TRAGEDI KONSER: Sisi Kelam Perjalanan Rock n' Roll

  • By: NTP
  • Jumat, 26 May 2017
  • 17563 Views
  • 0 Likes
  • 0 Shares

Kekerasan dan musik adalah sepupu yang jarang bertemu. Baik para musisi, penonton, penyelenggara konser, atau elemen lain yang terlibat dalam pertunjukan musik, berusaha sekuat tenaga agar dua sepupu itu tidak bertemu.

Salah satu bahan baku kekacauan tersedia di konser dan festival musik; konsentrasi massa berjumlah banyak yang berkumpul di satu tempat. Sisanya adalah perihal mengorganisir massa tersebut agar mendapat akses yang cukup, dan mempertahankan suasana aman-nyaman secara konsisten.

[bacajuga]

Walau demikian, tetap ada faktor-faktor pemicu kerusuhan dan korban jiwa yang sulit diprediksi, oleh manajer atau promotor kawakan sekalipun. Sejarah pertunjukan dan konser rock diwarnai berbagai potensi kerusuhan yang beberapa kali meledak tanpa bisa ditangani. Penyelenggara harus mengaku kalah pada kerumunan, dan tidak jarang aparat keamanan pun tak bisa meminimalisasi kerugian yang terjadi.

Salah satu contoh kasus tersebut adalah ketika Guns N’ Roses dan Metallica menyambangi Montreal, Kanada pada 8 Agustus 1992. Sebanyak 53 ribu penonton memadati Olympic Stadium pada rangkaian tur yang dibuka nama-nama besar seperti Faith No More, Motorhead, dan Body Count.

Masalah pertama datang saat Metallica tampil, lengan James Hetfield terbakar oleh kembang api saat sedang membawakan “Fade to Black”. Luka bakar tersebut mengharuskan Metallica untuk menghentikan penampilan mereka jauh lebih awal.

“Seluruh lengan, telapak tangan saya terbakar hingga ke tulang. Sebagian kulit muka dan rambut saya juga terbakar. Sementara saya melihat kulit punggung terus melepuh,” ucap Hetfield dalam seri dokumenter VH1: Behind the Music tentang konser tersebut.

Sementara penampilan dan perilaku Guns N’ Roses setelahnya pun tidak membuat suasana konser lebih baik. Menurut catatan The New York Times, Axl Rose berhenti bernyanyi setelah mengalami masalah tenggorokan usai tampil selama 55 menit (Seattle Times bahkan menyatakan Rose hanya tampil sepanjang 15 menit). Rose mengakhiri penampilan Guns N’ Roses dengan menyatakan bahwa Guns N’ Roses akan berhenti tur untuk sementara. Saat Guns N’ Roses mundur dari panggung, kerusuhan pun dimulai.

Menurut estimasi kepolisian setempat, 2 ribu orang terlibat dalam kerusuhan tersebut. Setidaknya tiga polisi terluka dan sepuluh perusuh ditahan, sementara sisanya mulai melakukan penjarahan, pembakaran, dan penghancuran properti. Guns N’ Roses akhirnya dilarang tampil di Olympic Stadium, Montreal untuk seumur hidup, dan kerugian total ditaksir mencapai setengah juta dollar.

Peristiwa serupa terulang di ‘festival kedamaian’ Woodstock tahun 1999, dengan skala kerusuhan yang lebih besar, dan lebih jahat. Woodstock diisi nama-nama besar seperti James Brown, Rage Against the Machine, Ice Cube, Metallica, Willie Nelson, Elvis Costello, dan Red Hot Chili Peppers. Kerusuhan yang terjadi saat Woodstock 99 berlangsung disebut oleh San Francisco Chronicle sebagai ‘Hari Kematian Musik’.

Sebanyak 200 ribu penonton memenuhi bekas pangkalan udara di Rome, New York selama tiga hari, dimulai dari 22 Juli. Kondisi cuaca dan logistik Woodstock ‘99 adalah bibit kekacauan pertama. Di bawah sengatan matahari, air kemasan dan makanan dijual mahal dengan persediaan terbatas. Banyak toilet banjir dan mesin ATM menjadi sasaran pencurian, selagi beberapa genangan air besar muncul karena beberapa pipa air dihajar habis penonton.

Sebanyak 500 personil kepolisian setempat dan New York State Troopers kewalahan menangani penonton. Titik didih kerusuhan Woodstock ‘99 terjadi saat Limp Bizkit tampil, polisi setempat melaporkan empat kasus pemerkosaan, termasuk satu pemerkosaan berkelompok. Tragedi pun dimulai.

Api berkobar di beberapa titik selagi penjarahan berlangsung. Sebuah menara pengeras suara dibakar oleh para penonton, saat Red Hot Chili Peppers tampil. Akhirnya, selama tiga hari 44 orang ditahan, dan 1.200 lainnya harus mendapat perawatan medis.

“Saya pikir ingatan orang tentang (Woodstock ‘99), yaitu sekelompok pemuda yang menari mengitari api, justru lebih dramatis dari kejadian sebenarnya. Masalah yang terjadi di Woodstock meletus setelah band terakhir selesai tampil, dan hanya seratusan penonton yang terlibat kerusuhan tersebut. Saya rasa sudah jelas akibat dari peristiwa ini,” jelas Michael Lang, sang promotor Woodstock pada wawancara dengan Billboard di tahun 2009.

Hilangnya nyawa tak terjadi di Woodstock ‘99, tapi tragedi ini sudah terjadi 30 tahun sebelumnya di Altamont Speedway Free Festival, California, 6 Desember 1969. Konser penutup tur The Rolling Stones ini tak hanya merupakan salah satu tragedi musik rock, tapi juga dianggap sebagai ‘kematian’ gerakan kontrakultur 60-an di AS.

Festival tersebut diisi oleh Santana, Jefferson Airplane, The Flying Burrito Brothers, Crosby, Stills, Nash & Young, dan Rolling Stones sebagai penampil utama. Sebanyak 30 ribu penonton diperkirakan hadir di festival tersebut. Kesalahan utama penyelenggara festival tersebut adalah alpanya keamanan resmi.

Alih-alih keamanan resmi, para promotor justru mengajak geng motor beringas Hell’s Angels untuk mengamankan konser tersebut, dan hanya menyuruh mereka duduk di bibir panggung untuk mengahalau penonton. Mereka dibayar dengan bir sejumlah $500 atas saran Grateful Dead dan Jefferson Airplane. Hell’s Angels menolak tugas pengamanan tersebut, dengan menyatakan akan datang sebagai penonton yang membantu kelancaran acara.

“Saya bertanya, bagaimana kalian akan mengurus beberapa grup berbeda di satu area. Jika kalian mengorganisir sebuah acara untuk 300 ribu orang, apakah kalian tahu bagaimana cara mengurus mereka? Apa yang Angels inginkan dari konser ini? Untuk tahu, maka kami harus bertemu mereka.”

“Satu-satunya perjanjian antara kami dan Angels adalah bahwa mereka akan memastikan tidak ada yang merusak generator, itu saja. Tidak mungkin kami menugaskan mereka sebagai satuan keamanan atau hal semacamnya, itu adalah omong kosong,” jelas Sam Cutler, manajer tur The Rolling Stones, pada majalah Rolling Stone AS di edisi Januari 1970.

Tragedi Altamont dimulai saat ‘The Stones’ tampil di hadapan sekitar 4.000 hingga 5.000 penonton yang mencoba memanjat dan menekan bibir panggung. Keributan antar penonton dengan Hell’s Angels berlangsung. Hell’s Angels mulai mempersenjatai diri dengan rantai motor.

Di antara keributan tersebut, seorang perempuan bernama Meredith Hunter ditusuk oleh anggota Hell’s Angels bernama Alan Passaro karena terlihat mengeluarkan pistol berkaliber .22 inci. Sementara tiga kematian lain terjadi karena tabrak lari dan tenggelamnya satu orang di saluran irigasi. Sebagian besar konser dan tragedi tersebut direkam oleh Albert dan David Maysles, yang mengubah hasil rekaman mereka menjadi film dokumenter Gimme Shelter (1970).

Pasca kerusuhan Woodstock ‘99, kerusuhan dan hilangnya nyawa sudah hampir hilang di konser musik. Jika peristiwa tragis tersebut adalah kombinasi dari situasi yang tidak kondusif, manajemen dan organisasi yang buruk, serta masifnya jumlah penonton, maka jenis tragedi lain adalah pembunuhan dan aksi teror. Efek kejadian seperti ini tidak hanya terasa di dunia musik, tapi juga mengejutkan elemen masyarakat lain.

Aksi teror yang paling membekas di kancah metal dunia adalah pembunuhan ‘Dimebag’ Darrell Abbott pada 8 Desember 2004 di Alrosa Villa, Ohio. Mantan gitaris Pantera ini ditembak oleh Nathan Gale saat sedang tampil bersama Damageplan, band yang ia bentuk bersama adiknya, Vinnie Paul (eks drummer Pantera). 600 penonton malam itu menyaksikan Darrell meninggal tepat di peringatan ke-24 penembakan John Lennon.

Menurut keterangan Rick Cautela (manajer Alrosa Villa), Gale masuk tanpa tiket dengan memanjat pagar dan berada di sisi kiri panggung. Gale menembak kepala Darrell dengan pistol Beretta berkaliber 9 mm. Nasibnya ternyata tidak lebih baik dari Darrell, Gale ditembak ditempat oleh anggota kepolisian dan meninggal seketika.

Kejadian tersebut tentu tidak bisa diprediksi siapapun yang terlibat, terutama bagi band yang sedang tampil. Peristiwa tragis dan aksi teror yang baru-baru ini menimpa penonton konser penyanyi pop Ariana Grande di Manchester, Inggris, merupakan pengingat akan teror yang meliputi pertunjukan musik akhir-akhir ini. Pemboman di konser tersebut memakan korban sebanyak 22 orang.

Teror tersebut adalah serangan kedua di konser musik benua Eropa. Peristiwa tragis yang mendahuluinya adalah serangan di konser Eagles of Death Metal di Bataclan, Paris. Tragedi tersebut memakan korban sebanyak 90 orang dan puluhan orang luka-luka. Pembunuhan tersebut bukanlah insiden terisolir, tapi satu bagian dari aksi teror yang menimpa kota Paris. Total sebanyak 130 orang meninggal dan 100 orang berada dalam kondisi kritis. ISIS pun kemudian menyatakan bertanggungjawab atas serangan tersebut, mereka menyebutnya sebagai “badai pertama”.

Francois Hollande, presiden Prancis yang menjabat pada November 2015, menyebut aksi teror itu sebagai ‘pernyataan perang’ yang dikoordinir secara rapi dari luar negeri dan dibantu pihak dalam negeri. Serangan itu dimulai dari pertandingan sepakbola Prancis versus Jerman di Stade De France kemudian mencapai Bataclan pukul sembilan.

Sejumlah teroris bersenjata memasuki area konser dan mulai menembaki penonton tanpa henti. Dalam wawancara dengan VICE, Jesse Hughes berkata ia mengira suara tembakan tersebut adalah suara amplifier yang rusak. Eagles of Death Metal kemudian berlari ke ruang ganti dan bersembunyi selama 15 menit, hingga akhirnya berhasil melarikan diri ke kantor polisi setempat. Aksi teror tersebut bisa dihentikan pukul 00:20 setelah polisi menembak salah satu teroris dan dua teroris lain sudah meledakkan bom di dada mereka.

“Banyak sekali penonton yang tidak meninggalkan teman-teman mereka, dan mendahulukan keselamatan orang lain dibanding diri sendiri, itulah mengapa banyak sekali korban yang jatuh. Teman kami meninggal saat datang untuk menonton rock n’ roll,” jelas Hughes.

Menuju ke negeri sendiri, tentu tak lepas dari ingatan sebuah tragedi yang terjadi di Bandung, tepatnya dalam konser peluncuran album perdana unit metalcore Beside pada 9 Februari 2008. Tercatat 11 orang meninggal karena terinjak-injak hampir seribuan manusia yang hadir di AACC ketika berdesak-desakan keluar, padahal venue hanya berkapasitas maksimal 500 orang saja. Insiden tersebut menjadi catatan kelabu dalam perjalanan musik underground Indonesia.   

Foto: ANTARA / Rezza Estily

Tragedi tersebut tentu bertentangan dengan esensi konser musik atau pertunjukan seni apapun, di mana kemanusiaan dan kebebasan berekspresi merupakan suatu keutamaan. Namun, teror ternyata meliputi seluruh aspek kehidupan manusia dan tidak berhenti di ranah politik, musik pun menjadi sasaran empuk aksi teror. Nilai-nilai yang diusung konser musik menjadi hal utama yang ingin dihancurkan tanpa sisa. Di situlah dua sepupu jauh, kekerasan dan musik, bertemu.

0 COMMENTS