Under The Radar: Rollfast

Under The Radar: Rollfast, Monster Rock Bali yang Kian Berevolusi

  • By: NND
  • Kamis, 5 March 2020
  • 711 Views
  • 4 Likes
  • 5 Shares

Rollfast adalah salah satu amunisi pakem yang melantangkan tebasan musik rock beringas dari Pulau Dewata. Mendengarkan materi awal mereka, resep musiknya terasa cukup menggoda: rock ngebut tak peduli keringat di dahi, diracik dengan bumbu-bumbu psikedelia far-out yang genit. Sewaktu-waktu, salah satu dari ingredients itu keluar garis batas. Alias, ada tendensi “memberontak” yang hadir dan terdengar dalam musik mereka—menjadi salah satu corak segar dalam diskografi mereka, juga dalam radar musik kontemporer lokal.

Belum lama ini, kamipun mendengar lagi nama Rollfast. Tak lagi mewujud sebagai kuintet rock ketat yang sedulunya kami kenal, tahun yang baru ini pun menampilkan wajah dan jiwa yang baru bagi mereka: Agha Praditya, Arya Triandana dan Bayu Krisna. Sebuah transisi, sebut saja; dan sebagai sebuah grup musik, jalan mana lagi yang sepantasnya ditempuh untuk menabiskan patennya perubahan mereka, selain melalui musik? Maka dari itu, mendaratlah “Pajeromon,” sebuah karya yang tidak layak diresapi kala sedang nyaman-nyamannya.

Ya, lagu ini mengusik. Mungkin memang begitulah bidikannya dari awal. Mulai dari aransemen yang offside jauh dari batas wajar, yang disusun tanpa tatanan yang jelas, hingga lirik-lirik sarat makna dalam landasan surealisme yang ngehek, semua itu dikemas dengan interpretasi visual yang juga bisa bikin geger jika terjun mendalaminya tanpa pemahaman konteks sama sekali. Intinya, “Pajeromon” merupakan sebuah warcry segar terhadap segala sesuatu yang patut diperangi dalam struktur bermasyarakat, ataupun sebuah komedi satir ala Aristophanes yang menikam si “Ajik”, si pencandu maskulin, si mobil majikan, atau siapapun itu yang tersentil!

Atas itu semua, Rollfast perlu dibedah. Dan inilah hasil otopsi kita, silahkan dibaca selengkapnya, di bawah inI:

***

1. Bisa ceritakan bagaimana Rollfast terbentuk, dan sejarah yang ada di balik kelahirannya?

Aan: Temen sekolah dan tongkrongan, sama-sama suka musik dan ngayal gembel , tumbuh dari circle yg sama, dengan fase dan yg beda, membuat kami punya in line yg mirip, di dalam semua perbedaan yg ada antar kepala.

Agha: Dan, pengen keren-kerenan saja tentunya.

2. Adakah peran dari lokasi domisili kalian yang hadir dan turut membentuk musik Rollfast? Apa wujudnya, dan apa yang dipengaruhi?

Agha: Iya, lagi kepengen mengangkat apa yang terjadi disekitar aja. Baik yang tanpa filter maupun yang steril. Tapi akarnya berangkat dari rasa mentok dan bosan sama apa yang sudah dilakukan dulu aja. Di album pertama, hal-hal seperti ini belum masuk dalam kategori keren.Kalau yang keras pengaruhnya namun belum di mention, dari liriknya sih. Sekarang bahasa indonesia semua. Dulu kesulitan buat lirik indonesia tapi sekarang jadi ketagihan.

Aan: Dari nuansa di sini yang selalu rame dan meriah dilihat dari bentukan ornamen, warna-warna dan bebunyiannya, tapi di sisi lain di sini juga banyak kebiasaan  / dorongan untuk jadi urak, kesurupan dan gelap, sisi lainnya lagi disini juga ada meteran pariwisata chill, sunset, beach club dll. Jadi ga nutup kemungkinan kalo kita nyaman dengan semua clash dari keunikan itu. Ngaruh ke cara pandang terhadap banyak aspek, dalam beberapa tahun terakhir ini yang sekarang bakal jadi album baru, walaupun dulu juga uda nyadarin hal-hal gini cuma di album pertama kami masi menggali, misread dan mencari jati diri masi puber.

BK: Penangkapan cara pandang yang beragam dan kontras ini akan kami coba tangkap lewat output yang berupa album ke-2 kami nantinya. Bisa dikatakan juga album ini walaupun berupa hasil, tapi merupakan sebuah proses, proses cara pandang kami, dan proses yang selanjutnya, resume, dan diary kami.

3. Apa kendala yang hadir di daerah domisili Rollfast, dan bagaimana kalian menyikapi/mensiasatinya?

Aan: keras, in general lingkungan di Bali relatif santai, selebratif, dan secara ga langsung jadi lebih cenderung stay dalam satu vibe yang kayak gitu terus. Manja, pada awalnya. Jadi di Bali pada ga terlalu melek akan strategi menjual / mempresentasikan, termasuk kami pun masih trial dan error. Menyiasatinya ya tetap gali dari diri sendiri belajar semangat mandiri dan ga tertutup dengan apa yg terjadi di sekitar tanpa over konsumsi juga.

Agha: Masalah klasiknya sih, kami di sini kebanyakan harus diinisiasi dulu, baru mau gerak, harus ada contoh nyatanya dulu. Potensi ada, tapi kurang eksplorasi.. Tapi sekarang kayaknya udah mulai gerah dan pada eksplorasi. Dan pada susah juga untuk ditemukan karya-karyanya. Skill ngelapak yang tadi dibilang Aan. Seniman semua, belum ada orang belakang layarnya.

BK: kalo dalam segi presentasi dan karya, seharusnya aku rasa Bali bisa melakukannya dengan sebebas-bebasnya. Maksudnya, alkohol sangat mudah dicari pun murah. Berjejaring rasanya juga dekat, mengingat Bali itu sendiri pulau kecil. Warung muslim dan non-muslim juga bertetanggaan. Poin plus juga sih untuk Bali ketimbang daerah-daerah lainnya.

4. Apa saja yang perlu ditingkatkan dalam daerah domisili kalian guna dapat lebih menjunjung industri dan skena, hingga proses bermusik?

Agha: Lapaknya dibikin semudah mungkin untuk di akses, terus yang Aan bilang tadi itu, soalnya masalah dana juga kita disini ada. Tinggal idenya dan mau kemananya aja yang di pertajam.. Kemarin aja kami dan teman-teman bikin Ravepasar tanpa sponsor. Tapi orang-orang belakang layarnya sih sekarang ini urgensinya..

5. Sejauh ini, apa saja yang sudah berhasil digarap oleh Rollfast--baik itu materi studio album, EP, tur, hingga kolaborasi; bisa dijabarkan?

Musik dan Performing art:

Kolaborasi dengan Yoka Sara untuk Flying Stage di Bali Tolak Reklamasi Art Event. (2014)

Amavasya, kolaborasi dengan Pavana.Co (2015)

Album Lanes Oil, Dream Is Pry (2015)

Single Off! The Twisted (2016) – menjadi soundtrack di Thrasher Skate Rock “Cooking With A Concussion” video (2018)

Split EP Rollfast-Whirlpool/ Sigmun-Behelit (2017)

Kolaborasi dengan Wisnu Negara di Sprites Segara (2017).

Rollfast Skets - live at Puri Agung Jro Kuta (2018)

Operasi SenSar – Performing art live at Cush Cush Gallery (2019)

Single Pajeromon (2020)

Tour:

Japan Tour: Tokyo Psych Fest presented by GuruGuru Brain (2014), Jakarta-Bandung Tour (2014), Lanes Oil, Dream Is Pry Tour-Jakarta, Bandung, Jogja, Solo, Semarang, Malang, Surabaya, Jember (2015) Off! The Twisted! Tour-Jakarta, Bandung, Makassar (2016), Nusa Tour-Bali, Nusa Lembongan, Kupang (2018).

6. "Pajeromon" sebagai single terbaru kalian bisa dikatakan sebagai sebuah transisi yang cukup liar, apa latar di balik perubahan dalam segi musikalitas yang ditempuh dalam menggarap lagu tersebut?

Agha: Sebelum kami nge-band Rollfast ini kami punya band brutal/slamming death metal. Dan setelah itu baru bikin Rollfast. Dan Rollfast dari awal berdiri selalu punya set improvisasi, untuk manggung-manggung di Art Event macam Sprites. Jadi disana wadah fun kami sebenarnya, karena bosan main lagu-lagu yang sudah fix. Karena yang satunya bebas banget dan yang satunya terarah banget, di album ini kami mau coba cari tengahnya dan sempat komitmen untuk masukin elemen-elemen yang terlepas dari cocok/tidak nya didalam konsep bandnya di awal, tapi berpengaruh besar untuk kami secara personal. Selain itu pas di tengah kebosanan dengan apa yang skena tawarkan, proyek soloku sering diajakin main sama anak-anak noise/eksperimental, itu kawan-kawan Chaos Non Musica dan Tuck And Trap. Karena sering nongkrong disana jadi terpengaruh juga deh..

Aan: Ya ini pun sebenarnya udah draft 2017 yang kami ulik lagi riff-nya sama beat-nya diubah liriknya diganti, sebenarnya dulu kami sering mensegmentasi gig dan presentasi kami, antara yang main berdasarkan lagu yang uda di compose dan jamming spontan dgn 1 keyword / konsep yg ngasilin form liar-liar dan kaget karna ga kebayang bakal keluar kayak apa, kebiasan dari sana dan akhirnya kenapa gak coba satuin aja nih, kebiasaan-kebiasaan kita yang kontras itu. Coba lebih diarahin.

BK: Merujuk dari omongan Aan dan Agha, format Rollfast itu dari dulu memang improvisasi. Mungkin karena berangkatnya juga dari jam session di studio ya, jadi kebawa sampai sekarang, dari proses penggarapan materi sampai presentasi di panggung. Kami biasanya menggunakan keyword agar tujuannya juga terarah.

7. Single baru kalian membahas berbagai isu yang ada di kehidupan bermasyarakat (kelas sosial dan ekonomi, gender, hingga budaya populer). Mengapa kalian memutuskan untuk membahas hal-hal tersebut, dan mengapa sekarang?

Aan:  Kalo dulu kami baru bisa ngetawain aja hal yang begini-begini belum dapet cara bungkus yang enak, lagi-lagi. Dan sekarang mencoba buat ngemas hal-hal urban legend di sekitar kami dan membahas tanpa harus mengambil sikap sebagai preacher atau apapun. Pengen buka topik, dan mencatat hal-hal yang uda terjadi aja sih yang bisa berdampak banyak kedepan nya dalam kehidupan atau bahkan sudah menjadi dasar kita tumbuh, scr ga langsung.. dan pengen bahas nya dgn bercanda karna kalo bercanda. Org2 lbh interest buat masuk ke sebuah forum yg lbh ringan khusus nya lingkar besar di +62

Agha: Karena mentok sebenarnya.. Waktu mau bikin lirik, pasti mikir "mau ngomongin apa dong? Di album pertama kurang ngena. Kata teman2 keribetan. Karena dibilang keribetan yaudah aku coba angkat yang paling dekat dengan aku sekarang aja. Dan waktu itu juga belum kena realita..

8. Apa berikutnya bagi Rollfast--album, atau EP, mungkin; dan apakah "Pajeromon" dapat menggambarkan sound materi berikut kalian?

Agha: Belum tau juga, sekarang ini masi fokus ngemodif lapak kita. Tapi targetku personal supaya bisa jadi bunglon kayak Queen.  Pajeromon itu jembatannya. Emang dari awal kami pikir untuk jadi pengenalan albumnya.

Aan: Lumayan mewakilkan sih, penggabungan apa yang kami inginkan sekarang dengan album sebelumnya. Mudahnya mungkin dari perbedaan struktur lagu dari materi kemarin dan Pajeromon.

BK: Pajeromon kami rasa pantas untuk menjadi teaser album kami yang akan datang. Karena kami rasa, Pajeromon itu masih ada unsur heavy dari album pertama, dan transisi struktur lagu yang Aan bilang. Karena ga sedikit yang bilang kalo materi kami sekarang berubah. Katakanlah, ingin silahturahmi khusuk ke kawan-kawan pendengar.

 

9.     Berbicara proses bermusik dan rekaman, adakah perbedaan yang hadir dari tiap materi yang sudah atau akan segera dirilis? Dalam segi apa perbedaannya hadir?

Aan: Nuansa. Aransemen energi bahkan genre nya kalo suka ngebahas genre, kita juga gak tau genre-nya jadi apa sekarang. Pajeromon baru secara global, dinamika yang lain belum ketauan nih masi ada kita simpen buat entar

Agha: Album ini lebih studio-oriented sih. Kalau dulu kami fokus live, rekaman harus live, dan harus analog. Lama kelamaan analog harganya melangit dan ga mampu lagi untuk beli.  Selain itu karena aku mulai suka main elektronik, dan ngulik-ngulik DAW, jadi kebawa juga di Rollfast. Eksplorasinya di dunia digital mulai masuk karena faktor ekonomi dan kemudahan aja sih sebenarnya.

BK: kalo dalam proses bermusik, aku rasa sekarang lebih ter-elaborasi ketimbang album kemarin. Karena selain kami bertiga, pun ada Brahmantia dan Ayrton Willem yang masih terlibat dalam penggarapan album ini, memiliki aktivitas yang berbeda-beda pula ketimbang saat penggarapan album pertama kemarin saat semuanya masih jadi pelajar. Yang seperti Agha katakan barusan, dia lagi ngulik-nguliknya dengan elektronik, Aan pun punya refrensi tersendiri, juga Brahmantia dan Ayrton Willem. Maksud aku disini, kami gaada matok ingin membuat musik seperti apa, dan harus seperti apa, semisal album kami kemarin masih kental nuansa Black Sabbath dan Zeppelin-nya karena kami sewaktu itu nongkrongnya ya muter itu-itu terus, jadi kebawa. Nah kalo sekarang semuanya punya referensi masing-masing.

10. Rencana Rollfast di tahun 2020 ini?

Aan: Rilis single , album dll kayaknya pertengahan tahun.. dan semua hal yg mungkin bisa memperkuat pendekatan terhadap musik kami.

11. Prediksi Rollfast terhadap pergantian dekade baru dalam dunia musik?

Agha: Kedepannya sepertinya bakal menyenangkan, eksplorasinya orang-orang kayaknya bakal lebih liar dan bebas.

BK: Karena angka tahunnya sudah bagus: 2020, aku rasa perkembangan dunia musik makin beragam ya, dan kreasinya ga terbatas sama instrument konvensional aja rasanya. Sama halnya dengan decade 70s, 80s, 90s, 00s 10s, aku percaya akan ada sesuatu yang baru. Mungkin aja nanti ada genre post-modern millennial rock +62, karena udah bisa buat musik dari meme atau sebaliknya.

12. Layanan streaming memberikan skema dan tatanan baru dalam industri musik, apa pendapat Rollfast terkait kehadiran layanan streaming musik?

Agha: Sangat bagus sih. Kemudahan akses kan sudah pasti ya. Strategi untuk tetap berada dalam arus ini yang agak tricky. Gimana caranya menyeimbangkan kualitas dan kuantitas itu kayaknya PR-nya.

13. Siapakah dream collaboration Rollfast? (bisa siapa saja, baik yang masih ada, hingga yang sudah tidak ada)

Agha: Pengen kolaborasi sama drag queen-drag queen Jalan Dianapura

14. Jika tidak menjadi sebuah grup musik, Rollfast akan jadi apa?

Rental motor vario di Canggu, geng males-malesan dengan gimmick berkarya. Padepokan Hindu garis keras (atau firma arsitektur, ini realitanya bli)

***

*Under The Radar adalah serial feature terbaru dari Supermusic yang menaruh fokus lebih pada aspek-aspek industri musik yang jarang tersorot, segar, dan berada di berbagai wilayah di Indonesia; meliputi para musisinya, kolektif dan komunitas, label rekaman, venue, hingga festival yang bergerak secara swadaya, dan tumbuh secara organik.

0 COMMENTS