album sebelumnya. Angkat topi untuk bassline renyah di sini. Kedua unsur tersebut mendukung sekaligus medefinisikan arah dan tujuan The Slow Rush.

Banyak track penggoda goyang badan, suntikan corak house, disco, funk, hingga R&B. Misal, nomor pembuka "One More Year", atau single "Borderline" yang diasah kembali saat album ini rilis. Keduanya adalah track yang sanggup menembus lantai dansa. "Breathe Deeper" pun demikian, menampilkan wajah R&B yang centil dan seksi. Modus serupa hadir juga di "Tomorow Dust", yang meracik resep R&B circa 90-an: petikan akustik dan perkusi.

Berikutnya, "Is It True" adalah hits disco yang tergigit zombie "Thriller" milik M.J., dan "Glimmer" berlaku sebagai pesan singkat melalui getaran house. Nomor tersebut mampu merangkum aransemen The Slow Rush secara utuh melalui guyonan singkat: "Oh, bass! Cool! You know how to make the bass better? Crank the bass up!" Menariknya, semua aransemen album ini tetap dikemas dengan lapisan pembungkus ciri khas produksi Kevin Parker. Ia masih setia dengan karakter psikedelik Tame Impala yang mengawang bebas.

Dalam halaman narasi, tak perlu riset mendalam untuk mengetahui bahwa aspek "waktu" merupakan tema utama. Album ini dibuka dengan "One More Year" dan ditutup oleh "One More Hour," itu saja sudah cukup menggambarkan narasinya. Parker menulis lirik nostalgia, menoleh kebelakang, atau menyambut indah dan seramnya tanda tanya masa depan.

Berjudi dengan masa depan, seperti pernikahannya tahun lalu di "Instant Destiny", atau penyesalan dan memori pribadi yang mendalam di lagu "Posthumous Forgiveness" merupakan perwujudan waktu saat menghampiri Parker. Nostalgia diangkat sebagai "sebuah narkotika yang membuat semua orang ketagihan" dari single keempat "Lost in Yesterday," sebagaimana ujarnya dalam sesi wawancara dengan Triple J. Lintasan dan laju narasi terkait "waktu" ini tentu dijaga stabil oleh track pembuka dan penutup.

Mengutip ucapan Parker dalam wawancaranya dengan Zane Lowe, "Track pembuka album ('One More Year') melatarkan sebuah tahun yang baru, dan 'One More Hour' (lagu penutup) melatarkan jam terakhir di tahun tersebut, di mana kita kerap bertanya, 'kita sudah sampai di mana?'"

Mendengarkan The Slow Rush terasa pas bagi mereka yang merasa tengah berada di titik-titik penting kehidupan. Sejenak menapak tilas dan mencerna masa lalu, atau meresapi keresahan akan ketidakpastian masa depan. Di dalam hidup, akan selalu ada titik saat menginjak rem untuk sekadar mengamati sekitar. Inilah hal-hal yang menjadi percikan pertama bagi Parker saat menyusun The Slow Rush.

Si introvert Kevin Parker menempuh lima tahun dalam hidupnya usai merilis Currents dengan berbagai macam kesibukkan. Mencoba menjadi DJ, menulis lagu untuk popstar, merancang beats untuk rapper-rapper kawakan, bahkan, menikah. Dengan kehadiran album baru ini, semua pengalaman tersebut bak ditelan habis olehnya; dimuntahkan ulang menjadi sebuah follow-up yang dianggap mampu melanjutkan album breakthrough milik Tame Impala.

Merangkumnya, Currents memang merupakan album yang hebat, dan The Slow Rush, meski rilis dengan jarak yang cukup jauh, mampu menjadi sebuah kelanjutan karya Tame Impala yang berhasil lepas dari bayang-bayang masterpiece yang menyeramkan itu. Ia menjadi sebuah album yang mampu menghadirkan karakter segar, yang berbeda dari terpaan sintetis Currents, pun juga dari psych-rock InnerSpeaker dan Lonerism.

1 COMMENTS
  • Kunreno

    Terima Kasih Banyak Artikel nya sangat Bagus

Info Terkait