Musisi-Seniman Muda Berbakat

Young Blood: 6 Musisi-Seniman Muda Berbakat

  • By: NND
  • Selasa, 30 July 2019
  • 593 Views
  • 4 Likes
  • 22 Shares

Jika kemarin kita sudah mengupas musisi-seniman lokal, kali ini kami akan membahas cakupan serupa. Bedanya, SUPERMUSIC akan menampilkan beberapa musisi muda yang juga mahir di bidang seni visual.

Meski masih terbilang muda, nama-nama berikut dapat menyikapi luapan imajinasi mereka dengan handal. Tidak hanya melalui musik, mereka juga memiliki ruang-ruang lain di luar terpaan nada.

Seni visual memang merupakan sebuah disiplin yang berbeda dari musik, tapi dengan bekal passion, mereka akan banyak hal. Kelimanya dapat membuktikan bahwa umur bukanlah halangan; mereka masih akan terus berkembang dan berkarya.

1. J. Alfredo (@lysurfer) – Pijar (@pijarmusic)

Sebagai personil dari trio indie pop/rock asal Medan, Pijar, Alfredo juga mahir merupa visual yang tidak kalah dengan musiknya. Vokalis-gitaris ini kerap menggunakan keramaian warna dan memadukannya secara berani. Alfredo, bersama Pijar, angkat kaki dari Medan—dan secara nekat—pindah ke Jakarta untuk lebih serius bermusik. Hasilnya? Terbayar lunas. Pijar menjadi band baru yang tidak bisa dilewatkan begitu saja.

Menilik karya-karya visual Alfredo, terasa sekali aksen pop culture deras mengalir. Tak jarang, referensi atau vibra-vibra pop culture ini dibenturkan dengan konsep waktu. Entah merujuk pada referensi masa lampau, “cult-classic”, maupun yang sedang tren. Contohnya adalah beberapa poster bootleg yang ia unggah di feed Instagram-nya. Ragamnya bermacam, dari Stranger Things sampai Spiderman yang sedang tren sekarang ini.

 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 

A post shared by J. Alfredo (@lysurfer) on

 

2. Rahmad Sumantri (@rahmad.sumantri) – Tarrkam (@tarrkam)

Tarrkam mungkin sudah tidak asing bagi yang ketagihan gemuruh enerjik punk rock. Tarrkam siap meledak, dan selalu beringas dalam mengemas set mereka; baik di gigs sempit maupun di atas panggung. Biasa berdiri paling depan, Rahmad Sumantri hadir dengan microphone. Akrab disapa Ape, dia tidak hanya menulis lirik, bernyanyi dan bersenang-senang dengan Tarrkam, tapi juga kerap berpetualang dengan jemarinya. Ape menciptakan karya visual yang sejalan dengan musik besutannya: muda, kasar, terus terang tanpa basa-basi.

Di ranah seni visual, Ape kerap menggunakan referensi komik, terasa sekali pengaruh komik Jepang (manga) sebagai referensi utama. Namun komik bukan sekedar referensi, ia juga gemar menggambar komik. Beberapa karya yang dia unggah ke media sosial berkutat dalam medium komik. Selain komik, teknik cut and paste juga kerap ia terlihat sebagai kiblatnya menggarap karya. Bahkan, ada beberapa hasil karya cut and paste yang digarap menyerupai style far-out ala poster film psychedelic atau sci-fi era 70an.

 
 
 
 
 

 

 
 
 
 
 
 
 
 
 
 

A post shared by Rahmad sumantri (@rahmad.sumantri) on

3. Rara (@rara212) – Heals (@healsmusic)

Heals adalah kuintet Nu-gaze yang berdiri di tahun 2013. Menggabungkan aransemen rock alternatif dan sound shoegaze, Heals menjelajahi musik di spektrum ini. Dibalik hempasan distorsi yang kerap unjuk taring, hadirlah Rara di posisi enam senar. Selain tampil di panggung, ia juga lihai merupa visual yang sedap dipandang mata. Hingga saat ini, Heals telah diakui hingga ke kancah Asia Tenggara, mereka sempat menjadi penampil dalam salah satu festival paling hip, yaitu Laneway Festival di tahun 2018.

Di kancah seni visual, Rara menciptakan karya-karya yang setia dengan teknik-teknik ilustrasi. Satu hal yang cukup mencuri perhatian adalah detail-detail yang ia tampilkan. Teknik dotting yang ia terapkan terlihat cocok saat dipasangkan dengan pendekatannya saat menciptakan ilustrasi. Temanya karyanya pun tak jauh dari anatomi tubuh manusia. Selain itu, penghuni alam terbuka juga kerap hadir, macam hewan dan tumbuhan.

 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 

A post shared by Rara212 (@rara212) on

4. Kendra Ahimsa (@Ardneks) – Crayola Eyes

Saat ini, Kendra bukan lagi nama asing di telinga kalian penggemar seni visual di Indonesia. Tergabung dalam roster eksekutor psikedelia 60-an Crayola Eyes, inilah ruang Kendra untuk terus mendorong pelampiasan imajinasinya. Dan percayalah, warnanya itu sangat ramai; sama seperti karyanya di medium visual.

Pria dengan moniker Ardneks ini—sudah dikenal luas sebagai perupa. Dia dikenal hingga ke taraf internasional, terutama Asia Tenggara dan Asia Timur berkat bakat dan imajinasinya yang sangat luas. Dalam merupa visual, Kendra kerap menggunakan beragam spektrum warna pastel: mencampurnya, lalu mengaduknya. Heboh, ramai, proposional, karya-karyanya terlihat detil, precise, dan terkesan trippy.

Tidak hanya itu, terlibat juga aksen-aksen futuristik yang berhasil membuat kita terpukau. Acapkali, karya-karyanya muncul dari di poster acara musik independen di Jakarta hingga internasional act yang datang dari luar negeri. Pameran karya juga sudah bukanlah hal asing bagi Kendra. Baru-baru ini, ia berkolaborasi dengan sebuah clothing line untuk meluncurkan jajaran koleksi yang dipenuhi sentuhan estetika seorang Kendra.

http://ardneks.com/

 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 

A post shared by ardneks (@ardneks) on

5. Dini Lestari (@thunderdear) – Soft Blood (@softbloodmusic)
Tergabung sebagai pemain bass dari Soft Blood yang mengusung musik indie pop/ jangle pop, Dini Lestari merupakan seorang musisi yang juga dikenal sebagai salah seorang mahir dan berbakat dalam dunia seni visual. Sepak terjang Soft Blood memang belum jauh, tapi dengan rilisan pertama yang cukup impresif dan meyakinkan, tentunya mereka menjadi sebuah unit musik yang patut dinantikan. Terakhir, mereka berhasil mereilis EP pertama mereka, Labyrinth, pada 2018 lalu. Coba dengarkan materi mereka!

Bagi Dini Lestari, seorang jebolan kampus ITB; seni visual telah menjadi keseharian yang selalu ia jumpai. Mengemban karir yang memang berkutit pada bidang kreatif dan penerapan seni visual, tentu karyanya hinggap di sejumlah media. Menguliknya, ilustrasi dan penerapannya dalam dunia digital yang dihasilkan oleh Dini sedikit banyak menerapkan tema dan unsur sketsa
di dalamnya. Selain itu, muncul juga pendekatan-pendekatan komik ala barat. Pemilihan warna yang sering ditumpahkan kedalam karyanya juga seakan melambangkan pengaruh pop art yang cukup berani—hal yang sama hadir dari sektor latar dan bagaimana ia mengisinya. Merangkumnya, visualisasi yang ditelurkan oleh Dini seakan merupakan karya yang tidak basa-
basi dan mampu menyalurkan pesannya secara maksimal.

6. Ratta Bill Abaggi (@rattabill) – Bedchamber (@bedchamber)

Ratta adalah gitaris-vokalis Bedchamber, unit indie pop/rock Ibukota yang berdiri pada 2013. Dia termasuk dalam jajaran musisi muda yang juga seniman visual. Bersama Bedchamber, ia telah menelurkan dua album yang kemudian berhasil menempatkan nama mereka ke kancah musik independen lokal. Mereka juga salah satu nama pertama di roster Kolibri Rekords, dan baru saja melepas video klip single teranyar berjudul, “Natural”.

Mengupas style seni visual Ratta, maka yang kerap muncul ke kepala adalah cartoonish-minimalis. Ringan, jenaka, playful lengkap dengan sederet nuansa serupa bisa dikantongi ke dalamnya. Warna-warna yang diaplikasikan seringkali terang dan cerah, sependar dengan garis tema yang ia tarik. Saat tidak membuka ruang untuk kejenakaan via sentuhan kartun yang ia tawarkan, Ratta juga menggubah suguhan visual yang hangat dan subtle.

https://www.behance.net/rattabill

 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 

A post shared by modern fart (@rattabill) on

Itulah beberapa nama musisi muda yang juga merangkap sebagai seorang seniman visual di kancah permusikan independen lokal. Karya siapa di antara mereka yang paling relevan dengan kalian? Atau adakah nama-nama lain yang tidak tergabung dalam daftar ini? Suarakan komentar kalian pada kolom komentar di bawah ini!

*Foto musisi dari berbagai sumber

1 COMMENTS
  • dephythreehandoko

    jiwa muda yang bertalenta

Info Terkait

superbuzz
121 views
superbuzz
140 views
superbuzz
311 views
superbuzz
183 views
superbuzz
172 views
superbuzz
165 views