‘THE OTHER’ GUITAR HEROES: 10 Gitaris ‘Alternative’ Terbaik

  • By: NTP
  • Selasa, 2 May 2017
  • 20719 Views
  • 2 Likes
  • 0 Shares

Jika mendengar istilah ‘guitar hero’, yang ada di benak kita tentunya gitaris rock virtuoso berambut gondrong yang piawai memainkan gitarnya dengan solo-solo panjang nan melengking, pamer kecepatan dan kelincahan jari-jemari ala Yngwie Malmsteen. Kesan guitar hero yang memainkan solo-solo panjang dan teknis kini juga tetap lekat dengan musik rock. Anggapan itu tak keliru. Masa-masa di mana Jimmy Page, Eddie Van Halen, Duane Allman atau Jeff Hanneman memainkan solo ekstensif belum lewat sepenuhnya, tapi juga tidak sepenuhnya hidup dan berjaya.

[bacajuga]

Namun, di antara masa tersebut justru lahir para visioner, seorang gitaris yang tak hanya memenuhi perannya, tapi juga menjadi ‘wajah’ utama band mereka. Sound gitar mereka menjadi identitas khas, dan bukan sekedar aksi solo yang ditunggu-tunggu. Kemampuan mereka mengolah bunyi gitar menjadi identitas adalah ‘suguhan’ utama mereka. Para gitaris ini tak lagi menyediakan waktu bagi pendengarnya untuk menunggu solo-solo mereka; para gitaris ini mengundang kita untuk menyimak permainan mereka lebih dalam. Berikut deretan guitar hero yang sukses bermain dengan gaya sendiri dan menciptakan pengaruh luar biasa tanpa perlu menjadi virtuoso tipikal.

1. Johnny Marr

John Martin Maher adalah gitaris asal Manchester, Inggris, yang menjadi salah satu motor musik grup indie pop/rock, The Smiths. Bersama sang vokalis, Steven Patrick Morrissey, Marr menjadi gitaris sekaligus komposer utama di lima album:  The Smiths (1984), Meat Is Murder (1985), The Queen Is Dead (1986), dan Strangeways, Here We Come (1987).

Perspektif Marr saat menciptakan komposisi adalah bagaimana menyatukan berbagai suara instrumen ke bawah satu atmosfer, terutama (dalam konteks The Smiths) mengimbangi rentang vokal Morrissey yang lebar. Selain mengalir mengiringi vokal, permainan Marr yang melodius juga mengimbangi lirik-lirik muram nan humoris Morrissey.

Gitaris yang lekat dengan model Rickenbacker 330 ini juga dianggap kembali mempopulerkan sound gitar jangly di kancah musik Britania Raya, yang menekankan pada treble, ‘berdering’, dan struktur musik pop era 50 dan 60-an awal. Pengaruh sound gitar Marr juga terasa sampai band-band penerusnya di kancah Madchester, yaitu The Stone Roses dan Oasis.

2. The Edge

Sebagai gitaris salah satu band rock terbesar di dunia saat ini, The Edge malah bertanggung jawab dalam sound musik pop milenium. Penggunaan efek delay pada gitar yang menyalak lembut tapi megah ditiru oleh jutaan band pop di dunia (tengok Coldplay maupun band-band pop Indonesia seperti NOAH).

Pria bernama asli David Howell Evans itu memang memiliki ciri permainan gitar yang minimalis, tapi juga merupakan ahli manipulasi sound gitar yang ulung, kadang lembut kadang berdistorsi. Kocokan gitarnyalah yang mendefinisikan musik U2, mengiringi vokal Bono yang menggugah. 

3. Kevin Shields

Kevin Patrick Shields seakan menciptakan peran baru bagi gitar, bukan lagi bintang utama di lengkingan solo, atau poros utama dalam suatu lagu, melainkan memunculkan atmosfer musik itu sendiri. Lewat empat EP dan dua album (Isn’t Anything pada 1988 dan Loveless pada 1991), eksperimentasi gitar Shields mampu menghasilkan sound yang sama sekali baru, sekaligus memperkuat identitas sound shoegaze.

Shields memulai perubahan tersebut lewat modifikasi tremolo pada gitar Fender Jaguar dan Jazzmaster miliknya. Ia memanjangkan lengan tremolo gitarnya agar ia bisa menjangkaunya selagi bermain untuk menurunkan dan menaikkan pitch gitarnya. Gitaris asal Dublin, Irlandia ini juga dikenal dengan pemakaian reverse reverb digital dan pedal efek yang masif, setidaknya sekitar 30 pedal.

Kepiawaian Shields menggunakan gitar juga disertai kecerdikannya memanipulasi sound instrumen lain di My Bloody Valentine. Di album Isn’t Anything, Shields (sebagai komposer utama) bereksperimen menyandingkan sound gitar hangat dan cerah dengan sound drum dingin yang terdengar seperti drum machine. Pada album Loveless, eksperimen tersebut berada disempurnakan menggunakan sound drum serupa, plus efek vokal dan sound gitar yang menyelimuti keseluruhan album. Gaya bermain Shields yang menjadikan gitar sebagai atmosfer dan penghasil ‘bunyi’, tak hanya berpengaruh ke ranah shoegaze atau indie rock/pop, tapi juga noise rock, post rock bahkan hingga black metal.

4. J Mascis

Joseph Donald Mascis bisa saja bernyanyi dengan nada setengah tidak peduli di samping bisingnya feedback di tengah-tengah solo gitarnya. Berangkat dari Deep Wound (band hardcore asal Massachusetts, AS), gitaris Dinosaur Jr ini awalnya adalah seorang drummer yang mahir menulis lagu dengan mempertemukan kebisingan feedback gitar yang membentuk wall of sound, dengan struktur lagu pop dan refrain melodius.

Hasilnya adalah cetak biru sound alternative rock yang menguasai kancah musik rock era 90-an. Bahkan band-band seperti Nirvana dan My Bloody Valentine pun tidak bisa lepas dari pengaruh sound Dinosaur Jr, khususnya album You’re Living All Over Me (1987). Permainan Mascis pada saat itu mencerminkan sound era 60 dan 70-an, suatu anomali di ranah rock bawah tanah AS yang kala itu didominasi kekuatan hardcore, atau kompleksitas thrash/death metal.

Formula Dinosaur Jr-Mascis bisa dibilang berpengaruh besar terhadap grunge dan alternative rock, dua subgenre yang mendominasi rock hingga akhir 90-an. Penggunaan distorsi dan feedback yang dominan kerap menjadi formula andalan band-band rock arus utama hingga kembalinya tren garage rock di era 2000-an awal.

5. Billy Corgan

William Patrick Corgan dalam periode 1991 hingga 1998 adalah seorang jenius. Corgan pada masa itu adalah seorang virtuoso genre dan sound, sementara The Smashing Pumpkins adalah mediumnya untuk mengolah berbagai hal yang memengaruhinya. Dalam rentang empat album, Corgan (sebagai komposer utama) memuat berbagai genre, subgenre dan sound rock dari berbagai era; psikedelia 60-an, hard rock, heavy metal dan progressive rock 70-an, post-punk dan gothic rock 80-an, bahkan eletronica era 90-an akhir.

Awalnya, Corgan membentuk sound The Smashing Pumpkins di album Gish (1991) dengan cetakan alternative rock berbalut kentalnya psychedelic rock dan heavy metal, yang diselingi nada-nada melodius. Sementara, Siamese Dream (1993) menggebrak kancah rock lewat hibrida bertulang punggung hard rock dan progressive rock yang diisi elemen psychedelic, dream pop, dan shoegaze. Formula tersebut diperdalam di album ganda Mellon Collie and the Infinite Sadness (1995), yang memperdengarkan puncak kreativitas Corgan sebagai komposer dan penulis lirik. Sementara album terakhir The Smashing Pumpkins sebelum vakum, Adore (2000), meninggalkan cetak biru tersebut, dan alih-alih menggunakan atmosfer gelap goth rock/post-punk serta dinginnya denyut electronica.

Pada periode tersebut, Corgan menjadikan The Smashing Pumpkins sebagai band orisinal yang tak bisa ditiru. Gaya komposisi Corgan bagi The Smashing Pumpkins menghasilkan sound khas yang sulit diimbangi, bagai heavy metal berstruktur pop: akrab di telinga dan bisa menghajar telinga sekaligus.

6. Tom Morello

Thomas Baptiste Morello adalah gitaris yang bermain seperti disc jockey hip-hop. Bersama Rage Against the Machine, Morello membuka kemungkinan baru dalam penggunaan gitar sebagai instrumen musik rock. Sound RATM berada di persimpangan heavy metal, hardcore, dan hip-hop. Permainan Morello adalah elemen krusial sound tersebut, menyumbang bebunyian sebagai elemen pendamping musik RATM seperti sirene polisi, bom jatuh, atau scratching seorang DJ.

Permainan Morello sedari awal sudah membentuk sound RATM layaknya DJ yang menggunakan teknik scratch untuk membentuk lagu hip-hop. Gitarnya tak pernah mendominasi musik RATM, tapi justru mendefinisikan identitas mereka sebagai band yang mahir menerjemahkan hip-hop ke dalam musik rock. Bebunyian gitar khas Morello dicapai melalui rangkaian efek, seperti Dunlop Cry Baby, DigiTech WH-1 Whammy, Boss DD-2 Digital Delay, DOD EQ pedal, Ibanez DFL Flanger, dan TR-2.

Kombinasi instrumentasi dan vokal plus lirik RATM adalah identitas yang hampil mustahil diciptakan kembali, tapi justru mudah direplikasi dan dikuliti. Gaya bermain Morello memang tidak termasuk elemen tersebut, tapi secara keseluruhan sound RATM yang menjembatani heavy metal, hardcore, dan hip-hop pada akhirnya menjadi pengaruh besar bagi nu-metal. Sayangnya tanpa permainan Morello, sound tersebut justru terdengar kosong.

7. Jonny Greenwood

Bila Billy Corgan sudah ‘habis’, maka kejeniusan Greenwood belumlah usai. Kualitasnya sebagai gitaris sudah diakui sejak single “Creep” dari album Pablo Honey (1993), meledak di tangga lagu dunia, lagu rock bernuansa ballad tersebut tak akan lengkap tanpa raungan gitar Greenwood. Permainannya adalah salah satu komponen penting Radioehad, baik pada era ‘rock’ Radiohead: Pablo Honey hingga OK Computer (1997), maupun ‘electronic’ Radiohead, yaitu Kid A (2000) hingga The King of Limbs (2011).

Sebagai seorang multi-instrumentalis, kontribusi Greenwood turut membentuk musik Radiohead melalui berbagai instrumen seperti biola, piano, programming, sampling, looping, synthesizer modular atau ondes martenot (instrumen elektronik yang menghasilkan bunyi serupa theremin). Greenwood juga mahir menggunakan bahasa pemrograman komputer untuk menciptakan software musik sendiri, yang ia gunakan sebagai sampler di album The King of Limbs.

Selain mengisi pos gitaris, Greenwood juga berfungsi sebagai penggubah (arranger) bagi Radiohead, yang menurutnya adalah peran untuk menjaga keutuhan lagu. Bakatnya sebagai penggubah juga terlihat di proyek-proyek musiknya selain Radiohead, contohnya scoring film There Will Be Blood (2007), yang sudah diakui komposer kenamaan Hans Zimmer sebagai score “paling berbeda di dekade ini” dan “sangat indah sekaligus nekat.” Proyek musiknya selain scoring adalah album Junun (2014) album bernuansa Bollywood dan qawwali yang direkam bersama Shye Ben Tzur, dan  The Rajasthan Express di Benteng Mehrangarh, Rajasthan, India.

8. John Frusciante

John Anthony Frusciante adalah solo mematikan di sela nomor-nomor pop. Lagu-lagu hit Red Hot Chili Peppers seperti “Scar Tissue, “Otherside”, dan “Can’t Stop” adalah contoh kemahiran Frusciante menghadirkan nuansa rock n’ roll yang kental di antara hit radio. Masa awal karier Frusciante di RHCP adalah mencoba menggantikan peran (kemudian mengubahnya sama sekali) Hillel Slovak, gitaris mereka yang meninggal karena overdosis heroin.

Kegilaan funk rock yang dimotori permainan Slovak akhirnya digantikan oleh halusnya sentuhan Frusciante. Pada rentang album Blood Sugar Sex Magik (1991) hingga album ganda Stadium Arcadium (2006), gaya blues lembut Frusciante mengubah band funk rock gila dari Los Angeles menjadi salah satu raksasa rock dunia. Frusciante adalah motor perubahan RHCP menjadi band rock populer.

Namun perjalanan Frusciante tidak pernah mulus, baik bersama RHCP maupun tidak. Kehidupan ala rockstar membuatnya terjebak dalam kecanduan heroin (rumahnya ikut terbakar dalam tragedi ini). Di masa itu, Frusciante sempat merilis Niandra Lades and Usually Just a T-Shirt (1994), album lo-fi sederhana cerminan kondisinya saat itu. Bak berkah dalam bencana, dari titik ini Frusciante justru mulai menjelajah dan merilis album-album yang diwarnai berbagai genre, seperti ambient new wave, electronica, experimental rock, dan post rock. Kolaborasinya bersama Ataxia dan The Mars Volta adalah jejak petualangan sonik Frusciante. Apapun album dan sound yang ia hasilkan, terdapat sentuhan khas Frusciante yang menekankan struktrur, tone, dan bebunyian melodius.

9. Josh Homme

‘Sidik jari’ Joshua Michael Homme terdengar jelas di sound rock arus utama pasca 2000-an. Album AM (2013) Arctic Monkeys, diskografi Queens of the Stone Age, dan Them Crooked Vultures adalah sebagian contoh pengaruhnya. Homme sudah dua kali berperan aktif mendefinisikan sound rock kontemporer, yang pertama bersama Kyuss dan yang kedua bersama Queens of the Stone Age.

Tak ada akar ranting pun jadi tampaknya adalah motif Homme bersama Kyuss. Kancah Palm Desert yang dihuni Kyuss tak punya klub atau bar dan arena pertunjukan musik lain. Alih-alih hijrah ke kota lain, Kyuss justru terlibat aktif dan turut meletakkan batu pertama pada stoner rock atau desert sound sebagai penerut tradisi rock 70-an dan grunge 90-an. Permainan gitar Homme yang membutuhkan nada-nada rendah grunge, diakalinya dengan pemakaian amplifier bass untuk gitarnya. Permainan gitarnya bersama Kyuss adalah lanjutan dari sound rock dan psychedelic bertemu etos punk rock dan grunge. Hingga kini, agaknya sulit menemukan album stoner rock yang lebih berpengaruh ketimbang Blues For The Red Sun (1992) dan Welcome to Sky Valley (1994).

Usai mundur dari Kyuss, sound Homme berbelok dari beratnya deru stoner rock ke cerahnya sound rock melodius Queens of the Stone Age. Peralihan tersebut adalah batu lompatan terbesar Homme, sound  rock ala Queens of the Stone Age yang mudah akrab di telinga melambungkan namanya sebagai figur gitaris/vokalis/frontman terdepan rock. Sulit untuk menghindari pengaruh Homme di rock hari ini.

10. Omar-Rodriguez Lopez

Omar Alfredo Rodríguez-López pernah berkata ia membenci gitar, dan pada kesempatan lain, ia mengaku sama sekali tidak mengetahui teori musik. Omar berkata bahwa gaya bermain serta caranya mengomposisi lagu  berasal dari emosi semata, asal semua keliaran At the Drive-In dan kegilaan instrumentasi The Mars Volta.

Gitaris asal El-Paso, Texas, ini adalah contoh gitaris yang mendekati struktur lagu sebagai arena bermain yang ia tulis bersama Cedric Bixler-Zavala. Selain improvisasi panjang, kegilaan aksi panggung, melodi-melodi minor, dan bebunyian disonan adalah ciri utama permainan Omar. Diskografi panjang The Mars Volta adalah contoh kemahirannya menulis komposisi. Sementara tiap bebunyian dan feedback At The Drive-In adalah hasil ‘kebencian’ Omar terhadap gitar.

Eksplorasi dan eksperimentasi Omar tidaklah main-main, kini rilisan solonya sudah menyentuh angka 45. Album-album tersebut adalah hasil eksplorasinya dalam musik eksperimental, dub, latin, dan psychedelic rock. Selain menulis komposisi album-album tersebut, Omar juga memproduseri hampir semua rilisan solonya.

 

0 COMMENTS