Under The Radar: Relative/Primitive

Under the Radar: Relative/Primitive, Pentolan Pesta Bawah Tanah Surabaya

  • By: NND
  • Jumat, 31 January 2020
  • 321 Views
  • 2 Likes
  • 4 Shares

“Relative Primitive adalah sebuah anomali; hadir dari perubahan-perubahan yang terjadi di kancah pesta bawah tanah,” tulis mereka menjelaskan. “Sebuah representasi dari keabsurdan kota Surabaya—manifesto untuk menyelami spektrum musik bawah tanah yang bersetubuh dengan bebunyian tradisional di tengah ombak industrialisasi yang merusuh.”

Relative/Primitive adalah sebuah kolektif/party-thrower tiga DJ/produser yang berasal dari Surabaya. Meski begitu, menempatkan mereka pada posisi unik sebagai “sebuah anomali” mungkin terasa lebih tepat. Bisa jadi karena musiknya, bisa juga karena apa yang mereka representasikan. Tak aneh, atau dalam konteks ini, “anehnya,” justru karena kedua aspek itu sekaligus.

 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 

основные частоты. ???? @ryodinata @ryofixmasuksurga

A post shared by RELATIVE/PRIMITIVE (@relativeprimitive) on

SUPERMUSIC berkesempatan untuk mewawancarai Relative/Primitive, sedikit mengintip “reportase” mereka terhadap absurditas kota Surabaya. Di balik DJ deck, di atas lantai dansa, dan di bawah bola disko, dari balik mata para pelaku kancah bawah tanah yang terbilang aktif. Semoga tulisan ini dapat menggambarkan betul kondisi underground party culture Surabaya, melalui kacamata semi-nihilis mereka yang genit akan aneh-anehnya pergerakan peradaban.

Relative/Primitive, sebagai bahasan di episode kedua Under The Radar, diisi oleh Bani, Bow, dan Risky. Di tangan mereka, Surabaya bak memiliki ujung tombang baru, pemantik semangat gerakan pesta bawah tanah, bahkan menjadi jawaban bagi para penikmat musik elektronik lantai dansa yang haus akan sajian pesta unik dan bermutu tinggi.

Bani yang berakar dari hip-hop kerap menggocek kewajaran dengan irisan EBM, leftfield, dan bebunyian samar. Sementara Bow membidik kiblat ke riuhnya rave era 90-an, dengan racikan house, techno, disco, acid, funk, breaks, dan elektro yang berpalet gelap. Terakhir ada Risky, yang terjun ke dunia musik sintetis atas kecintaannya terhadap pada Talking Heads. Seleksi bebunyian yang ia tawarkan berkisar dari suara purba, gemuruh gebukan drum, hingga alunan psikedelia eksotis.

“Semua bermula dari iseng, ditambah saat itu kolektif saya sebelumnya (SubFaces) bubar dan Surabaya lagi sepi banget acara elektronik,” ungkap Bani menuturkan.

“Waktu itu kami berempat; saya, Seno, Adit, dan Bagus lagi sering nongkrong bareng dan punya preferensi musik elektronik yang sama, jadi yaudah kita spontan aja bikin acara dengan nama Relative Primitive, buat mendeskripsikan bebunyian yang kita bawakan saat itu, di satu sisi modern/urban, namun di sisi lain primitif yang bercampur dengan world music atau musik tradisi atau apalah kalian sebut," sambungnya.

Bermuara dari pesta itu, teman-teman mereka mulai menunggu acara berikutnya, di titik itu, kesepakatan terjalin. Relative/Primitive yang tadinya berbentuk acara, reinkarnasi menjadi kolektif yang mampu menyusup lebih dalam ke tengah kancah elektronik yang sedang sepi itu.

Masuk lebih dalam, kami pun terjun ke dalam bahasan musik dari Relative/Primitive itu sendiri. Risky, yang sekarang sudah berdomisili di Lombok, menyatakan bahwa musik dari mereka jatuh dalam spektrum, “Bebunyian yang mungkin di kota kami saat itu dicap tidak lazim, namun menurut kami justru bebunyian itu otentik, spacey dan beyond.”

“Kalau ditanya rangkuman seperti apa yang menjelaskan musik dari Relative/Primitive, maka musik yang spacey dan terkesan beyond dari khasnya kegelisahan kota kami,” sambungnya.

Ia juga terus menjelaskan bahwa kehadiran Relative/Primitive yang pada dasarnya berjangkar pada segala kegelisahan Surabaya, justru menyikapinya dengan mentalitas “enggan dibatasi” oleh batasan lokalitas itu sendiri. Terkesan berseberangan, memang; alasan dibaliknya pun mumpunin. 

“Kami digging musik tradisi Indonesia waktu kami juga digging musik tradisi di belahan negara dunia lain, dengan adanya internet hal itu tak jadi masalah. Terpenting kita main musik bukan main genre, silahkan temen-temen yang menentukan,” jelas Risky.

Berdomisili di Surabaya, kolektif ini mengaku bahwa masih perlu berbenah agar dapat mendorong keberlangsungan industri dan proses berkarya para pelaku seni kotanya, khususnya di musik dansa bawah tanah. Sebagai perwakilan, Bani menyatakan bahwa keterbukaan pihak venue menjadi salah satu permasalahan yang kerap mewabah.

“(Masih kurangnya) venue yang support pelaku sayap kiri kaya kita gini. Banyak venue di kota kami yang susah diajak kerjasama karena memang apa yang kita sajikan mungkin tidak akan laku, kendala seperti ini yang membuat kita harus pintar mengakalinya supaya tetap hidup,” ujar Bani.

Namun, Relative/Primitive pun mampu bertahan. Siasat diperlukan, dan mereka hadir dengan resep pakem yang cukup segar: sebuah perwujudan semangat independen dengan jiwa Do It Yourself.

Pop-up gigs menjadi jawaban mereka. Melihat bentuknya yang minimalis dan intim ini, kendala venue justru terasa lebih longgar. Tampil di pop-up gigs, mereka dapat lebih bergerilya dan menyusup pasar melalui “bar-bar kecil yang masih bisa diajakin ngomong selain keuntungan.”

Sama seperti kota-kota lainnya, di ranah musik elektronik tak ada yang sempurna. Contoh Jakarta; klabnya banyak bertebaran, tapi harga-harganya kelewat mahal. Bandung? Mungkin justru kurangnya varian venue.

Di luar masalah itu, masih banyak lagi yang tentu bisa dijadikan contoh kasus, salah satunya adalah apa yang mereka hadapi di Kota Pahlawan. Bagi Relative/Primitve, ketimbang memahaminya sebagai sebuah keterbatasan, mereka maju dengan mental positif dan memandangnya sebagai sebuah “fakta yang harus dibenahi.”

 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 

punggawa raum 3

A post shared by RELATIVE/PRIMITIVE (@relativeprimitive) on

“Masih ada stigma di kota kami yang menyebut anak-anak elektronik kayak kita sebagai anak dugem, mungkin karena budaya di kota kami lebih masif berkembang di band-band-an yah?” papar Bani menerangkan.

“Tapi makin kesini makin banyak kok temen-temen kami di skena band yang juga nge-dj atau jadi producer. Jadi (untuk) menyikapi dan membenahinya, kami berusaha terlibat di skena band-band-an, sama kalau ada kesempatan mungkin kita akan bikin edit untuk beberapa lagu temen-temen di skena band,” sambung Bani.

Menutup wawancara kami, Bow pun menjabarkan apa rencana Relative/Primitive untuk menyikapi tahun 2020 ini. “Regenerasi, terlibat di pesta-pesta kota lain, produktif bikin pop-up gigs rutin, dan makin banyak mix yang kami upload di Mixcloud kami. Kalau modalnya sudah ada, bikin EP juga boleh sih!” tutupnya.

Masih penasaran dengan interpretasi Kota Surabaya menurut Relative/Primitive? Mungkin, di mana kata-kata kurang mampu menjaringnya, musik-musik sajian mereka bisa berlaku lebih akurat. Untuk itu, coba singgahi kanal Mixcloud mereka, dan selami Surabaya ala Bani, Bow, dan Risky melalui bebunyian pilihan mereka.

Jika kalian berminat mengundang Relative/Primitve untuk pesta kalian, sila hubungi mereka melalui alamat ini.

*Under The Radar adalah serial feature terbaru dari Supermusic yang menaruh fokus lebih pada aspek-aspek industri musik yang jarang tersorot, segar, dan berada di berbagai wilayah di Indonesia; meliputi para musisinya, kolektif dan komunitas, label rekaman, venue, hingga festival yang bergerak secara swadaya, dan tumbuh secara organik.

0 COMMENTS

Info Terkait

supericon
12 views
superbuzz
33 views
superbuzz
45 views
superbuzz
52 views
superbuzz
158 views