Parkinsound

Parkinsound, Festival Musik Elektronik Bersejarah dari Yogyakarta

  • By: NND
  • Kamis, 26 December 2019
  • 704 Views
  • 5 Likes
  • 4 Shares

Festival musik elektronik tengah marak digelar dalam kurun waktu beberapa tahun terakhir di Indonesia. Geliat perkembangan musik tersebut menghasilkan pasar yang luas dan kemudian muncul demand deras. Sekarang, musik elektronik pun sudah turut merambah, bahkan menjajah, kancah tangga lagu arus utama. Tak aneh, festival menjadi gelaran yang selalu dinantikan.

Sejarah festival musik elektronik di Indonesia masih berusia muda. Saat melacak sejarahnya, kita perlu menarik garis mundur ke Jogja di akhir 90-an.

Kala itu, wajah kancah elektronik belum seperti dewasa ini. Keterbatasan referensi dan alat membuatnya dianggap asing. Salah satu faktornya adalah kehadiran awalnya dalam wujud seni garda depan yang sangat eksperimental. Berada di segmen pendengar yang sangat kuat dan sempit, periode awal musik elektronik Indonesia cukup eksklusif.

Keruntuhan pemerintahan presiden Soeharto menjadi pemantik meledaknya gerakan kreatif masif revolusioner yang menumpuk di Jogja. “Kebebasan” baru yang dirasakan seluruh anak muda pun menghasilkan ombak perubahan yang baru.

Jogja, yang dikenal sebagai kota pendidikan, kaya budaya dan seni, mampu melahirkan festival musik elektronik pertama di Indonesia. Setelah pelajar melengserkan Soeharto, Parkinsound pertama pun digelar, mayoritas dikepalai oleh muka-muka di Forum Musik Fisipol UGM.

Berawal dari ketertarikan menyelami musik elektronik, beberapa remaja mulai berkumpul dan membentuk kesatuan. Contohnya Kill the DJ, atau Marzuki Mohamad dan beberapa kawan yang mendirikan Performance Fucktory di Jogja pada 1997. Pada Tirto.id, Marzuki menyatakan bahwa, “... Waktu itu elektronika belum seperti sekarang yang dikuasai EDM dan nge-pop. Waktu itu banyak turunan genre yang eksploratif dan liar.”

Berdirinya Performance Fucktory menjadi salah satu pilar dari kelahiran Parkinsound. Bersama dengan kepala Lembaga Indonesia Perancis (sekarang dikenal sebagai Institut Francais Indonesia, atau IFI), festival itu digelar di area gedungnya. Rentetan penampil dan musik yang hadir di festival tersebut jauh berbeda dengan yang biasa dijumpai dalam festival musik elektronik di kota-kota besar seperti Jakarta dan Bali.

Parkindsound berhasil menjalar hingga empat edisi, dan manggaet penampilan unik Teknoshit, Performance Fucktory, Melancholic Bitch, Homogenic, hingga Koil. Tampak perpaduan elektronik yang masih bersilang dengan beberapa genre lain. Saat itu, spektrum elektronik berhasil keluar dan dinikmati publik luas di festival ini dalam bentuk yang cukup jujur: eksplorasi dan eksperimentasi.

Parkinsound menjadi ruang eksperimentasi yang cukup one-of-a-kind pada zamannya. Meski begitu, tak berarti acara tersebut tidak dinikmati hadirinnya. Terbukti bahwa tiap tahunnya, festival ini “naik kelas”. Seiring perjalanannya, venue juga makin mumpuni dan tiap tahunnya jumlah kepala yang hadir terus meningkat.

Di tahun-tahun akhirnya, festival bersejarah ini sudah pernah menikmati gelaran di salah satu stadion kota Jogja. Angka pengunjung pun berhasil mencakar angka yang mengejutkan: hingga 4.000 pengunjung yang meramaikan gelaran keempat dan terakhirnya.

Dari data-data yang memukau ini, Parkinsound tidak dipangkas dari unsur “eksplorasi dan eksperimentasi”-nya. Merujuk buku Musical Worlds in Yogyakarta karya Max Ritcher, yaitu liputannya di edisi ketiga, gelaran ini menampilkan musik yang cukup intens tapi tetap berbeda dengan rave party yang wajar di dunia barat.

“Yang paling menarik dari 18 grup yang tampil adalah, ketimbang kebanyakan musik dan penampilan techno di Barat, mereka menampilkan praktik sampling, drum machine, dan dj scratching yang dipadukan dengan musisi-musisi yang memainkan instrumen umum,” tulis Ritcher.

Adapula penonton yang menyikapi musik “kencang” dengan baik. Bergoyang menjadi katarsis merayakan musik, meski harus terlebih dahulu dipancing penyelenggara acara. Ritcher pun mencatat ada beberapa yang menikmati musik-musik eksperimental tersebut dengan budaya dan tradisi lokal seperti jathilan, yang praktiknya di Parkinsound mengundang ketertarikan, bahkan hiburan, bagi pengunjung lain.

Parkinsound hanya digelar sebanyak empat kali. Panggung terakhirnya berlangsung pada tahun 2004. Bukan tak mau melanjutkan semangatnya, Marzuki menjelaskan bahwa sebagai seniman, mereka ingin fokus menciptakan karya seni ketimbang terjun ke dalam dunia penyajiannya—atau dunia event promotor.

Lepas dari itu, Parkinsound, hingga sekarang masih menjadi cetak biru yang harus diingat saat membicarakan kiprah festival musik elektronik nasional. Kehadirannya mampu menjadi gambaran segar dari perpaduan budaya yang tentunya menarik untuk ditelusuri.

0 COMMENTS

Info Terkait

supericon
22 views
superbuzz
42 views
superbuzz
228 views
supericon
251 views
superbuzz
474 views