jbif 2019 d1

Main-Main ke Jakarta Blues International Festival 2019 (Hari Pertama)

  • By: NND
  • Senin, 9 December 2019
  • 511 Views
  • 6 Likes
  • 5 Shares

Bertempat di Tennis Indoor GBK Senayan, Jakarta Pusat, gelaran Jakarta Blues International Festival 2019 (JBIF 19) membuka gerbangnya tepat pukul 15.00. Usai satu jam dari open gate, penampilan pertama dibuka Kolken yang menggiringi tinggi semangat di Iconic Stage, panggung outdoor tempat penampilan sederet musisi-musisi lokal.

Selain Iconic Stage, ada juga Crossroad Stage dengan skala sajian mungil dan intim. Panggung ini mewadahi peserta One-Minute Blues Challenge (OMBC, perlombaan jamming blues online yang dimulai JBIF semenjak 15 September lalu.

Di saat bersamaan, konferensi pers pun berlangsung bersama The Calling. Alex Band sebagai frontman dan satu-satunya founding member menyatakan bahwa mereka akan memainkan sederet hits, serta beberapa lagu baru dalam set akustik hari pertama, dan penampilan full band di hari kedua.

Ia juga membocorkan materi baru yang siap meluncur tiba tahun depan, dan akan rilis secara internasional melalui labelnya, AMB Records.

“Saya segera meluncurkan materi terbaru saya, yang sudah saya susun selama 10 tahun. Hahahaha.. Saya punya 10 tahun untuk merancangnya, jadi ya... tunggu saja,” tuturnya.

The Calling

Di luar ruang konferensi pers, keseruan Iconic Stage dilanjutkan oleh aksi panggung Mahir & The Alligators yang tampil bersemangat saat hari semakin gelap. Penampilan mereka menjadi yang terakhir sebelum break Maghrib.

Sebelum menyelesaikan set-panggungnya, Bumblefoot hadir ke hadapan awak media. Mantan gitaris Guns n’ Roses itu bercerita seputar rilisan terbarunya.

“Judul album dan single terbaru saya, Little Brother Is Watching, terinspirasi dari novel kenamaan Orwell, 1984,” ungkapnya. Bumblefoot juga menjelaskan pengalamannya dengan musik blues, “Saya besar di era 70-an dengan musik  era 70-an juga. Di era itu, gitar blues sangat mendominasi!”

Bumblefoot

Usai break, panggung Vintage Stage dan pengunjung serentak memenuhi area. Suasana sejuk di dalam terasa pas ketika The Calling naik panggung. Pada penampilan hari pertamanya, mereka memainkan set akustik yang intim. Penonton disihir gelombang nostalgia trek-trek andalan grup pop rock asal Amerika itu.

Sebelum set The Calling ditutup, Iconic Stage kembali berkoar. Langit gelap menjadi saksi bahwa umur tua tak bukan jaminan melempem di atas panggung, begitulah The Rollies. Dibantu beberapa anak muda berbakat, The Rollies melepas aksi-aksi cadas dengan melodi otentik.

Sempat ditemui sebelum penampilannya, mereka bercerita kepada SUPERMUSIC terkait karir panjangnya, “Dekade 70-an menjadi dekade yang sangat berarti. Kami sering tur ke luar negeri, dan di luar sana banyak sekali yang menantikan aksi kita!”

Kembali ke ruang konferensi pers, nama paling ditunggu-tunggu pun hadir. Paul Gilbert pun hadir lengkap dengan tuxedo. Saat ditanya siapa musisi Indonesia favoritnya, dengan bangga ia menjawab, “Musisi paling favorit saya berasal dari negara kalian! Eddie Van Halen! Ibunya itu orang Indonesia!”

Selain itu, Paul juga mengkonfirmasi rumor terkait kisahnya yang meminta panggung bersama Ozzy saat berusia 15 tahun pada kepala labelnya, dan ditolak mentah-mentah. Ia juga menepis kabar terkait penyusunan album terakhir Mr. Big sebelum bubar.

“Tidak ada album baru dari Mr. Big,” katanya.

Paul Gilbert

Setelah sesepuh musik The Rollies turun dari Iconic StageVintage Stage kembali kembali bersorak. Kali ini, Bumblefoot yang berbekal gitar 12 senar (double-neck), ia menggelar masterclass yang memukau. Berbagai ilmu yang ditumpahkan kerap dibalas kekaguman pengunjung.

Ketika semua hendak menyerap ilmu Bumblefoot, ada legenda musik yang masuk ke ruang konferensi pers. Berbeda dengan Paul, gitaris ini berasal dari Inggris: Ken Hensley, mantan personil grup Uriah Heep yang melegenda, akhirnya hadir.

“Saya di sini untuk menjawab semua pertanyaan kalian. Silahkan tanya apa saja—sex, drugs, and everything!” sahutnya bergurau. Dalam sesi wawancara itu, ia menceritakan pengalamannya sebagai penulis lagu dan membocorkan set-nya di JBIF 2019.

“Di hari pertama, saya akan tampil bersama band saya dan memberikan sajian lagu-lagu favorit kalian dan beberapa lagu baru. Semua orang punya lagi favorit, saya akan coba memberikan itu, tapi saya juga ingin memperkenalkan beberapa materi baru saya,” ujar Hensley.

Ia melanjutkan bahwa di gelaran hari kedua, dia akan memberikan set solo yang menampilkan betul bagaimana sebuah lagu itu dibawakan secara intim dan mirip prosesnya saat menulis lagu-lagu tersebut.

Bumblefoot

Paul Gilbert

Sesi Masterclass kembali dilanjutkan dan sekarang giliran Paul Gilbert. Teknik picking kilat khas hingga jilatan blues yang genit, semua ia paparkan. Pengunjung pun antusias mengulik aksinya, semua pasang mata tertuju pada gitar Gilbert dan sang rockstar melepas tiap nada dengan megah.

Sementara itu, pengunjung dari Vintage Stage langsung disuguhi blues ganas Arya Novanda, penampil terakhir Iconic Stage. Tampil dengan bandnya, Arya menyayat gitar secara galak—memuntahkan lick blues nan kasar dan nikmat.

Arya Novanda

Keseruan tak hanya di sana, Crossroad Stage, yang sebelumnya diisi oleh Anov Blues One dan Gina & The Blue Rays, kembali digenjot oleh set sangat hangat What The Funk dan gemuruh rock Black Horses. Satria & The Monster didaulat sebagai penampil terakhir hari pertama di Crossroad Stage. Jajaran penampil tersebut membuat malam minggu di JBIF 2019 menjadi pengalaman yang sangat berkesan.

Sebagai aksi-aksi pamungkas di hari pertama, Adrian Adioetomo melepas set intim dan hangat di atas Iconic Stage. Delta blues mengalir deras dari gitar baja miliknya. Uniknya, ada rendisi ulang dari trek kenamaan grup punk/rockabilly Social Distortion, yakni “Story of My Life” yang dibawakan di aksinya itu. Tentu, Adrian menyulap trek tersebut menjadi sebuah nomor blues yang kaya akan improvisasi.

Adrian Adioetomo

Ken Hensley

Usai turun panggung untuk mengemas hari pertama JBIF, kami menemui Adrian untuk sesi wawancara. Melaluinya, ia menyatakan akan ada rilisan baru di tahun 2020 besok. “Sebetulnya saya harusnya ngeluarin album akhir tahun ini, tapi karena satu dan lain hal jadi tertunda. Albumnya akan menjaduh dari delta blues standar yang biasa saya mainkan,” ungkapnya.

Adapula aksi yang ditunggu-tunggu, Ken Hensley & Live Fire menjajah Vintage Stage. Duduk di balik kibor bergantian dengan gitar, Ken melahap semua telinga dengan permainan intens yang kerap diisi kebebasan improvisasi. Kepaduan dengan bandnya sudah pakem, dan penonton pun disuguhi hiburan tak terlupakan. Tak lupa juga teriakan solo Ken sembari membawakan sejumlah lagu-lagu lawas Uriah Heap, serta beberapa materi baru yang menjadi sajian pas untuk menutup hari pertama JBIF 2019

Penasaran keseruan hari keduanya? Pantau terus SUPERMUSIC, and keep the blues on!

1 COMMENTS
  • cimoloriginal@gmail.com

    Wiw

Info Terkait

superbuzz
69 views
superbuzz
242 views
superbuzz
381 views