EVERLOUD III: Gemuruh Distorsi Festival Extreme Metal Ibu Kota

  • By: NTP
  • Selasa, 15 August 2017
  • 5087 Views
  • 1 Likes
  • 0 Shares

Everloud, gelaran extreme metal ibu kota kembali sukses dihelat. Memasuki seri ketiga pada Minggu, 13 Agustus, Everloud menghadirkan formasi band-band extreme metal dari berbagai genre dan kota di Indonesia. Bertempat di The Establishment, Sudirman Central Business District, Everloud III meneruskan konsistensi dua seri sebelumnya dengan menyajikan festival bersenjatakan tata suara jempolan selama seharian penuh.

Dimulai pukul 13.00, Everloud III dibuka sayatan darah baru death metal Jakarta, Acromatica. Beramunisi materi-materi dari album pertama, Misdirection Impact (2016), Acromatica menghangatkan pit dengan nomor tehcnical death metal berliku.

Bibir panggung yang tadinya lengang pun kian terisi saat Karnak merapal lirik-lirik bernuansa mitologi Mesir dan kisah hidup Nabi Musa A.S. Geraman berfrekuensi rendah lagu-lagu Asimilasi Dagasatra membuat metalheads yang hadir bergerak pelan, seirama mengangguk mengikuti hantaman death metal Karnak.

Menghadapi pit yang menggeliat hidup, Hellhound menyerang dengan technical death metal yang bergerak cepat. Band potensial asal Malang ini mengejutkan penonton dengan membawakan komposisi rumit tanpa halangan berarti. Hellhound memainkan nomor-nomor kompleks For Whom You Pray yang membuat metalheads terdiam sementara.

Giliran unit brutal death metal asal Bandung, Auticed menyumpal telinga metalheads yang mulai mengisi pit. Materi-materi dari album kedua mereka, Arise (2016), mulai memantik circle pit kecil di depan barikade panggung. Selain memancing para penonton, Auticed pun menyelesaikan set mereka dengan rapih sembari diselingi melempar album kedua mereka.

Setelah diisi band-band muda, saatnya Funeral Inception, veteran death metal asal Jakarta. Cukup lama absen dari panggung tidak membuat band inkarnasi Bloody Gore ini melemah. Funeral Inception memainkan set mereka dengan solid dan tak lupa menyampaikan kritik sosial lewat vokalis Doni Herdaru. Diselingi pesan positif untuk para metalheads, Funeral Inception mencacah pit dengan nomor andalan “Surga di Bawah Telapak Kaki Anjing”, dan “Man Made Disaster”, lagu dari EP terbaru The Unbroken Legion (2016).

Veteran metal yang meneruskan agresi Funeral Inception adalah Panic Disorder. Lewat koleksi nomor-nomor ganas dari tiga album mereka, Panic Disorder menghangatkan pit dari awal hingga akhir penampilan mereka. Unit death/grind ini memendam telinga penonton di bawah distorsi tremolo, rentetan bass dram dan cabikan bass setelan rendah.

Gerombolan hitam-hitam yang memenuhi barikade pun semakin tebal ketika Gore Infamous naik ke panggung. Kuartet brutal death metal muda asal Bandung ini mengubur metalheads dengan ketukan cepat, vokal mendengking dan distorsi tebal dari EP Cadaver in Methodical Overture (2012). Walau terlihat aneh dengan topeng wajah mayat, vokalis Gore Infamous menghangatkan suasana dengan sesekali melempar guyonan yang diakhiri analogi antara kematian dan wajah topengnya yang buruk.

Pit yang kini dipenuhi warna hitam pun kian tergilas saat Abgotter, pengusung black/death metal mengubur metalheads dengan komposisi agresif. Berbekal lagu-lagu album Rebeligion (2016), Abgotter mengiringi gerak lingkaran metalheads yang perlahan melebar. Abgotter menguasai panggung dengan rentetan presisi blastbeat dan solo gitar.

Usai istirahat Maghrib, pit dibuat seakan tak pernah beristirahat oleh gerombolan brutal death metal asal Bekasi, Viscral. Memainkan sound  dan komposisi yang terpengaruh Suffocation era 90-an, Viscral memanaskan pit dengan materi dari album perdana, Egocentric Underneath Of Horror (2015). Bermodalkan permainan dram berkecepatan tinggi, ­riff tebal dan vokal bervolume rendah, Viscral mengundang metalheads untuk kembali bergerak.

Metalheads yang sudah memenuhi area Everloud III kembali merapat untuk menyaksikan penampilan band yang bertamu paling jauh, Trojan. Unit death metal/djent asal Bali ini tanpa henti menggilas telinga penonton dengan ketukan ganjil dari dua album mereka. Trojan tak menyisakan sedikitpun momen untuk menghimpun tenaga dan terus melibas pit dengan raungan distorsi.

Darah muda kembali menyesaki telinga metalheads yang hadir setelah Revenge mengisi panggung Everloud III. Berujung tombak tiga album, Global.Suffering.Disease (2009), Prelude to Omega (2010) dan Omega (2015), Revenge sejenak menenangkan pit dengan kompleksitas komposisi mereka yang tak mengenal jeda. Revenge membangun nomor-nomor garang dari lengkingan gitar dan permainan dram ultracepat.

Penonton kembali digiring dalam kecepatan penuh Dead Vertical usai tenang di bawah pengaruh Revenge. Trio grindcore asal Jakarta ini menembus benteng sunyi para metalheads yang hadir, memaksa mereka bergerak mengikuti jalur cepat komposisi mereka. Dead Vertical menghujani pit dengan artileri dari Infecting the World (2008), Perang Neraka Bumi (2011) dan Angkasa Misteri (2015). Lubang di tengah pit kembali menganga selama set Dead Vertical berlangsung.

Selesainya set Dead Vertical disambut oleh Jasad, band brutal death metal gaek asal Bandung. Tak hanya menampilkan sound keruh khas death metal 90-an, Jasad juga menggunakan kuatnya instrumentasi mereka, dari vokal, bass, gitar hingga drum. Selain itu, mereka juga memakai lelucon untuk berinteraksi dengan penonton.

“Death metal adalah olahraga!” ucap Mohamad Rohman di tengah set Jasad. Vokalis yang akrab disapa Man ini memang kerap melempar guyonan berisi di panggung Jasad.

Diselingi orasi humor dan kritik berlapis canda, Jasad menggempur dengan materi dari Rebirth of Jatisunda (2013) dan single “Liman Soka” (2015). Unit yang baru-baru ini pulang dari penampilan mereka di Wacken Festival, Jerman, ini membuktikan kualitas internasional lewat penampilan mereka di Everloud III.

Jika pada set Jasad kebrutalan diselingi tawa, maka panggung Deadsquad hanya ada energi. Besarnya energi tersebut ditularkan Deadsquad pada circle pit yang tengah berada di titik didih. Seakan turut menyerap teriakan yang diarahkan metalheads, salah satu inisiator Everloud ini menampilkan set solid dengan kematangan tinggi, walau tengah dibantu tiga personil tamu. Beberapa lagu yang kerap meramaikan set Deadsquad seperti “Anatomi Dosa”, “Dominasi Belati”, “Patriot Moral Prematur”, “Pasukan Mati”, “Pragmatis Sintetis”, dan “Manufaktur Replika Baptis” aktif meletupkan telinga penonton.

Festival extreme metal ibu kota ini pun ditutup oleh unit grindcore legendaris, Noxa. Band yang telah malang melintang sejak tahun 2002 ini tampil dengan akselerasi penuh di ujung acara. Walau tampil saat malam sudah larut dan menyisakan separuh metalheads di pit, Noxa tetap tampil maksimal menembakkan meriam mereka. Energi penuh para veteran extreme metal ini membungkus Everloud III dengan gemuruh distorsi berkecepatan tinggi.

1 COMMENTS
  • absyarMulyadi14

    You

Info Terkait

supernoize
1029 views
superbuzz
810 views

5 Negara Eropa Tercadas

superbuzz
1190 views
superbuzz
1513 views