Thinking Man’s Metal: 10 Album Pengantar Progressive Metal

  • By: NTP
  • Rabu, 27 September 2017
  • 5065 Views
  • 1 Likes
  • 1 Shares

Progressive metal adalah konsekuensi logis perkembangan heavy metal. Gaya ini adalah hasil pertemuan antara riff metal, struktur kompleks warisan Yes, Rush dan Genesis, dan lirik tematis berkonsep tinggi. Di atas kertas, ide ini agak terlalu berlebihan, jika menciptakan riff yang bukan dicuri dari Black Sabbath saja hampir mustahil, maka apa jadinya dua elemen lainnya?

Kuncinya adalah kemampuan tinggi memainkan berbagai instrumen. Sepuluh band di daftar ini memiliki personel yang kerap muncul di DVD klinik gitar, bass, drum, atau kibor. Skill tingkat dewa para musisi ini mampu menyatukan visi artistik mereka dengan ketiga elemen tersebut.

[bacajuga]

Menikmati progressive metal adalah menikmati pertukangan kelas kahyangan sembari dibawa ke pusaran kisah besar, konspirasi rumit dan konsep abstrak. Penggemar progressive metal tentunya hafal dengan kenikmatan ini. Namun tak mudah memasuki alam pikiran progressive metal, banyak di antaranya dilabeli ‘masturbasi instrumen’ dan sangat sulit ditembus, apalagi dinikmati. Maka dari itu, SuperMusic.ID akan jadi kawan setia kalian, bersama-sama memasuki ranah “thinking man’s metal”.

1. Queensrÿche - Operation: Mindcrime (1988)

Album ini adalah opus Queensrÿche, sebuah album konsep yang mengkritik berbagai pondasi kehidupan modern lewat sudut pandang seorang pembunuh bayaran. Operation: Mindcrime mengomentari ketergantungan narkotika, korupsi, dan kesewenang-wenangan kelas penguasa. Semuanya hadir di antara dialog dan lirik, tak ubahnya seperti permainan konsol yang mendebarkan.

Sebagai salah satu band pertama yang memainkan progressive metal, instrumentasi Queensrÿche belum serumit para penerusnya. Mereka justru mengandalkan keterbukaan sound heavy/thrash dan menyuntikkan alur cerita ke dalamnya. Adalah sang vokalis dan konseptor, Geoff Tate, yang tampil maksimal. Vokalnya bergerak dari rentang geraman rendah bariton lebar, hingga nada-nada tinggi, mengubah Operation: Mindcrime menjadi sebuah epik heavy metal.

2. Voivod - Dimension Hatröss (1988)

Voivod adalah salah satu band extreme metal paling ganjil, hasil ketangkasan empat pemuda asal Quebec Utara, Kanada. Mereka mencomot berbagai bunyi dan gaya yang mereka sukai, dari hardcore, post-punk, progressive rock dan industrial. Voivod memainkan hibrida berbagai sound tanpa terdengar dipaksakan, menggilas telinga dengan riff thrash dan pekatnya atmosfer industrial.

 Kekhasan Voivod (baru bisa disamai Vektor 25 tahun kemudian), adalah tema lirik sains fiksi yang canggih. Walau purwarupa tersebut sudah mereka mainkan sejak album pertama, konsep identitas Voivod baru lengkap pada sesi rekaman Dimension Hatröss di Berlin pada tahun ’87. Mereka terinspirasi oleh grup avant-garde industrial, Einstürzende Neubauten. Voivod akhirnya memainkan thrash kasar berkecepatan tinggi, ditambah sample bebunyian industrial, perubahan time signature dan vokal yang lebih melodik. Tanpa album ini, sulit rasanya membayangkan keberadaan Neurosis atau Tool.

3. Fates Warning - Perfect Symmetry (1989)

Fates Warning butuh empat album sampai mereka menemukan formula terbaik di Perfect Symmetry. Di album ini, Fates Warning memainkan heavy metal dengan komposisi dan struktur rumit. Permainan drum Mark Zonder adalah penggerak utama Perfect Symmetry, terutama odd-time signature dan kompleksnya pola yang ia mainkan.

Dibanding album-album sebelumnya, Perfect Symmetry telah matang secara komposisi dan struktur. Duo gitaris Matheos dan Aresti mempertahankan lengkingan heavy metal, sementara tandem Alder (bass) dan Zonder memicu eksplorasi komposisi Perfect Symmetry. Fates Warning bahkan memainkan piano dan biola di album ini untuk menambah rentang spektrum bunyi yang sebelumnya tak hadir. Fates Warning sanggup membuat komposisi dan instrumentasi rumit, terdengar wajar dan tentunya, menyenangkan.

4. Death - Human (1991)

Band ini adalah fondasi penting sound death metal. Namun, Death tidak berhenti di situ, mereka melebarkan eksplorasi hingga melampaui death metal. Sepanjang aktif selama sepuluh tahun, Death juga turut mengembangkan potensi death metal hingga ke titiknya yang paling kompleks, yaitu technical dan progressive death metal. Cetak biru kedua sub-genre ini muncul di Human, album keempat Death.

Setelah merekrut Paul Masvidal dan Sean Reinert (gitaris dan drummer Cynic, salah satu pionir technical/progressive death metal atau ‘jazz metal’), Death mencapai titik temu antara kompleksitas prog dan kegarangan death metal. Mereka kemudia mengeksekusinya dengan mulus dan dinamis. Tema lirik Human juga terbilang konseptual, mencomot berbagai misteri hidup manusia dan menggunakan kacamata death metal untuk mengupasnya. Human adalah bukti bahwa death metal bisa berkembang dan tak mungkin berhenti di satu titik.

5. Dream Theater - Images and Words (1992)

Pada tahun 1992, karier Dream Theater seakan berakhir sebelum dimulai. Mereka lepas dari kontrak label rekaman dan kehilangan vokalis. Belum lagi kancah rock dunia yang lebih menyukai kesederhanaan grunge dan alternative rock, keadaan saat itu bukanlah tanah subur bagi band seperti Dream Theater.

Belum mau menyerah, mereka merekrut vokalis James LaBrie dan menggodok Images and Words. Album opus ini terdengar bak karya dari masa keemasan prog-rock, lengkap dengan permainan gitar virtuoso, pola drum kompleks, sentuhan kibor epik dan vokal tinggi.

Walau bertentangan dengan pasar musik pada eranya, album ini disertifikasi emas dan melambungkan nama Dream Theater. Di album ini mereka mempertontonkan kemampuan musikal dan instrumentasi tertinggi, sekaligus menjaga nyawa progressive rock/metal hingga awal milenium baru. Tak mengherankan bila Images and Words tetap menjadi album penting bagi penggemar progressive rock/metal hingga kini.

6. Meshuggah - Destroy Erase Improve (1995)

Inti Meshuggah adalah ketepatan, dan Destroy Erase Improve adalah album mereka yang paling tepat. Meshuggah beroperasi seperti insinyur, mencari titik temu di antara spektrum thrash, death dan progressive metal dengan sangat akurat, kemudian menggerakkannya bak mesin (tema dominan album ini adalah penyatuan manusia dan mesin sebagai kelanjutan evolusi).

Hampir tak ada sela antara konsep dan eksekusi di album ini, lagu pertama “Future Breed Machine” adalah buktinya. Tulang belakang Destroy Erase Improve adalah poliritmik metal berteknik tinggi serta keseimbangan antara kekuatan mentah dan abstraksi terjauh ritme sebagai penggerak musik.

Di album ini, Meshuggah terdengar seperti suatu entitas yang mengeluarkan vokal hardcore, riff stacatto dan permainan drum akurat, semuanya di time signature berbeda. Di saat yang sama Meshuggah juga tidak berlebihan mengeksekusi cetak biru ini, ketiga elemen tersebut tak mendominasi yang lainnya. Album ini seperti tengah memprediksi masa depan metal, yang nantinya akan diramaikan math metal, mathcore, dan djent.

7. Tool - Aenima (1996)

Aenima (ditulis Ænima) adalah alasan mengapa Tool disebut salah satu band metal terbaik selama 20 tahun terakhir. Bernasib seperti Images and Words, album ini juga dirilis pada puncak kejayaan alternative rock (dan dalam skala tertentu, hip-hop). Hampir segala detil di album ini patut diperhatikan, dari bebunyian paling senyap hingga bisik, urutan lagu, tema lirik dan keseluruhan atmosfer album. Tool memang dikenal sebagai band perfeksionis, salah satu sebab mereka melewati 11 tahun tanpa merilis album.

Aenima adalah album Tool paling kompleks, berlapis dan heavy. Mereka tidak beroperasi seperti band progresif yang memaksimalkan keunggulan virtuoso, Tool justru menggunakan tekstur sound, beraneka ragam instrumentasi dan bebunyian tak lazim sebagai senjata utama. Kompleksitas aransemen Aenima mencapai taraf progressive rock/metal tanpa mengorbankan energi besar Tool. Ironisnya, album ini tergolong sulit dicerna sekaligus titik terbaik untuk mulai mendengarkan Tool. Membingungkan? Tunggu sampai kalian mendengarkan album ini.

8. Opeth - Blackwater Park (2001)

Melalui album ini Opeth melampaui tiga genre sekaligus, death, black, dan progressive metal, serta membentuk identitas khas yang tak bisa ditiru hingga kini. Blackwater Park diambil dari nama band progressive rock dari Jerman pada era 70-an, tentunya Opeth juga menggunakan elemen progresif sebagai tulang belakang album ini. Opeth dapat menjangkau ranah baru tanpa meninggalkan akar musik mereka, yaitu black dan death metal. Mereka melakukan ini, tentunya dengan sangat mulus. Kualitas penulisan lagu Mikael Åkerfeldt (vokalis/gitaris) di album ini diperhalus oleh produser Steven Wilson (vokalis/gitaris/penulis lagu Porcupine Tree).

Opeth membagi Blackwater Park ke dalam berbagai bagian (movement, seperti komposisi klasik), lagu-lagunya dimulai dan berakhir tanpa batas yang tegas dan bergerak cair sesuai kebutuhan komposisi. Medan sonik Blackwater Park juga tak kalah cair, meleburkan gitar akustik, piano, ambient, riff rock 70-an, vokal menggeram dan bersih. Selama beberapa menit Opeth terdengar seperti turunan Swedish Death Metal, dan berubah menjadi Genesis beberapa detik kemudian. Blackwater Park adalah titik balik Opeth, dan progressive metal di milenium baru.

9. Mastodon - Leviathan (2004)

Album ini adalah kali kedua Mastodon menubrukkan sludge dan progressive metal, formula ini pertama kali mereka jajal di Remission (2002). Mereka akhirnya sukses menemukan komposisi tepat antara sound bertenaga dan komposisi akrobatik pada Leviathan. Jangan juga melupakan bahwa Leviathan adalah album konsep pertama Mastodon, sebuah interpretasi terhadap novel epik Herman Melville, Moby Dick.

Peningkatan kualitas rekaman Leviathan sanggup menyuling kualitas sludge kotor dan mendorong kejernihan komposisi Mastodon. Album ini digerakkan oleh konsentrat campuran nyali dan presisi. Mereka berhasil memaksakan kekauacan sludge ke dalam struktur heavy metal serta progressive rock lawas, sebuah penghormatan bagi akar mereka, sekaligus langkah maju untuk metal. Album Blood Mountain (2006) mungkin terdengar seperti band yang telah menguasai medan mereka, tapi Leviathan adalah arena pertarungan yang membangun Mastodon.

10.  Porcupine Tree - Fear of a Blank Planet (2007)

Album ini menandai kembalinya Porcupine Tree pada format komposisi andalan Steven Wilson. Feat of a Blank Planet berisi aransemen rimbun berlapis timbunan vokal, piano, synth, gitar akustik/elektrik, dan drum akustik/elektrik, yang diikat progresi kord penuh ketegangan serta kerinduan. Landasan sonik mendasari kisah narator Fear of a Blank Planet; seorang anak laki-laki berumur 10-15 tahun yang seharian berada di kamar, menghabiskan waktu di depan komputer dan interweb.

Wilson membangun atmosfer sekaligus narasi penuh emosi di album ini melalui tema gangguan kesehatan mental, penyalahgunaan obat-obatan, alienasi sosial/teknologi dan perasaan kosong akibat derasnya alur informasi. Lanskap musik Fear of a Blank Planet pun mencerminkan hal ini, ia dipenuhi solo gitar berdistorsi kasar, drum machine yang berderu dan organ/synth bising. Sepanjang 51 menit, ‘bisikan’ Porcupine Tree menutup salah satu babak terakhir era progressive metal milenium baru.

0 COMMENTS

Info Terkait