The Wallflowers, Proyek Musik Putra Bob Dylan Kembali Aktif

The Wallflowers, Proyek Musik Putra Bob Dylan Kembali Aktif

  • By:
  • Jumat, 7 May 2021
  • 95 Views
  • 0 Likes
  • 0 Shares

Kurang dari 10 tahun yang lalu, The Wallflowers cukup terbilang berhasil mengenalkan album keenamnya. Barulah di tahun 2021 ini akhirnya The Wallflowers kembali dengan merilis album ketujuhnya yang berjudul Exit Wounds. Kembali aktifnya The Wallflowers dalam berkarya ini ternyata didasari oleh sebuah kebetulan yang dilakukan oleh Jakob Dylan, frontman The Wallflowers. Putra dari Bob Dylan tersebut kebetulan saja menemukan tema yang sesuai untuk menulis karya-karya sebagai respons dari kondisi dunia yang tidak menentu akibat pandemi. Agar tidak menjadi sebuah usaha yang sia-sia, Jakob Dylan pun merekam semua aspek yang dirinya inginkan untuk mewakili ide dalam album ketujuhnya.

Secara mendasar, The Wallflowers bukan dioperasikan layaknya sebuah band, karena saat ini The Wallflowers merupakan proyek musik solo yang dilakukan oleh Jakob Dylan. Namun. Sebetulnya, The Wallflowers sempat dibangun untuk menjadi sebuah band bagi Jakob Dylan dan teman masa kecilnya, Tobi Miller, hingga tahun 1995. Maka akan terkesan cukup wajar jika The Wallflowers memiliki jadwal dan presence yang sporadis. Untuk album ketujuhnya, The Wallflowers bekerja sama dengan Butch Walker sebagai seorang produser dan dibantu oleh kehadiran Chris Dugan sebagai teknisi mixing. The Wallflowers juga mengundang Shelby Lynne sebagai kolaborator untuk 4 lagu dari 10 lagu yang ditulis oleh Jakob Dylan. 

Jakob Dylan pun mengakui bahwa The Wallflowers merupakan sebuah wadah yang memang dibentuk untuk mewakili karya-karya bermusiknya. Jakob Dylab pun merasa bahwa ketika dirinya ingin bermusik, maka dirinya harus memikirkan apakah materi yang dirinya punya cocok untuk dibawakan oleh The Wallflowers atau tidak. Terkait untuk album terbarunya nanti, Jakob Dylan menjelaskan bahwa Exit Wounds merupakan sebuah representasi berakhirnya sebuah fase perjalanan manusia. Pencetus The Wallflowers ini menganggap bahwa di setiap fase perjalanan hidup, setiap orang pasti akan mendapatkan pengalaman yang tidak terlupakan. Baik pengalaman baik maupun buruk. Pengalaman tersebut akan menjadi sebuah pelajaran nantinya dalam membuat orang menjadi sosok terbaiknya. Namun, setiap luka yang ada dari perjalanan akan terus terlihat sebagai sebuah pengingat meskipun hampir seluruh kehidupan yang telah dirasakan akan berubah secara drastis.

Selain itu, Jakob Dylan pun mengakui bahwa sebagai seorang penulis dirinya bukanlah seorang penulis yang brilian. Vokalis The Wallflowers ini menggambarkan dirinya sebagai penulis biasa yang memiliki motivasi ketika dihadapkan dengan situasi yang kurang nyaman. Ketika pandemi Covid-19 semakin menjadi-jadi, Jakob Dylan baru merasa dirinya mampu menulis dengan baik. Hal tersebut didasari karena sebagai seorang penulis dan frontman untuk The Wallflowers, Jakob Dylan merasakan emosi akan kepanikan yang begitu besar. Dengan kecemasan dan ketakutan tersebut, hal yang terkesan biasa saja akan lebih mudah memiliki cerita dan alasan kuat di balik kehadirannya. Begitu juga dengan Exit Wounds, Jakob Dylan menginginkan album ketujuh The Wallflowers memiliki kekuatannya sendiri.

Rencananya, album ketujuh The Wallflowers ini akan dirilis pada bulan Juli mendatang melalui New West Records. Untuk menyambut kembali aktif proyek solo milik Jakob Dylan, The Wallflowers pun mengisi acara Jimmy Kimmel Live sekaligus membawakan salah satu lagu baru mereka berjudul Roots and Wings.

Saat pertama kali dibentuk oleh Jakob Dylan dan Tobi Miller, The Wallflowers lebih dulu didirikan dengan nama The Apples. Selain Jakob Dylan dan Tobi Miller, formasi awal The Wallflowers diisi oleh kehadiran Barrie Maguire, Peter Yanowitz, dan Rami Jaffee. Ketika mulai serius mendapatkan kesempatan manggung di beberapa tempat, kelima anggota band tersebut sepakan untuk mengganti nama band mereka menjadi The Wallflowers. Rami Jaffee yang merupakan salah satu sosok penting di skena musik Los Angeles kala itu memberikan kemudahan bagi The Wallflowers untuk bermain di tempat-tempat yang cukup hype, seperti Whisky a Go Go, Gazzarri's dan Viper Room.

Bermain di venue yang menarik dan populer juga dimaksimalisasi oleh The Wallflowers untuk menyebarkan demo mereka ke beberapa orang seusai tampil di atas panggung. Hingga akhirnya, Andrew Slater pun tertarik dengan permainan musik dan kualitas demo yang dibuat oleh The Wallflowers dan memilih untuk menjadi manajer mereka. Andrew Slater mengenalkan The Wallflowers kepada Virgin Records yang langsung mengajak band besutan Jakob Dylan tersebut kerja sama. Selanjutnya, The Wallflowers segera bersiap untuk merekam album perdana mereka. Namun sayang, kala itu sulit bagi The Wallflowers menemukan produser yang tepat untuk membantu proses rekaman mereka. Pasalnya, The Wallflowers menginginkan sebuah proses rekaman live dan produser di Virgin Records enggan untuk menjadi penanggung jawab karena risiko hingga akhirnya Paul Fox setuju untuk menjadi produser The Wallflowers.

Pada tahun 1991, The Wallflowers resmi masuk dapur rekaman profesional untuk pertama kalinya. Namun risiko terkait rekaman live pun akhirnya terjadi. Hampir seluruh lagu yang direkam oleh The Wallflowers memiliki durasi lebih dari 5 menit. Bahkan ada dua lagu yang direkam hingga 7 menit lamanya. Meskipun begitu, baik pihak produser maupun label rekaman tetap memberikan lampu hijau untuk album perdana The Wallflowers. Akhirnya, Jakob Dylan cs pun resmi merilis album perdana untuk The Wallflowers pada Agustus, 1992. Selanjutnya, The Wallflowers melanjutkan masa promosi dengan mencanangkan tur Amerika Serikat. Berbeda dengan band yang lebih dulu populer yang mampu menjadi headline, The Wallflowers ikut nebeng Spin Doctors dan 10.000 Maniacs sebagai opening act konser mereka untuk memperkenalkan album perdana bagi masyarakat Amerika Serikat.

Image courtesy of William Hames

0 COMMENTS