ALTERNATIVE COVERS: Variasi Sampul Album Untuk Para Kolektor

  • By: JP
  • Minggu, 4 December 2016
  • 4249 Views
  • 0 Likes
  • 0 Shares

Ada frasa ‘don’t judge book by its cover’, yang artinya jangan menilai buku hanya dari sampulnya. Banyak alasan kenapa kita harus memperhatikan isi suatu materi karya, baik itu dalam bentuk cerita di dalam format buku, atau lagu yang dikumpulkan di dalam album. Tapi tidak dipungkiri, layaknya cinta pada pandangan pertama, sampul juga bisa mempengaruhi keputusan seseorang untuk membeli suatu buku/album. Di dalam sejarah musik sendiri, sampul album sudah menjadi bagian penting dalam perkembangan musik.

Alasan mendasar kenapa album harus memiliki sampul, ya pasti untuk melindungi konten di dalamnya supaya tidak cepat rusak. Seperti yang kita ketahui, musik/media rekam pertama kali muncul pada era 1877, tidak berselang jauh dari penemuan silinder phonographic yang ditemukan oleh Thomas Edison. Hanya menggunakan kotak silinder, sampul yang digunakan hanya bertujuan untuk memberikan informasi dari konten yang ada di dalamnya. Mengingat pada masa itu, kebutuhan silinder tersebut digunakan untuk alasan pengetahuan atau tujuan keilmuan.

Baru pada era 1901 sampul silinder tersebut menggunakan visual yang diharapkan dapat membantu penjualan materi di dalamnya untuk kepentingan komersil. Barulah di saat format musik beralih ke bentuk piringan hitam (atau yang lebih dikenal dengan sebutan plat vinyl), materi musik beradu menarik perhatian para calon pendengar. Entah untuk alasan sekadar mengkonsumsi atau mengoleksi, era musik populer menjamur pada era tahun 50-80’an hingga pada pertengahan 90’an format cakram CD (Compact Disc) tersebar. Dengan bentuk yang lebih ringkas, packaging CD sering kali muncul dalam bentuk kotak bening dan digipack (karton lipat).

Sampul sendiri bisa jadi perpanjangan dari visi sang musisi dalam berkarya. Layaknya sampul buku atau poster film, para seniman sampul seringkali menciptakan sampul berdasarkan konsep yang mengintepretasikan narasi dari album yang bersangkutan. Disesuaikan dengan karakter musisi dan cerita di dalam album tersebut, tak jarang para seniman sampul juga bekerja-sama secara intens dengan sang musisi. Bermain serta berinovasi, terkadang sampul album dengan satu versi saja tidak cukup. Walau mungkin akan menyebabkan kebingungan bagi para penikmat musik kasual, lain halnya dengan para kolektor yang matanya semakin berbinar jika melihat album yang rilis dengan varian sampul berbeda.

Selain menjadi ajang untuk memamerkan visi para musisi dan tim kreatif di belakangnya, perbedaan wilayah/negara bisa menjadi salah satu alasan kenapa beberapa album memiliki sampul yang berbeda. Entah karena perbedaan budaya atau ingin menciptakan kesan eksklusif, terkadang perubahan warna saja bisa mempengaruhi persepsi dari para penikmat musik. Keunikan yang menjadi target para kolektor. Menyandang status langka, para kolektor bahkan rela keliling dunia mengejar sampul tersebut untuk mencapai tingkat kepuasan tertinggi mereka.

Namun dengan perkembangan teknologi, sampul album dengan berbagai versi juga muncul di tautan track musik dalam format MP3. Dengan semakin mudahnya bagi para seniman sampul album untuk memanipulasi gambar, jangan kaget jika kita juga bakal menemukan sampul album digital yang disesuaikan dengan tipe edisi rilisan – standar, deluxe, atau rilis ulang.

SuperMusicID mengumpulkan beberapa sampul dengan berbagai varian, yang dijamin sulit untuk kamu temukan di toko-toko CD/vinyl terdekat. Atau setidaknya, kamu akan merogoh kocek dalam-dalam untuk mengumpulkan semua varian sampul album tersebut!

 

Painting with (2016)

Animal Collective

Trio eksperimental Animal Collective yang merilis album ke-sepuluh mereka pada Februari lalu ini sengaja mengeluarkan tiga varian sampul. Masing-masing menggambarkan wajah para personel, Avey Tare (David Portner), Panda Bear (Noah Lennox), dan Geologist (Brian Weitz). Trio yang juga mengisi album Merriweather Post Pavilion (2009). Sayangnya, Deakin (Josh Dibb) yang kembali bergabung dengan Animal Collective pada tahun 2010 untuk album Centipede Hz dan touring bersama dari 2011 hingga 2013 tidak turut serta. Andai Dibb masih bergabung, mungkin kita akan mendapatakan empat varian sampul untuk album teranyar mereka.

 

The Suburbs (2010)

Arcade Fire

Ada delapan varian sampul untuk album ke-tiga band indie rock asal Kanada ini. Album 16 track yang meraih penghargaan Grammy ini  sengaja berusaha menangkap keadaan kota pinggiran, atau sesuai dengan judul albumnya – daerah suburbia. Varian sampul yang seperti menggambarkan adegan mobil yang sedang parkir dan menghadap daerah perumahan yang nyaman dan tentram. Walau kebanyakan foto dari sampul tersebut menghadap pagar kayu.

 

Kasabian (2004)

Kasabian

Album debut Kasabian tergolong dasyat. Di dalam album ini, nyaris semua single yang mereka bawakan menjadi materi radio yang sangat seru untuk didengarkan. Untuk soal sampul album, Kasabian juga tidak mau kalah menciptakan varian yang keren. Berbeda area berarti berbeda warna, band asal Inggris ini merilis sampul album hitam putih khusus untuk versi negara asal mereka. Sementara versi Eropa dengan komposisi warna hitam-merah, serta versi Amerika - Kanada dengan warna hitam-biru. Selain berbeda warna, materi di dalamnya juga berbeda - di mana versi Kanada tidak memasukkana track "Orange", "Pinch Roller" dan "Ovary Stripe". Namun versi “mutakhir” ada di rilisan Jepang, dengan komposisi warna putih-perak, album ini juga menambahkan 6 track yang memadukan track live, remix, dan B-side.

 

Plastic Beach (2010)

Gorillaz

Super virtual-band kolaborasi yang dikomandoi pentolan Blur – Damon Albarn – ini erat dengan karakter avatar animasi. Sering bergonta-ganti musisi di belakang setiap karakter, inovasi Albarn Cs tidak berhenti di narasi cerita serta aksi panggung dan video klip yang edgy. Untuk soal sampul album, Gorillaz sendiri bermain dengan komposisi yang ikonis dan mudah diingat. Namun untuk sampul album Plastic Beach, miniatur pulau plastik rekaan Albarn Cs dibuat dalam empat versi. Versi pulau ‘evening - sore’ untuk LP versi standar, ‘day – siang’ untuk rilisan Jepang, ‘night – malam’ untuk versi digital iTunes, dan ‘twilight – subuh’ untuk versi Deluxe dari format digital iTunes.

 

Sea Change (2002)

Beck

Album studio ke-lima figur rock alternatif – Beck – berjudul Sea Change didaulat sebagai salah satu album terkuat miliknya. Lewat lirik yang lebih ringan ketimbang album sebelumnya yang lebih gelap. Tidak ada alasan pasti mengapa dirinya merilis empat versi sampul album, namun bisa kita akui kalau desain seni digital yang dibuat oleh Jeremy Blake ini sedap dipandang. Sayangnya, Blake meninggal di usia muda di usia 35 tahun selepas ditinggal kekasihnya – Theresa Duncan yang meninggal beberapa bulan sebelumnya karena kasus bunuh diri. Terlepas dari pesan tersembunyi yang dipasang di masing-masing packaging album CD.

 

Maiden Japan (1981)

Iron Maiden

Album live EP Iron Maiden yang dikenal juga sebagai Heavy Metal Army ini awalnya nyaris tidak dirilis. Karena desakan dari label produksi Toshiba-EMI, Iron Maiden merilis album yang menjadi masa abdi terakhir vokalis Paul Di’Anno yang terekam di dalam 5 track (4 untuk versi standar). Sampul album ini nyaris saja memasang sang maskot Eddie sembari memegang ilustrasi kepala Paul Di’Anno yang terpenggal. Kejadian ini membuat manager Iron Maiden pada saat itu panik dan meminta perubahan dalam waktu singkat. Tidak heran kenapa sampul versi standar terkesan tergesa-gesa dibuat serta tidak membekas jika dibandingkan versi awal. Uniknya, sampul versi asli tersebut dicetak untuk pasar Venezuela di tahun 1987 dan langsung menjadi buruan para kolektor sejati.

 

Isle of Wight (1971)

Jimi Hendrix

Lagi-lagi album Live, Isle of Wight yang direkam dari konser Hendrix di tahun 1970 ini menjadi sangat penting dikarenakan inilah kali terakhir sang legenda bermain gitar sebelum dirinya meninggal. Walau didaulat sebagai album live, tidak banyak track aksi panggung Hendrix terekam. Sementara itu, foto sampul album ini juga tidak diambil dari konser di Isle of Wight Festival, melainkan saat dirinya beraksi di Deutschlandhalle, Berlin. Selain versi standar yang beredar, album ini juga rilis di Jepang dengan versi yang berbeda. Versi rilis ulang juga diterbitkan pada tahun 2002 dengan sampul baru serta track live yang lebih lengkap.

 

Music from The Elder (1981)

KISS

Masa transisi/perubahan mungkin bukanlah hal yang mudah untuk dijalani. Seperti halnya perubahan yang terjadi di tubuh band heavy metal KISS. Sejak keluarnya drummer Peter Criss serta usaha KISS untuk melunakkan persona garang dan materi musik mereka, tanggapan para fans menurun drastis. Terlebih untuk album Music from The Elder, ini kali pertama mereka tidak menggunakan visual yang kuat serta menggunakan sosok berkostum para personel untuk menjadi sampul depan. Oleh karena itu, sampul album versi rilisan Jepang masih menggunakan sosok keempat personel Gene Simmons Cs dengan kostum yang lebih sederhana. Mungkin mereka khawatir para fans KISS di Jepang tidak akan mengenali album terbaru The Elder serta mempengaruhi penjualan album.

 

 Nah, kamu sendiri pernah melihat album rock dengan varian sampul jugakah?

0 COMMENTS

Info Terkait

superbuzz
4681 views
superbuzz
5184 views
superbuzz
4159 views
superbuzz
5910 views
superbuzz
6348 views