GENERATION AXE WORLD TOUR 2017 5 Virtuoso Sukses Suguhkan Sayatan Gitar Spektakuler

  • By: NTP
  • Selasa, 25 April 2017
  • 3591 Views
  • 0 Likes
  • 0 Shares

Lima gitaris virtuoso yang tergabung dalam Generation Axe akhirnya menyambangi Jakarta pada Jumat 21 April, dalam rangkaian tur Asia yang sudah dimulai dari awal tahun. Lima gitaris itu adalah Tosin Abasi, Nuno Bettencourt, Zakk Wylde, Steve Vai, dan Yngwie Malmsteen. Masing-masing virtuoso gitar tersebut memiliki latar belakang musik dan karya yang berbeda pula.

Penonton yang menyesaki area Econvention Ancol pada malam itu disuguhi uniknya pengalaman konser ‘gitar’. Lima gitaris tersebut bisa dibilang virtuoso di genre masing-masing dan tidak ada ciri khas yang tumpang tindih dalam konser Generation Axe Jakarta. Walau, megahnya sound hasil kolaborasi mereka saat membuka konser memang tak bisa dipungkiri.

Dimulai dari gitaris termuda, Tosin Abasi, konseptor dan komposer unit progressive metal Animals As Leaders. Pada gelaran Generation Axe, Tosin terlihat memainkan gaya yang berbeda dari para gitaris lainnya.

Selain memang kerap membawakan lagu-lagu Animals As Leaders, seperti “Tempting Time”, “Air Chrysalis”, dan “The Woven Web”, Tosin juga lebih presisi ketimbang empat gitaris lainnya. Gitarnya menghasilkan sound yang jelas, rumit, dan mekanis. Inilah hasil tingginya kemampuan teknis Tosin saat bermain gitar. Bahkan setelah membawakan lagu “Physical Education” bersama Tosin, Nuno Bettencourt pun berujar bahwa ia tak mengerti kerumitan gaya bermain Tosin.

Sebagai penampil berikutnya Nuno pun kemudian menawarkan tontonan yang berbeda. Eks gitaris band Extreme ini mengedepankan komunikasi dengan penonton dan lengkingan solo gitar. Nuno kerap berbicara pada para penonton—yang bisa ditebak sebagian besar merupakan gitaris—yang hadir di konser Generation Axe untuk terus serius bermain gitar, menjadikan dirinya sebagai contoh nyata bagaimana seseorang dapat meraih kesuksesan berbekal keuletan.

Selain pesan-pesan positif yang disampaikan Nuno, ia juga berkomunikasi lewat pilihan lagu dan permainan gitarnya. “Get the Funk Out” dan “More Than Words” sebagai hits Extreme terpopuler mampu memancing partisipasi penonton secara masif. Sementara medley solo gitar lagu-lagu Extreme memunculkan rasa berbeda dari penampilan presisi Tosin, yaitu nuansa hard rock yang sederhana dan groove gurih yang menyertainya. Nuno membungkusnya dengan solo berisi lick-lick gitar mengagumkan.

Setelah membawakan “Sideways” dari Citizen Cope bersama Nuno, kini giliran Zakk Wylde menampilkan permainan gitar khas heavy metal: cepat dan keras. Vokalis/gitaris Black Label Society ini memainkan gitar tanpa ampun. Solo gitar dan shredding adalah menu utama permainan Wylde, kali ini penonton disuguhi virtuoso heavy metal, yang banyak bersandar di groove dan lengkingan gitar, ibarat mendengarkan sound Nuno di volume maksimum.

Selain mengandalkan pendekatan heavy metal, Wylde juga memainkan set lagu-lagu ikonis seperti “N.I.B” (Black Sabbath), “Little Wing” (The Jimi Hendrix Experience), dan “War Pigs” (Black Sabbath). Lagu-lagu legendaris yang sudah akrab di telinga penonton tersebut dimaksimalkan oleh Wylde dengan memperpanjang solo gitar nomor-nomor tersebut hingga memakan durasi set-nya yang berakhir tanpa transisi.

Usai Wylde tampil, berikutnya adalah salah satu penampil yang paling ditunggu-tunggu penonton. Tepuk tangan riuh menyambut penampilan Steve Vai yang tak banyak beraksi dan bicara. Vai tampil dengan dingin dan terlihat menjiwai dari lagu ke lagu. Penampilan Vai memberikan pengalaman berbeda bagi penonton, berkebalikan dari Wylde ia justru memperdengarkan nomor-nomor rock instrumental yang mengalir.

Walau terlihat sederhana, kompleksitas permainan Vai justru terlihat dari tempo yang kerap berganti dari satu lagu ke lagu lainnya. Vai tetap dingin menjadi konduktor bagi band pengiringnya, melompat di antara tempo sedang, tinggi dan rendah dengan leluasa dan tanpa satupun bunyi fals. Vai dengan cerdik juga membaurkan garis antara solo dan total struktur lagu lewat lagu-lagu seperti “Now We Run”, “Tender Surrender”, “Gravity Storm”, dan “Building the Church”. Vai memperlihatkan keunggulan komposisinya yang mengandalkan permainan gitar sebagai motor pendorong sekaligus poros musiknya.

Tanpa transisi dan tanpa basa-basi, giliran Yngwie Malmsteen tampil di panggung. Disambut dengan sangat meriah oleh penonton, Yngwie yang pernah tampil di Jakarta pada tahun 1990 memang sudah lama tidak menyambangi Indonesia. Virtuoso asal Swedia ini memang tetap sejati pada gaya dan sound neo-classical metal yang melambungkan namanya pada dekade 80-an. Yngwie tetap bermain dengan kecepatan yang sangat tinggi dan ketepatan yang sanggup membelalakkan mata penonton. Nomor-nomor Yngwie seperti “Spellbound”, “Into Valhalla”, “Overture”, “Far Beyond the Sun”, “Trilogy” dan “Echo Etude” yang menjadi penghuni tetap setlist tur Generation Axe dibawakan dengan aksi-aksi lincah.

Yngwie pun menutup penampilannya dengan lagu “Black Star” yang dibawakan bersama Vai. Kemudian Vai, Abasi, Bettencourt dan Wylde kembali tampil bersamaan untuk membawakan nomor lawas Edgar Winter, “Frankenstein”.  Setelah rangkaian lengkingan solo “Frankenstein”, Yngwie pun kembali bergabung dan meminjamkan vokalnya di nomor legendaris Deep Purple, “Highway Star”, sekaligus menutup ajang tampilnya para virtuoso Generation Axe.

Intip juga keseruan konser Generation Axe lewat video dibawah ini:

 

0 COMMENTS

Info Terkait

supergears
686 views
superbuzz
363 views
supergears
3830 views
superbuzz
1482 views
superbuzz
5174 views