The Upstairs

The Upstairs: Dari Modern Bob hingga Modern Darlings

  • By:
  • Rabu, 11 November 2020
  • 854 Views
  • 2 Likes
  • 1 Shares

The Upstairs menjadi salah satu band yang berani membawa aliran musik berbeda di Indonesia. Ketika berdiri pada 2001, Jimi Multhazam (vokalis) dan Kubil Idris (gitaris) sebagai akar terbentuknya The Upstairs mengusung aliran new wave yang saat itu masih cukup asing bagi pendengar musik Tanah Air.

Sebagai band yang mengusung aliran New Wave, musik The Upstairs terpengaruh musikal dari band-band beraliran serupa seperti A Flock of Seagulls, Devo, Depeche Mode, hingga Joy Division yang dipadukan dengan lirik naratif. 

Tak hanya musik yang berbeda, The Upstairs juga memiliki ciri khas saat tampil di atas panggung dengan memadukan pakaian berwarna kontras. Misalnya, celana merah yang berpadu dengan jaket kuning atau celana hijau muda yang dipadukan dengan kemeja berwarna hitam.

Keputusan untuk memilih gaya berpakaian seperti itu bukan tanpa alasan, Jimi Multhazam menjelaskan bahwa tata cahaya panggung zaman dahulu belum secanggih saat ini yang penuh banyak warna. Oleh karena itu, The Upstairs memadukan musik new wave dengan penampilan warna-warni.

Alasan selain tata lampu di balik tampilan warna-warni The Upstairs adalah inspirasi dari fauvisme, salah satu aliran dalam seni lukis yang menampilkan warna-warna kuat. Pengetahuan ini didapatkan Jimi ketika menimba ilmu di Jurusan Seni Rupa dan Desain di Institut Kesenian Jakarta (IKJ).

Berkat itu, karakter The Upstairs menjadi sangat kuat. Namun, tentu saja eksistensi The Upstairs tak hanya muncul berkat penampilan nyentrik saja. Karya-karya musik mereka yang terbilang sangat jarang saat itu, berhasil menembus pasar industri musik Indonesia dan mendapat respons positif.

Dari Antahberantah Menuju Modern Bob hingga Kemunculan Modern Darlings

Keseriusan The Upstairs bermusik ditunjukkan lewat mini album pertama mereka pada 2002 dengan tajuk Antahberantah dalam format kaset dan CD. Album mini itu mampu terjual hingga 300 keping dalam waktu singkat yang membawa The Upstairs bisa mengadakan pertunjukan di Jakarta, Bandung dan Yogyakarta.

Setelah sukses dengan mini album, The Upstairs akhirnya merilis album studio perdana mereka pada Februari 2004 dengan tajuk Matraman. Album ini disebut salah satu mantan wartawan musik Indonesia, Soleh Solihun, sebagai paduan baik antara manisnya musik pop, semangat cerianya new wave/disco, dengan agresifnya punk rock.

Single pertama mereka di album ini, Apakah Aku Berada di Mars Atau Mereka Mengundang Orang Mars, mendapat sambutan positif kala itu. Kemudian single Matraman disebut-sebut menjadi salah satu lagu cinta paling ikonik hingga saat ini oleh Soleh Solihun.

Intro keyboard yang pop sekali, lalu disambut lirik pembuka: “Demi trotoar dan debu yang beterbangan ku bersumpah. Demi celurit mistar dan batu terbang pelajar kuungkapkan", disebut sebagai lirik yang sangat keren untuk menggambarkan seseorang yang sedang jatuh cinta.

 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 

#PersiapanKonser Lo siap-siap juga doong Photo @aanshutter

A post shared by THE UPSTAIRS (@theupstairs) on

Lagu ikonik lain dari The Upstairs di album ini adalah Modern Bob. Masih dengan musik new wave yang penuh keceriaan, The Upstairs mengisahkan rasa kagum seseorang dengan lirik yang jenaka: "Berbaju hitam ketat merekat. Celana blue jeans ku pun bertambah sesak. Senyum mengembang lutut bergetaran. Semaput pegangan dan nyaris pingsan

Sempat terfikir membawanya pulang".

Melalui karyanya, The Upstairs sempat menjadi raja pensi di Jakarta selama periode 2004-2010. Selain itu, acara yang mereka datangi selalu dipadati oleh Modern Darlings (sebutan penggemar The Upstairs). Tak cuma ikut bernyanyi dan berjoget, para Modern Darlings juga berpakaian warna-warni serupa The Upstairs.

Hampir setiap The Upstairs tampil, Modern Darlings mengenakan pakaian dengan warna kontras. The Upstairs telah sukses menciptakan planet mars (trademark) mereka sendiri di setiap panggung yang mereka mainkan. Bagi mereka yang bukan Modern Darlings barangkali akan bertanya-tanya, "Apakah aku berada di Mars atau mereka yang mengundang orang Mars?".

Setelah Matraman, The Upstairs melanjutkan karya-karyanya melalui album Energy (2006), Magnet! Magnet! (2009), dan Katalika (2012). The Upstairs juga merilis empat album mini, yaitu Antahberantah (2002), Kunobatkan Jadi Fantasi (2008), Menaralara (2010), dan Kubilsm: Relax (2013).

Terlepas dari kesuksesan The Upstairs melalui karya-karya musik dan keberhasilan menghadirkan planet Mars sendiri melalui Modern Darlings, mereka pun sempat mengalami pasang-surut perjalanan sebuah band. Mereka mengalami fase ditinggalkan manajer terbaiknya, Wenz Rawk.

Selain itu, dua personel asli yang sudah bergabung sejak awal The Upstairs berdiri, Beni Adhiantoro (drum) dan Alfi Chaniago (bass), mengundurkan diri. Formasi terkini The Upstairs adalah Jimi Multhazam (vokal), Kubil Idris (gitar), Ryan Ajhi (drum), Fisma Adhiya (Bass & Synth).

Pada April 2020, The Upstairs memberi kejutan bagi para Modern Darlings dan penikmat musik Indonesia umumnya dengan mengumumkan bahwa album Matraman sudah bisa didengarkan di berbagai layanan musik streaming. Matraman menjadi album studio kedua The Upstairs yang dirilis secara digital setelah Katalika (2012).

Keputusan The Upstairs itu disambut baik oleh para penggemarnya. Bahkan, banyak di antara mereka yang meminta album Energy dibagikan ke dalam layanan musik streaming. The Upstairs tak menjanjikan hal itu bakal terjadi, namun mereka menyebut bakal merilis single baru di tahun ini.

0 COMMENTS