The Panturas

The Panturas: Tentang Single Baru Menuju Album Kedua

  • By:
  • Rabu, 23 December 2020
  • 632 Views
  • 0 Likes
  • 0 Shares

The Panturas kembali menelurkan karya baru. Grup surf rock asal Jatinangor tersebut baru saja merilis single bertajuk 'Balada Semburan Naga' yang menghadirkan musikalitas unik, nyeleneh, dan jenaka dari The Panturas.

Secara tema cerita, lagu The Panturas ini bercerita tentang balada cinta seorang seniman bernama Topan. Ia menjalin hubungan dengan gadis berlatar belakang Tionghoa, namun terhambat karena bapak sang kekasih yang galak dan tidak merestui hubungan mereka.

Bapak tersebut menilai Topan tidak layak menjalin hubungan dengan anaknya karena dia hanya seorang seniman urakan yang tak memiliki cukup harta. Ia pun melarang Topan bertemu dengan anaknya.

Secara musikalitas, lagu The Panturas kali ini berbeda dengan lagu The Panturas sebelumnya, gaya bernyanyi dalam Balada Semburan Naga seperti dua orang yang sedang berdebat. Vokalis Abyan Zaki Nabilio alias Acin menyanyikan suara Topan, sementara sang bapak dilantunkan Adipati dari The Kuda.

Ya, di lagu ini vokalis eksentrik dari komplotan punk rock asal Bogor tersebut, TheKuda diplot sebagai penyanyi tamu yang memerankan sosok ayah galak dari seorang gadis yang hendak diajak berkencan oleh Topan. Liriknya diseloroh saling menyahut, mengisahkan konflik klasisk soal perbedaan kasta dalam kehidupan masyarakat.

"Kami lebih mengeksplorasi corak suara yang aneh di sini. Tidak lagi hanya empat orang yang memainkan gitar,bas, dan drum. Tapi mulai berani menggunakan instrumen lain seperti kibor, tehyan atau biola Betawi, dan synthesizer. Semuanya bisa terlaksana dengan matang berkat produser Lafa Pratomo," ujar pemain bas Bagus 'Gogon' Patria dalam keterangan resminya.

Lirik Lagu Balada Semburan Naga The Panturas

Ding-ding-ding, bel rumahmu berdering

Kulihat ayahmu di teras tapi tak bergeming

Niat ajak dirimu untuk berwisata

Nonton Hong Kong Cinema di Megaria

"Pagi, Pak. Apa kabarnya? Apa putrinya ada?

Kami janji kencan ke pusat kota"

Hmm, tidak berbahas

Jadi canggung, dia tak acuh, harapan runtuh

"Oh, jadi Anda yang namanya Topan?

Saya dengar Anda seniman, pantas tak karuan

Tolong beri jarak yang jauh dengan putri

Ia terlalu cemerlang buat makhluk berantakan"

"Penampilan boleh saja berantakan

Tetapi di masa depan bisa saya buktikan

Kelak saya tumbuh seperti Tan Peng Liang

Yang bawa Tinung bahagia hingga melayang-layang"

Sinar terang lampu hijaumu selalu kutunggu

Bagai naga kusembur hangus niat busukmu

Huss, pergi, pergi, pergi!

Ih, ini anak muda

Gaji mepet UMR aja banyak gaya

Mendingan anak Pak Wijaya

Rumah ada, mobil punya

Orang tua jelas bibit bebеt bobotnya

Jelas! Jelas!

Sinar terang lampu hijaumu sеlalu kutunggu

Punya apa sampai berani bilang begitu

Saya punya cinta tapi pasti tak cukup

Kenapa masih coba kalau tahu tak sanggup

Bukan masalah tak sanggup, namanya juga usaha

Kalau bicara usaha, Anda tak usah berlaga (kenapa?!)

Butuh dua atau tiga puluh tahun lagi

Sampai Anda paham hidup sebenar-benarnya

Jangan mentang-mentang tua seenak saja berkata

Heh! Namanya juga orang tua, yang terbaik buat anaknya

Wahai Bapak, saya ini apa kurangnya?

Kurang mapan, kurang kaya, kurang, kurang, semuanya kurang woi!

Sinar terang lampu hijaumu selalu kutunggu

Punya apa sampai berani bilang begitu (kagak bisa!)

Tolong lah, Pak (kagak bisa)

Tega amat, sih (heh, emangnya kenapa?)

(Pergi, pergi, pergi sana! hih!)

Lebih lanjut, The Panturan menyebut bahwa lagu ini akan menjadi bagian dari album baru The Panturas. Penabuh drum The Panturas, Surya Fikri Asshidiq alias Kuya, menjelaskan bahwa konsep album kedua akan berisikan lagu dengan berbagai macam budaya. Ia mengibartkan album itu sebagai kapal yang berisi orang dari berbagai budaya.

"Ada China, Jepang, Arab, Eropa, Amerika dengan segala cerita dan permasalahan yang dimiliki. Kami merangkul mereka lalu coba menafsirkannya ke dalam bentuk musik yang beragam. Fusion dari surf rock, garage, rockabilly, Arabian, waltz sampai irama Melayu," kata Kuya.

 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 

A post shared by The Panturas (@thepanturas)

Sekilas The Panturas dan Teribute untuk Mocca

The Panturas yang dibentuk pada pengujung tahun 2015 digawangi oleh Abyan Zaki Nabilio (Vokal/Gitar), Rizal Taufik (Gitar), Bagus 'Gogon' Patria (Bas), dan Surya Fikri Asshidiq (Drum). The Panturas mulai banyak dikenal setelah merilis album 'Mabuk Laut' pada 2018 silam.

Mereka juga nampak aktif menjajaki acara-acara musik beken seperti We The Fest, Synchronize Festival, dan Soundrenaline. Belakangan, grup musik yang dikenal lewat lagu 'Sunshine' ini juga nampak membawakan ulang lagu lawas dari Mocca, bertajuk 'You and Me Against The World'.

Kesempatan The Panturas bisa menyanyikan lagu Mocca terjadi dalam rangka tribute yang dilakukan oleh para pegiat musik independen atas dasar hari jadi ke-20 Mocca pada 2019 silam. Maka lahirlah album kompilasi berisi musisi muda yang membawakan ulang lagu Mocca dengan tajuk You and Me Against The World: A Tribute To Mocca.

Single perdana dari album ini adalah "You and Me Against The World" yang dibawakan The Panturas. Lagu ini dianggap mewakili keseluruhan isi album, termasuk pesan 'muda, beda, dan berbahaya' yang ingin disampaikan album ini.

“Mocca adalah band yang menemani (The Panturas) tumbuh. Mulai dari nonton video klip ‘Me & My Boyfriend’ di MTV saat sekolah dasar, sampai sekarang mendengarkan album Lima. Rasa senang melihat dan mendengarkan Mocca tak pernah luntur.

Kami merasa terhormat, karena diajak membuat tribute, menyanyikan 'You and Me Against The World untuk band yang influential ini," ungkap Abyan (vokal) The Panturas.

0 COMMENTS